Pangeran Uttara
UTTARA, putra Wirata, meninggalkan ibu kota dengan semangat yang meletup-letup. Ia perintahkan sais kereta, Brihannala, untuk memacu kereta ke arah bala tentara Kurawa secepat-cepatnya.
Mereka tidak membuang-buang waktu. Kereta dipacu secepat mungkin. Jauh di Cakrawala tampak pasukan Kurawa seperti garis memanjang yang berkilat-kilat, tertutup kabut debu yang mengepul ke angkasa. Ketika semakin dekat dan dekat, Uttara bisa melihat sejumlah besar pasukan Kurawa dipimpin oleh Bhisma, Durna, Kripa, Duryudana, dan Karna. Melihat itu, kobaran api nyali Uttara yang melemah selama dalam perjalanan menjadi benar-benar padam. Mulutnya menjadi kering dan bulu tengkuknya berdiri. Badannya gemetar. Ia tutupi matanya dengan kedua tangannya.
Katanya: "Bagaimana muingkin aku sendirian melawan musuh sebanyak itu? Aku tidak membawa pasukan, karena ayah membawa semua pasukan yang ada dan inilah akibatnya ibu kota tidak terlindungi. Tidak mungkin satu orang melawan sedemikian banyak pasukan yang bersenjata lengkap dan dipimpin oleh kesatria-kesatria masyhur! Brihannala berbaliklah! Kita pulang!"
Brihannala tertawa dan berkata: "Tuanku berangkat dengan api semangat yang bernyala-nyala dan orang-orang istana mengharapkan kemenanganmu. Selain itu, rakyat juga mempercayakan nasib mereka di tanganmu. Sairandri memuji-mujiku dan membuatmu mengangkatku menjadi saismu. Jika kita kembali tanpa membawa ternak yang mereka rampas, kita hanya akan menjadi bahan tertawaan. Aku tidak akan membelokkan kereta ini. Ayo kita maju terus dan bertempur! Jangan takut!"
Dengan suara bergetar Uttara berucap: "Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Biarkan pasukan Kurawa merangsek maju dan merampasi sapi-sapi kita dan jika para wanita itu menertawakan kita, aku tidak peduli. Apa gunanya melawan musuh yang jauh lebih kuat daripada kita? Itu namanya bodoh! Belokkan kereta ini dan kita kembali. Jika tidak, aku akan meloncat turun dari kereta dan pulang berjalan kaki." Setelah berkata demikian, Uttara membuang senjata-senjatanya dan meloncat turun dari kereta. Ia berlari sekencang-kencangnya kembali ke ibu kota.
Pengalaman seperti ini sering terjadi dalam hidup. Kepanikan yang dialami Uttara bukanlah pengalaman yang aneh. Rasa takut bersifat instingtif. meskipun bisa dikalahkan dengan kekuatan kehendak atau kekuatan pendorong yang kuat, seperti cinta, rasa malu, atau benci, atau yang lebih umum dengan disiplin. Bahkan, mereka yang melakukan tindakan-tindakan yang berani atau heroik mengatakan bahwa mereka pernah merasa takut ketika pertama kali menghadapi bahaya. Uttara bukan seorang yang penakut. Kelak di medan Kurusetra ia akan bertempur dan gugur dengan gagah berani.
Arjuna mengejar pangeran yang lari tunggang langgang. Ia berseru supaya pangeran berhenti dan bersikap kesatria. Rambut panjang dan pakaian Brihannala berkibar-kibar ditiup angin. Pangeran itu berlari ke sana ke mari untuk menghindari Arjuna. Bala tentara Kurawa yang melihat adegan tersebut pasti akan menertawakan mereka.
Durna tampak bingung ketika melihat Brihannala, meskipun berpakaian tidak wajar tampak seperti laki-laki dan mengingatkannya pada Arjuna. Ia katakan kecurigaannya ini kepada Karna. Kata Karna: “Tidak mungkin itu Arjuna. Apa masalahnya kalau memang ia Arjuna? Apa yang bisa ia lakukan sendirian untuk melawan kita? Raja Wirata membawa seluruh bala tentara ke selatan dan meninggalkan putranya sendirian di ibu kota. Putra mahkota itu membawa salah satu pelayan istana untuk mendampinginya sebagai sais. Begitu saja!”
Uttara yang malang mengiba kepada Arjuna supaya dibiarkan pergi. Bahkan ia berjanji akan memberikan kekayaan yang tidak terbatas jika dibiarkan pergi. Katanya: “Aku adalah satu-satunya putra ibuku. Aku adalah anak yang dibesarkan di pangkuan ibu. Aku ketakutan sekali.”
Tetapi, Brihannala ingin membebaskan Uttara dari ketakutannya sendiri. Ia tidak mau melepaskan pangeran itu. Ia kejar dan paksa Uttara naik kembali ke kereta.
Uttara mulai menangis dan katanya: “Alangkah memalukannya aku, sudah telanjur omong besar. Oh, Dewata, apa yang akan terjadi padaku?”
Arjuna menjawab dengan sabar: “Jangan takut. Aku akan menghadapi Kurawa. Bantu aku memegang tali kekang ini dan selebihnya serahkan kepadaku. Percayalah padaku, tidak ada gunanya lari dari medan perang. Kita akan enyahkan musuh-musuh kita dan rebut kembali ternak yang mereka rampas. Kemenangan pasti akan berada di pihak kita.” Setelah berkata demikian, ia angkat Uttara ke dalam kereta dan ia serahkan tali kekang pada pangeran itu. Dimintanya pangeran itu menghela kereta kuda ke sebatang pohon besar di dekat kuburan.
Durna yang memperhatikan dengan saksama tahu bahwa sais kereta yang berpakaian perempuan itu adalah Arjuna. Ia katakan kecurigaannya itu kepada Bhisma. Duryudana menoleh kepada Karna dan katanya: “Mengapa kita mesti repot memikirkan siapa dia? Bahkan kalau benar dia Arjuna, itu justru menguntungkan kita. Jika penyamarannya terbongkar, kita bisa mengirim para Pandawa kembali ke pengasingan di hutan selama dua belas tahun lagi.”
Segera setelah mereka tiba di pohon besar yang ditunjuk, Brihannala menyuruh pangeran itu segera turun, memanjat, dan menurunkan kantong kulit besar berisi senjata yang disembunyikan di pohon itu.
Kata pangeran itu dengan nada mengiba dan ketakutan: “Kata orang kantong yang tergantung di pohon itu adalah mayat seorang pemburu tua. Aku tidak berani menyentuh mayat! Mengapa kau menyuruhku melakukan itu?”
Kata Arjuna: “Pangeran, kantong itu tidak berisi mayat. Di kantong itu tersimpan senjata-senjata sakti para Pandawa. Naiklah dan bawa turun senjata-senjata itu. Jangan buang-buang waktu.”
Tahu bahwa tidak mungkin menolak perintah Brihannala, pangeran itu segera memanjat pohon. Dengan rasa ngeri, ia turunkan kantong kulit yang dikatakan Brihannala. Alangkah kagetnya Uttara ketika melihat kantong kulit itu dibuka. Ternyata isinya adalah sejumlah senjata yang berkilauan.
Uttara terpesona ketika melihat senjata-senajata yang berkilauan dan ia tutup matanya. Ia kumpulkan keberaniannya dan menyentuh senjata-senjata itu. Ketika menyentuh senjata-senjata sakti itu, ia merasakan mendapat suntikan harapan dan keberanian yang baru.
Dengan penuh semangat, Uttara bertanya kepada Brihannala: “Sais, alangkah anehnya! Kau katakan bahwa busur, panah, dan pedang-pedang ini milik Pandawa. Bukankah kerajaan mereka dirampas Kurawa dan mereka diusir ke hutan? Bagaimana mungkin kau bisa tahu tentang senjata-senjata ini?”
Kemudian, Arjuna menceritakan secara ringkas pada pangeran itu bagaimana mereka bisa tinggal di istana Kerajaan Wirata. Katanya: “Kangka, yang menjadi pelayan pribadi raja, adalah Yudhistira. Walala, juru masak istana yang mempersiapkan makanan-makanan lezat untuk ayahmu, tidak lain adalah Bima. Sairandri, yang menyebabkan Kicaka terbunuh, adalah Drupadi. Dharmagranti, yang merawat kuda dan Tantripala, yang menjadi penggembala sapi, adalah Nakula dsan Sadewa. Aku sendiri adalah Arjuna. Jangan takut. Pangeran, engkau akan menyaksikan aku mengalahkan bala tentara Kurawa, meskipun mereka dipimpin oleh Bhisma, Durna, dan Aswatama. Kita akan rebut kembali ternak-ternak yang mereka rampas. Engkau akan menjadi masyhur. Semua ini akan menjadi pelajaran berharga bagimu.”
Uttara segera mengatupkan tangannya, memberikan hormat, dan berkata: “Tak kusangka kau adalah Arjuna. Betapa beruntungnya aku bisa berhadapan langsung dengan Arjuna! Memang benar kata orang Arjuna adalah pahlawan besar yang bisa menularkan keberanian. Maafkan kedunguanku.”
Di kereta yang dikemudikan Uttara, Arjuna bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan untuk membangkitkan keberanian Uttara. Ketika mereka sudah dekat dengan pertahanan Kurawa, Arjuna minta kereta dihentikan. Kemudian mereka turun. Arjuna bersila dan berdoa. Ia tanggalkan perhiasan-perhiasan wanita yang ia kenakan dan mengenakan sarung tangan kulit. Kemudian ia ikat rambut panjangnya, berdiri tegak menghadap ke timur. Ia diam sebentar menatap pakaian perangnya dan segera naik kereta. Arjuna angkat busur Gandewa yang masyhur itu dan menarik busurnya. Dan meluncurlah anak panah tersebut membelah angkasa, dengan bunyi berdesing-desing menggema ke segala penjuru.
Mendengar suara itu, para tetua Kurawa berkata satu sama lain: “Bukankah itu bunyi Gandewa?” Ketika Arjuna berdiri tegak di atas kereta seperti dewa yang perkasa dan meniup terompet kerang Dewadatta, bala tentara Kurawa ketakutan dan berseru dengan suara panik: “Para Pandawa menyerang!”
Kisah Pangeran Uttara yang berkata dengan sombong di hadapan para wanita di istana dan akhirnya lari tunggang langgang ketika melihat pasukan musuh, sebenarnya tidak diceritakan dalam Mahabharata. Kisah ini disisipkan sebagai selingan semata.
Pada umumnya manusia cenderung meremehkan orang-orang yang berkemampuan lebih rendah. Yang kaya melecehkan yang miskin; yang cantik meremehkan yang berwajah biasa-biasa saja; yang kuat merendahkan yang lemah; yang pemberani meremehkan yang penakut. Tetapi Arjuna bukan manusia biasa. Ia berjiwa besar dan pahlawan sejati. Bagi Arjuna, menolong orang yang lemah adalah kewajiban mereka yang kuat dan pemberani. Sadar bahwa dirinya diberkati dengan keberanian dan keperwiraan sejak lahir, seperti halnya para pahlawan besar ia tidak menjadi sombong. Ia lakukan apa yang ia bisa untuk membangkitkan keberanian Uttara dan membuatnya pantas menyandang kasta kesatria.
Inilah keluhuran budi Arjuna. Ia tidak menyalahgunakan kekuatan dan kesaktiannya. Arjuna juga dikenal dengan nama Bibhatsu, yang berarti orang yang tidak mau melakukan hal-hal yang tidak pantas dan menghayati kehidupan yang luhur.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


