Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pemenuhan Janji

Selasa, 24 Februari 2015

KERETA Arjuna berderap kencaang, seperti mengguncang bumi. Hati para Kurawa bergetar ketika mendengar desing Gandewa.

"Kita harus menggelar pasukan dengan rapi dan hati-hati. Arjuna datang menyerbu kita." Kata Durna dengan rasa cemas.

Duryudana kesal melihat sikap Durna yang seperti itu. Katanya kepada Karbna: "Pandawa bersumpah akan menjalani masa pengasingan di hutan selama dua belas tahun dan pada tahun ketiga belas akan hidup tanpa dikenali. Tahun ketiga belas belum selesai, Arjuna sudah berani menampakkan diri. Mengapa kita mesti takut? Mereka harus kembali ke hutan selama dua belas tahun lagi. Durna terlalu banyak belajar falsafah hingga jadi penakut. Biarlah ia sembunyi di belakang, kita maju terus!"

Karna setuju dan berkata: "Pasukan kita menjadi ciut nyali. Mereka gemetar ketakutan. Kata mereka orang yang berdiri dengan gagah di atas kereta kuda, dengan busur di tangan dan mnyerbu ke arah kita adalah Arjuna. Mengapa kita harus takut? Pasurama sekalipun, aku tidak akan gentar. Aku akan hadang dia jika berani maju, bahkan jika yang lain memilih mundur. Mereka boleh saja merebut kembali ternak mereka, tetapi Arjuna harus berhadapan denganku. Aku adalah prajurit yang setia pada kawan dan membenci musuh. Aku akan hadang dan layani dia. Apa urusannya orang-orang yang belajar kitab Weda dan mencintai serta memuji musuh ini di sini!" Katanya mencemooh.

Aswatama, putra Durna dan kemenakan Kripa, tidak tahan mendengar sindiran Karna yang tajam menusuk hati. Sahutnya dengan keras kepada Karna: "Kita belum membawa raja kembali ke Hastinapura dan kita belum memenangkan perang. Tidak ada gunanya omong besar. Mungkin benar kami bukan golongan kesatria tapi golongan orang yang membaca kitab-kitab Weda dan sastra. Meskipun demikian, aku belum pernah menemukan ajaran yang mengatakan bahwa merebut kerajaan dengan tipu daya bermain dadu adalah cara seorang raja yang terhormat. Bahkanmereka yang telah bertempur dan menaklukan banyak kerajaan tidak pernah menyombongkan kemenangan mereka. Aku belum pernah melihat hasil jerih payahmu yang pantas dibanggakan. Api tidak pernah berisik tapi membakar. Matahari bersinar bukan untuk dirinya sendiri.

Demikian pula, bumi merangkum segala yang ada, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan menanggung bebannya tanpa bersuara. Pujian macam apakah yang pantas diberikan kepada kesatria yang merebut kerajaan lain dengan bermain dadu? Keberhasilan menipu para Pandawa tidaklah pantas untuk dibanggakan, ibarat menyebar perangkap untuk menangkap burung yang masih hijau. Duryudana dan Karna, dalam pertempuran apakah kalian berhasil mengalahkan para Pandawa? Memang benar kalian menyeret Drupadi di hadapan banyak orang. Pantaskah itu kalian banggakan? kalian telah menghancurkan bangsa Kuru seperti orang dungu yang mebnebang pohon cendana karena mabuk keharumannya. Bertarung melawan Arjuna tidak sama dengan melemparkan dadu. Gandewa akan melesatkan panah tajam dan bukan angka empat atau dua seperti dalam permainan dadu. Hai dungu, apa kalian pikir Sengkuni dengan tipu dayanya bisa membuat kita memenangkan pertempuran?!"

Para pemimpin pasukan Kurawa mulai bertengkar sendiri, saling caci, dan memaki. Melihat itu, Bhisma merasa sedih dan berkata:

"Orang bijak tidak akan mencaci-maki gurunya. Ketika berperang, orang harus memperhitungkan secara matang waktu, tempat, dan situasi yang ada. Orang yang bijak sekalipun sering kali kehilangan kendali dan akal sehat ketika menghadapi masalah mereka sendiri. Karena amarah, Duryudana yang biasanya penuh perhitungan luput memperhatikan bahwa musuh yang menghadang pasukan kita adalah Arjuna. Pikirannya gelap terselubung kabut amarah. Aswatama jangan dengarkan kata-kata Karna yang tajam itu. Engkau harus memahaminya sekadar sebagai cara melecut semangat para mahaguru untuk segera bertindak. Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar serta membesar-besarkan perbedaan. Durna, Kripa, dan Aswatama harus memaafkan Karna. Kurawa tidak akan menemukan mahaguru yang hebat seperti Durna, Kripa, dan Aswatama. Merka adalah orang-orang sakti yang menggabungkan pengetahuan kitab Weda dan kewiraan kesatria. Tidak ada yang bisa menandingio Durna, kecuali Parasurama. Kita bisa mengalahkan Arjuna jika kita semua bersatu menghadapinya bersama-sama. Marilah serang dia bersama-sama. Jika bertengkar sendiri-sendiri, kita tidak akan bisa menghadapi Arjuna."

Demikianlah nasihat Bhisma. Semua terdiam dan melupakan amarah mereka. Bhisma menoleh kepada Duryudana. Katanya: "Tuanku Raja, Arjuna sudah datang. Masa pembuangan selama tiga belas tahun sudah berakhir kemarin. Aku tahu itu ketika Arjuna membunyikan terompet kerangnya, Pikirkan baik-baik sebelum memutuskan perang. Jika ingin berdamai dengan Pandawa sekaranglah saatnya. Apa yang kau inginkan? Perdamaian yang adil dan terhormat atau perang yang saling menghancurkan? Pertimbangkan baik-baik dan tentukan pilihanmu."

Duryudana menjawab: "Kakek yang mulia, aku tidak ingin berdamai. Aku tidak sudi menyerahkan satu desa sekalipun kepada Pandawa. Mari kita bersiap perang."

Kata Durna: "Sebaiknya Pangeran Duryudana kembali ke Hastinapura bersama seperempat bala tentara kita. Separoh bala tentara yang ada akan mengawal ternak dan barang-barang rampasan. Jika kita kembali tanpa membawa ternak rampasan ini sama saja kita menerima kekalahan. Dan bala tentara yang tersisa akan bersama-sama kami berlima, Bhisma, Kripa, Karna, Aswatama, dan aku sendiri menghadapi Arjuna." Kemudian, Bala tentara Kurawa diatur menurut pembagian itu.

Kata Arjuna: "Uttara, aku tidak melihat Duryudana dan keretanya. Aku hanya melihat Bhisma. Kukira Duryudana sedang menggiring ternak kita ke Hastinapura. Ayo kita kejar dia dan rebut kembali ternak kita."

Setelah berkata demikian, Arjuna meninggalkan pasukan Kurawa danmengejar Duryudana yang menggiring ternak hasil rampasan. Arjuna memberikan penghormatan yang sepantasnya kepada para guru dan kakeknya, dengan menarik busur Gandewa danmengarahkan anak panahnya ke dekat kaki mereka. Setelah itu, ia segera mengejar Duryudana.

Ia kejar pasukan Kurawa yang menggiring ternak hasil rampasan. Arjuna menyerang pasukan itu hingga mereka kocar-kacir dan lari tunggang langgang. Kemudian, Arjuna menyuruh para gembala untuk mengambil ternak mereka. Mereka sangat gembira karena ternak mereka kembali. Lalu, Arjuna mengejar Duryudana.

Melihat itu, Bhisma dan pasukan Kurawa segera melindungi Duryudana dan mengepung Arjuna. Tahu dirinya dikepung, Arjuna memutuskan untuk menggempur pemimpin pasukan Kurawa satu persatu. Pertama, ia serang Karna. Ia paksa Karna meninggalkan medan pertempuran. Setelah itu, ia menyerang dan mengalahkan Durna. Melihat Durna mulai kepayahan, Aswatama datang membantu. Maka terjadilah pertarungan yang sengit antara Arjuna dan Aswatama. Ketika Aswatama mulai kepayahan, Kripa datang membantu. Tetapi Kripa juga kalah.

Akibatnya bala tentara Kurawa kocar-kacir dan lari tunggang langgang. Meskipun Bhisma segera mengumpulkan mereka kembali dan memerintahkan mereka menyerang balik di bawah pimpinan Durna, Bhisma, dan yang lain, semangat perang mereka sudah luntur. Akhirfnya mereka kembali lari meninggalkan medan laga setelah pertarungan yang amat sengit antara Bhisma dan Arjuna. Konon para dewa sampai turun menyaksikan pertarungan mereka.

Dengan demikian, upaya menghadang laju Arjuna yang mengejar Duryudana gagal. Arjuna berhasil mendekati Duryudana. Ia serang Duryudana habis-habisan. Duryudana terpaksa lari meninggalkan gelanggang. Tetapi ia lari tidak jauh karena setelah diejek pengecut oleh Arjuna ia segera kembali dan balik menyerang seperti ular. Bhisma dan yang lain segera melindungi Duryudana. Arjuna terus menyerang dan akhirnya ia menggunakan senjata pembius. Karena senjata sakti itu, mereka semua jatuh tidak sadarkan diri. Ketika mereka tidak sadar, Arjuna melucuti jubah mereka. Pelucutan jubah ini merupakan tanda kemenangan pada zaman itu.

Ketika Duryudana datang, Bhisma segera menyuruhnya kembali ke Hastinapura. Seluruh bala tentara Kurawa kembali ke Hastinapura dengan membawa kekalahan yang memalukan.

Kata Arjuna: "Uttara, belokkan arah kereta. Kita berhasil merebut kembali ternak-ternak kita. Musuh berhasil kita usir. Pulanglah ke Matsya dan bawalah berita kemenangan ini."

Dalam perjalanan pulang, Arjuna menyimpan kembali senjata-senjatanya. Ia kenakan kembali pakaiannya sebagai Brihannala. Kemudian, ia kirim utusan untuk menyampaikan kabar kemenangan Uttara yang gilang gemilang ke ibu kota.* C Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya