Parikesit, Raja Muda Hastinapura
CERICIT suara burung di pagi itu terasa merdu terdengar, ditingkah segarnya embun yang menetes di dedaunan. Keceriaan suasana pagi itu di taman istana Hastinapura, menjadi latar percakapan Prabu Kalimataya gelar Yudistira sebagai raja mewakili tampuk kepemimpinan Parikesit yang masih belia, dengan Resi Balarama gelar kapanditan Baladewa dan Arjuna.
Kalimataya: Yayi Arjuna, apalagi yang membuatmu masgul untuk mempersiapkan Parikesit cucu kita menjadi Raja Hastinapura...?
Arjuna: Duh Kakaprabu, hamba tidak hendak mengulangi kisah lama tentang perebutan kekuasaan. Memang cucu-cucu kita masih belia..namun hamba sadar, sesungguhnya dari garis keturunan ananda Pancakusuma putra Pancawala ..ya cucu paduka..lebih berhak untuk menjadi raja...apakah hal ini tidak menjadi sandungan bagi Parikesit cucu hamba kanda...
Kalimataya: Hmm...Arjuna, ini kisah klasik tentang rebutan kekuasaan...kekuasaan itu memang menggiurkan dan nikmat, tapi tahukah kita tanggung jawab dan amanah di dalamnya? Oo betapa berat sanggannya, dan betapa hebat azabnya jika itu diingkari...
Balarama: Kalau kita mau menghentikan perebutan kekuasaan ini, perlukah Pancakusuma mengucapkan sumpah wadat seperti Eyang Bisma? Bukankah sejarah membuktikan itu tidak berarti apa-apa...
Kalimataya: Benar kakang Resi Balarama...karena itu biarlah semua mengalir, alam akan mengaturnya sendiri...kita mempersiapkan Parikesit bukan karena pilih kasih..Ingatlah, dari semua anak-anak Pandawa, Abimanyulah yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat, dan dengan gugurnya Abimanyu wahyu itu telah menyatu ke dalam jiwa raga Parikesit, karena itulah saat bayipun dia sudah bisa melindungi dirinya sendiri dengan membunuh Aswatama lewat tendangannya yang membuat keris Pulanggeni bersarang di jantung sang durjana...
Resi Balarama dan Arjuna akhirnya dapat menerima keputusan bulat Prabu Kalimataya untuk mempersiapkan Parikesit sebagai calon raja Hastinapura. Resi Balarama ditunjuk sebagai guru utama dalam olah kanuragan sang calon raja, sedangkan Arjuna mendampingi sang resi mempersiapkan cucunya dengan ilmu penggunaan senjata dan taktik perang.
Syahdan di Kasatriyan Indraprasta raden Pancakusuma putra Pancawala sedang menerima hasutan Kertiwindu anak Sengkuni. Darah kotor Sangkuni mengalir deras pada Kertiwindu yang kerjanya suka bikin fitnah dan adu domba. Ia mempengaruhi Pancakusuma, cucu Yudistira, untuk berbuat makar, menggagalkan penobatan Parikesit, dan merebut tahta kerajaan.
Kertiwindu: Sudahlah Pancakusuma, apalagi yang membebani pikiranmu? Jelas ini tidak adil, kamulah pewaris tahta yang sesungguhnya. Orang-orang tua itu memang pilih kasih...lihatlah untuk mengamankan Parikesit, jangan-jangan kamu nanti juga disuruh sumpah wadat seperti eyang Bisma...weee la blaik...jian sengsara nian, ngga boleh dekat-dekat cewek cantik...kojur kamu...
Pancakusuma: Aah paman Kertiwindu..jangan begitu paman, Eyang prabu Kalimataya sudah dawuh bahwa dimas Parikesit itu pemegang wahyu cakraningrat, sudah selayaknya dia yang menjadi raja...
Kertiwindu: Halah alasan....wahyu yang tidak kelihatan kok dibawa-bawa..itu a..la...san..jangan bodoh kamu...buktinya apa? Coba jawab?
Pancakusuma: Sudahlah paman Kertiwindu, kita ikuti saja dawuh para sesepuh, tentu ada maksudnya mereka memilih adimas Parikesit dibandingkan saya...
Kertiwindu tidak patah semangat untuk mengobarkan pemberontakan, dengan hasutan-hasutan liciknya dia mulai bergerilya di bawah tanah dengan menghasut raja-raja jajahan, menyemangati mereka untuk makar terhadap Parikesit dan memunculkan nama Pancakusuma sebagai calon pemimpin mereka. Akhirnya karena desakan dari para raja jajahan yang sudah dimobilisir Kertiwindu, Pancakusuma pun goyah, dan mulai berpikir untuk meminta haknya sebagai turunan langsung raja Hastinapura.
Bergabung dengan Raja kerajaan Trajutrisna yang bernama Prabu Sawarka, anak dari Boma Narakasura yang berarti cucu Sri Kresna, Pancakusuma mulai membuat ontran-ontran dengan dimotori Kertiwindu, Danyang Suwela anak Aswatama dan Dursasubala anak Dursala cucu Dursasana. Keonaran ini coba dipadamkan oleh Parikesit yang didampingi oleh Bambangkaca anak Gatotkaca, Danurwenda anak Antareja, Jayasena anak Antasena dan Arya Setyaka anak Setyaki.
Pertempuran hebat terjadi antara pasukan pemberontak dengan para prajurit Hastinapura yang setia pada putra mahkota Parikesit.
Sawarka berhadapan dengan Jayasena, kesaktian mereka seimbang, kekuatan Sawarka mendapat tandingan kegesitan Jayasena yang seperti ayahnya bisa ambles bumi. Pada suatu kesempatan dengan raungan kemarahan yang hebat, Sarwaka menghantamkan gadanya ke tubuh Jayasena, tubuh Jayasena terpelanting langsung ambles bumi. Sarwaka tertawa terbahak-bahak mengira Jayasena hancur oleh gadanya..tiba-tiba tubuh Jayasena melenting dari dalam tanah, dan dalam sepersekian detik, Sarwaka yang menganga terkejut terkena tamparan tangan Jayasena tepat di pelipisnya hingga retak dan tewas seketika.
Danyang Suwela berhadapan dengan Arya Setyaka, perkelahian di antara keduanya banyak diwarnai tangan kosong yang penuh dengan aji-aji kesaktian. Emosi Danyang Suwela yang meledak-ledak karena dendam kematian ayahnya mendapat tandingan Arya Satyaka yang lebih tenang sampai akhirnya Danyang Suwela kehabisan nafas dan terbunuh oleh tendangan dahsyat Arya Satyaka. Kematian kedua sekutunya membuat Dursasubala mendekati Kertiwindu, mereka berdua sepakat untuk mendampingi Pancakusuma dan berniat membokong Parikesit untuk kemenangan curang Pancakusuma.
Saat itu adu keris antara Pancakusuma dengan Parikesit berlangsung dengan seru. Pancakusuma terus mencecar Parikesit dengan jurus-jurus pilihannya...Parikesit keteter, terlebih karena keraguannya menghadapi saudara tua yang dihormatinya...pada suatu kesempatan sebenarnya Parikesit dapat menusukkan keris ke ketiak Pancakusuma, tapi keraguannya membuat gerakannya tertahan ...di saat itulah Kertiwindu dan Dursasubala menghujani Parikesit dengan paku-paku beracun yang dibidikkan dari semak-semak...Arjuna yang terus mengawasi pertempuran cucunya terkejut dengan kecurangan itu, sigap disibakkannya tangan saktinya menghalau paku-2 beracun itu dan segera ditangkapnya tubuh Parikesit untuk diselamatkannya menjauh dari medan pertempuran.
Sibakan tangan Arjuna membuat satu paku beracun menancap di pundak Pancakusuma...Pancakusuma pingsan oleh upas (racun) paku itu. Di saat itulah Kertiwindu dan Dursasubala keluar dari persembunyiannya...
Kertiwindu: Wah kojur...ngapain paman Arjuna ikut-ikut di medan pertempuran ini...gagal deh rencana kita...padahal tadi sudah bagus sekali, Parikesit pasti mati kalau tidak disambar eyangnya...
Dursasubala: Hem...tampaknya para Pandawa masih terus mengamat-amati Parikesit Paman...ayo kita selamatkan Pancakusuma, aku bawa obat penawarnya...kita obati dan kita ajak ngluruk membunuh Parikesit...
Kertiwindu: Ups...tunggu dulu...bodoh kamu ini, ngapain diselamatkan...dia khan keturunan Pandawa juga...
Dursasubala: Lho...bagaimana sih paman? Bukannya Pancakusuma itu pimpinan kita, khan kita gadang-gadang dia untuk jadi raja Hastinapura menggantikan Parikesit...
Kertiwindu: Hadiew...bodohnya kamu...itu khan cuma siasat, bukan itu tujuannya...ayo mumpung dia pingsan, kita bunuh saja dia...
Dursasubala: Wah paman...berarti kita mengkhianati Pancakusuma dong...dia khan sekutu kita...wah..wah...bingung aku..
Kertiwindu: Aduuuh anak ini bodoh benar...dalam perang mencapai tujuan itu ngga ada sekutu yang hakiki...sudahlah kita bunuh saja dia, nanti kita cari lagi pemimpin yang pas...bisa jadi malah kamu lho yang aku angkat jadi pemimpin, masa nolak...
Hasutan-hasutan Kertiwindu ini, terdengar gamblang oleh Danurwenda yang sedang mendekat area tersebut, dan Pancakusuma yang siuman dari pingsannya. Kemarahan Danurwenda meledak melihat kelicikan Kertiwindu, saat dia melihat Dursasubala siap menikamkan kerisnya ke badan Pancakusuma, ditendangnya tubuh Dursasubala...mereka berdua terlibat perkelahian yang seru, namun akhirnya Dursasubala tewas di tangan Danurwenda yang memang lebih sakti.
Sementara itu, Pancakusuma sudah siuman sepenuhnya dari pingsannya, dengan mata memancarkan kemarahan, dia hadapi Kertiwindu. Walaupun pundak Pancakusuma masih terasa kaku namun kesaktian Pancakusuma masih di atas Kertiwindu yang hanya ahli dalam memutar lidah. Akhirnya Pancakusuma berhasil menewaskan Kertiwindu.
Ontran-ontran Pancakusuma berhasil dipadamkan, setelah Parikesit dan Pancakusuma pulih dari kesehatannya, maka upacara Parikesit jumeneng nata segera dilaksanakan. Parikesit diajari sifat berbudi bawa leksana sebagai raja Hastinapura. Berbudi diartikan ’ikhlas berkorban dan melakukan kebaikan untuk rakyat’, seorang raja harus mementingkan kepentingan rakyat dan golongan yang lebih besar dibandingkan kepentingannya sendiri atau golongannya.
Bawa leksana berarti ’amanah dan menepati janji'. Seorang raja akan mendapatkan kesetiaan dan rasa hormat dari rakyatnya kalau ada satunya perkataan dan perbuatan. Seorang raja yang sudah cidera dalam janji akan kehilangan kepercayaan dari rakyat dan pada gilirannya hilanglah pula rasa hormat, pada saat seperti itu sebenarnya wibawa sang raja sudah jatuh tak ada lagi martabatnya.
Sebagai pemimpin, ia juga harus memayu hayuning bawana yaitu mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia. Sebagai Raja Hastinapura Parikesit didampingi oleh Pancakusuma sebagai penasehat, dengan patih-patih Danurwenda sebagai pepatih yang menguasai Pertahanan negara, Arya Setyaka pepatih untuk tata negara, Bambangkaca pepatih kesejahteraan rakyat dan Jayasena Pepatih hubungan dengan negara-negara tetangga.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


