Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Kutukan Dewi Gendari

Rabu, 25 Februari 2015

SENJA bermuram durja, mendung yang menggayut di langit Dwarawati membawa angan Sri Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka, para keturunannya yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum-minuman keras sampai mabuk. Inilah zaman Kaliyuga, zaman kegelapan. Sri Kresna menerawang mengingat percakapannya dengan Dewi Gendari, saat perabuan jenazah Duryudana.

Gendari: Wahai Kesawasidi...tuntas sudah seluruh keturunanku sebagai tumbal menangnya kebajikan. Puaskah andika?

Kresna: Sang Dewi, tugasku hanya memastikan bahwa baratayuda berjalan dengan benar dan kebathilan dikalahkan. Tentu tidak ada rasa kepuasan yang layak aku sandang.

Gendari: Oo..Wishnu Dewa...jika andika mengatakan tidak ada kepuasan di hati andika...kenapa perih dan lara menghujam sanubariku...Duh Jagad Dewa Bathara...aku Gendari menjalani tapaku dengan menutup netra bela kebutaan suamiku, seluruh hidupku kuhiasi dengan kesetiaan pada suami dan anak-anakku...inikah keadilan? Rasa sakit yg terus meremas jantung seorang ibu, acapkali anaknya tewas di medan laga...

Kresna: Dewi Gendari...aku tak hendak meminta maaf atas kehilanganmu.. inilah suratan takdir yang harus engkau lewati...kehadiranku adalah pelengkap untuk memastikan berjalannya suratan takdir itu...

Gendari: Ya..ya..pukulun, apalah dayaku berhadapan denganmu yang dimuliakan seluruh umat...tapi resapilah, bukankah sebagai Dewata sesungguhnya engkau memiliki kemampuan untuk mencegah kehancuran itu? Jika saja kau ijinkan anak-anakku mendekat padamu semesra Pandawa bergaul denganmu...bukankah mereka bisa juga menerima dharma? Ah sudahlah..jika suratan takdir menjadi jawabanmu atas kesedihanku ...maka suratan takdir juga yang aku minta sebagai keadilan atas nestapaku...Ibu yang ditinggalkan anak-anaknya lewat perang saudara...maka bangsamu wahai Sri Kresna, akan punah seperti anak-anakku lewat perang saudara....kalian akan saling menghancurkan. Itulah suratan takdir dan hari akhirmu wahai Kesawa Sidi...

Kutukan Gendari yang diucapkan dengan tekanan-tekanan kalimat penuh duka, seakan disaksikan oleh alam, guntur bersahut-sahutan, petir menyambar, hingga binatang di hutan berlarian panik. Saat itu, sadarlah Sri Kresna, bahwa Hyang Widi Wasa menerima keluhan Gendari, dan menyetujui supata Ibu yang berduka ini. Sri Kresna tersenyum, sebagai titisan Wishnu, dia memaklumi, bangsa Yadawa dan Wresni adalah bangsa besar yang dipimpin olehnya sang titisan Wishnu, tentu tak ada bangsa lain yang bisa mengalahkan mereka, karena itu wajarlah jika kepunahan itu terjadi akibat kesalahan dan kepongahan mereka sendiri.

Beberapa Tahun lalu, Sanghyang Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwarawati. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Raja yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Samba, keturunan Kresna. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena paman Sri Kresna saat itu, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang, tanaman itu disebut eruka oleh penduduk setempat. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu bernama Jara. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

Berbilang masa telah lewat, bangsa Yadawa dan Wresni telah melupakan kutukan para Resi. Seusai Baratayuda Satyaki beserta beberapa pemuda keturunan Yadawa, Wresni dan Andaka, mulai melakukan kebiasaan lama, mereka bermabuk-mabukan di tepi pantai, merayakan kemenangan mereka di Baratayuda.

Sambil bermabuk-mabukan mereka saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Jarasanda di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu.

Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eruka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.

Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka, Sri Kresna kemudian masuk ke hutan untuk menyusul Baladewa yang sedang bersemedi menununggu akhir hidupnya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya