Membela Kedaulatan Matsya
KEMATIAN Kicaka membuat rakyat Matsya takut pada Drupadi. Kata mereka: "Perempuan ini memang sangat cantik hingga orang-orang pun tertarik kepadanya. Tetapi ia sangat berbahaya karena para raksasa menjaganya. Ia bisa membahayakan penduduk kota dan penghuni istana. Para raksasa itu pasti bisa membunuh siapa saja yang dilaporkan mengganggu perempuan itu." Karena itu, rakyat menghadap Sudesha dan memohon supaya Drupadi diusir dari negeri mereka.
Sudesha memanggil Drupadi dan berkata: "Engkau memang wanita yang berbudi luhur. Tapi kuharap engkau segera meninggalkan istana dan negeri ini. Kami sudah cukup menerima kebaikanmu."
Masa penyamaran tinggal satu bulan lagi. Drupadi memohon supaya diizinkan untuk tinggal sebulan lagi. Sebulan lagi suami-suaminya akan menyelesaikan tugas mereka dan akan menjemputnya. Mereka akan sangat berterima kasih kepada Raja Wirata dan Matsya. Jika Drupadi diusir, mungkin saja mereka akan mengamuk dan mengobrak-abrik Matsya. Mendengar penuturan Drupadi, Sudesha tidak berani menolak permintaan Drupadi.
Sejak awal tahun ketiga belas, Duryudana telah menyebarkan mata-mata ke mana-mana. Mereka mencoba melacak para Pandawa dalam penyamaran mereka. Setelah berbulan-bulan melakukan pelacakan, mereka kembali kepada Duryudana dan melaporkan kegagalan mereka. Kata mereka mungkin para Pandawa sudah mati karena kelaparan. Pada suatu hari, terdengarlah kabar tentang kematian Kicaka, mahasenapati Matsya, dalam pertarungan melawan raksasa, gara-gara seorang wanita. Hanya ada dua orang yang bisa membunuh Kicaka dan Bima adalah salah satunya. Mereka curiga wanita yang mnenyebabkan kematian Kicaka itu adalah Drupadi. Ia ungkapkan kecurigaannya dalam pertemuan para raja sahabat Kurawa.
"Aku curiga para Pandawa berada di ibu kota Wirata. Kalian tahu Wirata menolak menjalin persahabatan dengan kita. Mungkin, baik jika kita menyerang dan merebut ternak mereka. Jika para Pandawa memang benar bersembunyi di sana, mereka pasti akan muncul dan membantu pasukan Wirata untuk membalas budi. Jika kita bisa memergoki penyamaran mereka sebelum tahun ketiga belas habis, mereka harus menjalani masa pengasingan di hutan selama dua belas tahun lagi. Di sisi lain, jika mereka tidak di sana, kita pun tidak rugi."
Susarma, Raja Trigata, mendukung usulan Duryudana dengan senang hati. Katanya: "Raja Matsya adalah musuhku. Kicaka, sang mahasenapati, banyak membuat masalah dengan kerajaan kami. Kematian Kicaka pasti sangat mengurangi kekuatan Matsya. Biarkan kami yang menyerang mereka."
Karna mendukung usul Susarma. Akhirnya pertemuan itu memutuskan Susarma akan menyerang dari selatan dan memaksa Matsya mengerahkan pasukan ke selatan. Sementara itu, Duryudana dengan pasukan Kurawa akan menyerang dari utara, yang penjagaannya pasti berkurang.
Susarma menyerang Matsya dari selatan, merebut ternak, merusak, dan menghancurkan lahan pertanian yang dilewatinya. Para pengembala lari tunggang langgang mencari perlindungan pada raja. Raja Wirata kebingungan karena Kicaka sudah tiada. Seandainya masih hidup, Kicaka pasti akan menghalau mereka dengan mudah. Demikian kata Raja Wirata kepada Kangka (nama samaran Yudhistira di istana Wirata).
Kata Kangka kepada Wirata: "Tuanku raja tidak perlu khawatir. Meskipun hanya seorang petapa, aku ahli perang. Aku akan berperang untuk mengusir musuh-musuh Tuanku Raja. Jika Tuanku berkenan perintahkanlah Walala, juru masak istana, Dharmagranti, si tukang kuda, Tantripala, si gembala sapi, untuk membantu menghadapi musuh. Kudengar mereka pernah menjadi kesatria perang. Sudilah Tuanku Raja memberikan mereka kereta kuda dan senjata yang pantas."
Wirata menyetujui usulan Kangka. Kereta kuda segera dipersiapkan. Para Pandawa, kecuali Arjuna, segera bergabung dengan pasukan Wirata untuk bertempur melawan pasukan Susarma.
Maka terjadilah pertempuran yang hebat. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Susarma menyerang dan mengepung Wirata. Wirata dipaksa meninggalkan kereta kuda dan akhirnya ditangkap musuh. Karena raja mereka ditawan, pasukan Wirata menjadi takut dan mulai kocar-kacir. Yudhistira segera memerintahkan Bima untuk menyerang Susarma, melepaskan Wirata dan menggalang kembali pasukan Wirata.
Mendengar perintah itu, Bima segera bersiap untuk mencabut sebatang pohon besar untuk dijadikan senjata. Tapi Yudhistira segera menghentikan Bima. Katanya: "Jangan berbuat demikian! Jangan berteriak-teriak dalam pertempuran ini atau penyamaran kita akan terbongkar. Bertempurlah seperti orang biasa, sebagai prajurit biasa yang naik kereta dan bersenjata tombak dan panah."
Patuh pada perintah kakaknya, Bima segera naik kereta kuda. Ia serang Susarma. Ia berhasil melepaskan Wirata dan menawan Susarma. Seperti mendapat angin segar, pasukan Wirata yang semula kacau-balau kembali menyusun formasi dan mengalahkan pasukan Susarma.
Rakyat Matsya bersuka ria ketika mendengar kabar kekalahan Susarma. Mereka segera menghias kota untuk menyambut kemenangan raja mereka.
Ketika penduduk kota sedang sibuk menyiapkan penyambutan untuk Raja Wirata yang kembali dari medan pertempuran, datang kabar bahwa Duryudana bersama pasukannya menyerang dari utara. Mereka menyerang dan merampas ternak di daerah perbatasan. Mereka berhasil merampas sejumlah besar sapi yang ada di daerah utara. Kepala pengembara melarikan diri ke ibu kota dan memohon pertolongan kepada Pangeran Uttara:
"Pangeran, bala tentara Kurawa menyerbu dari utara dan merebut hewan ternak kami. Raja Wirata sedang pergi ke selatan untuk mengusir bala tentara Kerajaan Trigata. Kami tidak tahu lagi ke mana kami harus mengadu. Engkau adalah putra raja dan kepadamulah kami mengadu dan memohon perlindungan. Pulihkan kedaulatan Negeri Matsya demi kehormatan keluarga Pangeran."
Ketika kepala pengembala itu menghadap dan mohon perlindungan, Uttara sedang bersama banyak orang, terutama putri-putri istana. Mendengar itu, darah muda Uttara langsung menggelegak dan berkata dengan sombong: "Kalau saja ada seorang sais andal, aku akan usir mereka sendirian, Aku akan rebut kembali ternak yang mereka rampas. Aku punya kesempatan untuk menunjukkan kemahiran olah senjataku. Dan orang-orang akan tahu kalau aku bisa disamakan dengan Arjuna."
Waktu itu Drupadi sedang berada di kamar Ratu Sudesha. Ia pasti tertawa dalam hati ketika mendengar kata-kata Uttara. Ia segera keluar dan menemui Putri Uttari dan berkata: "Tuanku Putri Uttari, bahaya besar sedang mengancam negeri. Para gembala melaporkan pada pangeran bahwa pasukan Kurawa sedang merangsek maju menuju ibu kota dari utara. Mereka sedang merampasi ternak di wilayah perbatasan. Pangeran akan melawan mereka dan membutuhkan seorang sais kereta. Ketika menjadi pelayan di Indraprasta, aku mendengar ia pernah menjadi sais kereta Arjuna. Jika pangeran tidak bisa mendapatkan sais kereta yang andal, panggil saja Brihannala."
Uttari segera menemui saudaranya dan berkata: "Aku dengar dari Sairandri dulu Brihannala adalah sais kereta yang andal. Ia pernah menjadi sais kereta Arjuna dan belajar banyak dari pahlawan Pandawa itu. Panggillah dia dan majulah ke medan perang bersamanya. Selamatkan negeri kita dan bawalah kemenangan."
Pangeran Uttara setuju dengan usul Uttari. Uttari segera berlari ke sanggar tari dan meminta Brihannala (nama samaran Arjuna) untuk menjadi sais kereta saudaranya.
Kata Uttari: "Bala tentara Kurawa merampasi harta benda dan ternak ayahku. Mereka mengambil kesempatan ketika ayahku sedang pergi berperang. Kata Sairandri kau pernah menjadi sais kereta Arjuna dan dikenal sebagai sais yang andal. Pergilah dan kendalikan kereta kuda saudaraku --jangan takut, saudaraku akan melindungimu!"
Arjuna pura-pura merasa ragu dan malu untuk menerima tugas itu, tetapi akhirnya ia setuju untuk menemani pangeran. Ia juga berpura-pura lupa cara mengenakan pakaian perang dan membuat dirinya menjadi bahan tertawaan karena kecanggungannya. Para wanita yang ada di istana tertawa melihat Brihannala ketakutan. Mereka menasihati Brihannala tidak perlu takut karena Pangeran Uttara akan melindunginya. Selama beberapa saat, Arjuna membuat dirinya menjadi bahan tertawaan orang-orang. Tetapi ketika sudah memegang kendali kereta, tampak bahwa kuda suka dan patuh kepadanya.
"Pangeran pasti akan menang. Kami akan rampas jubah-jubah mereka dan kami akan persembahkan itu semua sebagai tanda kemenangan." Setelah berkata demikian, ia segera memacu kereta kuda itu secepat-cepatnya ke medan perang.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


