Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Pandawa Moksa

Sabtu, 21 Februari 2015

HARI masih pagi, ketika rajamuda Parikesit dipanggil oleh eyangnya Prabu Kalimataya yang saat itu sudah berkumpul dengan seluruh keluarga Pandawa.

Kalimataya: Cucunda Parikesit, bagaimana keadaanmu kaki?

Parikesit: Sembah pangabekti Eyang...berkat bimbingan dan dukungan doa para eyang, cucunda baik-baik saja...para pepatih dalem, ya saudara-saudara tua saya Danurwenda, Bambangkaca, Aryasetyaka dan Jayasena..sangat guyub membantu cucunda menjalankan pemerintahan di Hastinapura Eyang...

Kalimataya: Syukurlah kalau begitu cucuku. Parikesit, ketahuilah Eyang berlima bersama eyang putrimu Drupadi mau pamit Ngger...

Parikesit: Lho? Eyang mau ke mana...mengapa tidak tinggal saja di keraton Indraprastha ini dengan tenang Eyang...

Kalimataya: Tidak cucuku...sudah saatnya Eyang berenam menyempurnakan diri. Tidak baik bagimu menjadi raja gung binatara tetapi masih dibayang-bayangi kebesaran para eyangmu. Sebagai raja negeri ini, engkau harus membuat sejarahmu sendiri Parikesit. Eyang lega lila dan ikhlas akan meninggalkan keduniawian...Insya Allah kami bisa moksa menuju Swargaloka...jikapun tujuan kami itu gagal, paling tidak kami sudah mencoba untuk mencapai jalan ke sana...

Walau dengan berat hati akhirnya Parikesit melepas para eyangnya memulai perjalanan menuju pegunungan Himalaya. Yudistira bersama istrinya Drupadi dan keempat adiknya mengundurkan diri dari urusan duniawi. Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat keterikatan untuk melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi Bharatawarsha lalu menuju puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya, Yudistira menemukan anjing dan kemudian hewan tersebut menjdi pendamping perjalanan Pandawa yang setia.

Tak berapa lama Drupadi terjatuh, badannya lemah sekali. Hawa gunung Himalaya yang dingin dan sulitnya jalur pendakian membuat Drupadi kehabisan tenaga.

Drupadi: Aaa...duuh, Kakaprabu...hamba tak kuat lagi...nafasku sesak kanda.

Yudistira segera merangkul tubuh istrinya yang terasa mulai dingin, pandangan mata Drupadi makin meredup.

Yudistira: Duh yayi Drupadi...apakah engkau akan meninggalkan aku yayi...

Drupadi (terbata-bata menitikkan airmata): Ma..ma af kan aku suamiku...sepertinya, kelemahan jiwaku yang selalu merasa benar sendiri..dan...dan...tidak pernah ikhlas melihatmu yang terlalu sabar...ser ta..eh..dendamku saat dipermalukan Dursasana...telah menjerat langkahku...suamiku...ikhlaskan aku, ting tinggalkan aku di sini...kelak jemput aku menuju swargaloka.

Drupadi meninggal di pangkuan Yudhistira. Yudhistira menahan rasa sedihnya dan meninggalkan jenazah istri tercintanya melanjutkan perjalanan.

Gunung Himalaya memang ganas, tak puas membunuh Drupadi, kini Sadewa jatuh tersungkur kelelahan.

Yudistira: Oo, Sadewa...mengapa engkau Dimas...

Sadewa: Ha...hamba tak kuat kanda...ss...sudahlah tinggalkan saja hamba...

Yudistira: Adikku sayang, apa yang sedang kau angankan hingga tujuan sampai di puncak gunung, gagal engkau tempuh.

Sadewa: Duh Kanda...ampuni aku...dalam kediamanku, sesungguhnya tersimpan kemegahan diri aku selalu merasa paling pandai, paling cerdas ..Oo Dewata Agung, inilah jerat langkahku kanda. Tinggalkan saja dinda..lanjutkan perjalanan kanda.

Yudhistira hanya menghela napas melihat adiknya meninggal.

Belum lama mereka mendaki, setelah Sadewa meninggal kemudian disusul oleh Nakula. Bima dan Arjuna sangat terpukul dengan kematian adik-adiknya, mereka bertanya kepada Yudhistira mengapa adik-adik yang mereka sayangi kini meninggal? Yudhistira yang menahan sedih berkata bahwa Nakula meninggal karena dia merasa paling cakap dan paling tampan. Masih dalam kesedihan yang mendalam Arjuna berjalan sempoyongan dan berkata kepada kakak-kakaknya untuk melanjutkan perjalanan tanpanya.

Arjuna: Duh kanda, tak dapat dinda sembunyikan...kali ini kepongahanku akan kesaktian dan kecakapanku, adalah jerat dosa yang menggagalkan aku terus mendampingimu.

Bima: Hoi Jlamprong jangan manja seperti perempuan...tidak mungkin baru sampai di sini kamu sudah tidak kuat...ayo, keluarkan kesaktianmu..kamu pasti mampu bersama aku dan kakang Yudistira sampai ke puncak...ayo Jlamprong.

Bima yang sangat bangga dan menyayangi Arjuna berusaha memompa semangat adiknya...tapi Arjuna benar-benar lemah tak bertenaga, wajahnya sayu dan kusut.

Arjuna: Maafkan adikmu yang lemah ini kanda...sudah saatnya aku menyusul istri dan anak-anakku...aku sangat merindukan mereka...

Yudistira: Akankah kau tinggalkan kami dimas Arjuna...?

Arjuna: Ma...maafkan..a..aku.

Arjuna Kemudian meninggal. Arjuna meninggal karena merasa yang paling sakti, tidak ada yang bisa menandinginya.

Yudhistira, Bima dan anjing masih terus melanjutkan perjalanan. Mendekati puncak Himalaya tiba-tiba Bima terjatuh, nafasnya berat, kemudian Bimapun akhirnya meninggal. Bima meninggal karena merasa dialah yang paling kuat dan hanya dialah yang selalu jadi pelindung saudara-saudaranya Pandawa.

Yudhistira termangu sejenak ia kini hanya dengan anjingnya.. sesaat Yudistira melihat jenazah isttri dan adik-adiknya di lereng gunung. Kemudian dia melihat ke atas, tampak puncak Himalaya yang disinari matahari begitu indah dan agung, ditetapkannya hatinya itulah tujuannya. Segera ia mempercepat langkahnya, dan tak terasa sampailah Yudhistira di puncak Gunung Himalaya.

Seketika itu, langit terbelah dan Dewa Indra turun dari langit menaiki kereta kencana, dia mengajak Yudhistira menuju Surga.

Indra: Anakprabu Yudhistira, naiklah ke kereta kencana ini...kepribadian dan kesucian hatimu membuatmu pantas menuju swargaloka..tinggalkan anjing itu...

Yudistira: Duh pukulun, ampuni hamba...anjing ini telah dengan setia mendampingi hamba dari lereng gunung...hamba tidak akan meninggalkan dia...

Indra: Aneh kamu ini Yudhistira...istrimu yang cantik dan setia, adik-adikmu yang mencintaimu...rela kau tinggalkan jasadnya di lereng gunung...bagaimana seekor hewan seperti anjing ini malah kau bawa mau masuk swargaloka?

Yudistira: Pukulun..mohon jangan salah mengerti, bukan hamba yang meninggalkan mereka...merekalah yang meninggalkan hamba sejalan dengan darma dan karma yang harus mereka pertanggungjawabkan. Hamba tidak mampu menolak suratan takdir saudara-saudara hamba. Sedangkan anjing ini, walaupun binatang hina..kemampuan dan kesetiaannya menunjukkan dia punya kemuliaan lebih yang tidak kita ketahui.

Indra yang takjub mendengar kata-kata Yudhistira iapun menghormat kepada Yudhistira. Tiba-tiba si anjing telah berubah menjadi Yama, sang dewa Dharma, avatar Yudhistira. Dia memuji Yudhistira dan mengajaknya naik ke surga dengan kereta kencana Indra.

Sesampainya di surga, Yudhistira melihat para Kurawa dan Sengkuni sedang berpesta pora. Indra berkata bahwa para Kurawa masuk surga karena mereka membela tanah air mereka, sehingga mendapat karma untuk tinggal di surga.

Yudhistira bertanya, ke mana Karna kakaknya, istrinya Drupadi dan adik-adiknya? oleh Indra Yudhistira diajak ke neraka di mana Drupadi, adik-adiknya dan Karna disiksa di neraka karena dosa-dosa mereka.

Yudistira: Duh Pukulun...betapa berat dan mengerikan siksa mereka di neraka...pedih hati hamba mendengar rintihan istri yang disiksa di jambak-jambak rambutnya dan tubuhnya dilecut dengan lecutan berapi...juga saudara-saudaku dipanggang di panasnya api neraka..

Indra: Jadi bagaimana? Engkau layak masuk Surga karena darmamu begitu tinggi...sedangkan istri dan saudara-saudaramu harus mencuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu sebelum masuk Surga...mari anak Prabu aku antarkan engkau ke Surga...

Yudistira menepiskan gandengan tangan Indra yang mengarahkannya ke Surga, dahinya berkerut, pandangan penuh kasih terus dilayangkannya ke keluarganya di neraka.

Yudistira: Pukulun...kumpulkan aku dengan istri dan saudara-saudarku di neraka...lebih baik aku rasakan siksa neraka bersama mereka...selama ini mereka telah menunjukkan kesetiaan bersamaku dalam suka duka kehidupan...walau darma mereka tidak sempurna, aah pukulun betapa lebih buruk dan rusaknya darmaku kalau aku tinggalkan mereka ke surga...tidak...marilah pukulun jangan ragu-ragu masukkan saja aku ke neraka.

Indra yang melihat ketulusan hati Yudhistira sekali lagi menghormat kepada Yudhistira. Seketika itu juga suasana berubah total. Neraka berubah menjadi surga dan surga menjadi neraka. Para kurawa dan Sengkuni kini tersiksa di neraka. Yudhistira, Drupadi, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Karna telah menebus dosa mereka, kini mereka telah moksa tinggal di surga yang indah tanpa merasakan menjadi tua, wajah mereka berubah menjadi rupawan wajah muda mereka...karena demikianlah tercatat bahwa di surga semuanya tampil pada kondisi terbaik mereka.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya