Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Impian Semu Wirata

Kamis, 26 Februari 2015

SETELAH mengalahkan Susarma, Raja Kerajaan Trigarta, Wirata kembali ke ibu kota Matsya. Rakyat mengelu-elukannya. Tetapi sesampainya di istana, ia tidak menemukan Uttara. Para putri di istana mengatakan bahwa Uttara pergi ke utara untuk menggempur pasukan Kurawa. Mereka amat yakin pangeran yang tampan itu pasti mengalahkan musuh-musuhnya. Mendengar itu, hati Raja Wirata langsung kecut. Ia tahu apa yang dilakukan putranya mustahil. Katanya dengan sedih: "Anakku tercinta sekarang pasti sudah tewas."

Kemudian, ia menyuruh menterinya untuk menyiapkan pasukan yang paling kuat untuk menyelamatkan Uttara jika masih hidup dan membawanya kembali ke ibu kota. Pasukan pencari jejak segera dikerahkan untuk mencari tahu di mana Uttara dan bagaimana nasibnya.

Yudhistira, yang menyamar sebagai sanyasin, Kangka, berusaha menghibur Wirata. Katanya Uttara akan kembali dengan selamat karena Brihannala menemaninya sebagai sais: "Paduka Raja belum mengenal siapa sebenarnya Brihannala. Aku tahu persis. Siapa pun yang bertempur dengan ditemani Brihannala sebagai sais pasti akan kembali dengan kemenangan. Selain itu, kabar kekalahan Susarma pasti sudah sampai ke sana. Kurawa pasti gentar dan memilih mundur."

Sementara itu, utusan yang diutus Arjuna dari medan pertempuran tiba. Ia menyampaikan kabar gembira bahwa Uttara telah mengalahkan bala tentara Kurawa dan berhasil merebut kembali harta benda yang dirampas. Wirata tidak percaya.

Dengan tersenyum Yudhistira berusahameyakinkannya. Katanya: "Percayalah Paduka. Apa yang dikatakan utusan itu pasti benar. Ketika Brihannala pergi ke arena perang, kemenangan pasti akan ada di tangan. Kemenangan putra Paduka sama sekali bukan keajaiban. Aku tahu bahkan sais kereta Batara Indra atai Sri Krishna sekalipun tidaka akan bisa menandingi Brihannala."

Semua itu terdengar muskil di telinga Wirata. Tapi, dia terlalu bahagia untuk membantah. Saking gembiranya, ia berikan hadiah yang besar kepada utusan itu dan memerintahkan rakyat untuk berpesta. Katanya: "Kesuksesanku melawan Susarma tidak berarti apa-apa dibandingkan kemenangan putraku. Siapkan upacara kemenangan dan persembahan syukur di seluruh negeri. Pasang umbul-umbul aneka warna dan hiasi jalan supaya semarak. Kerahkan rakyat untuk mengadakan arak-arakan kemenangan. Siapkan upacara penyambutan yang paling megah untuk kemenangan putraku yang berhati singa."

Wirata memerintahkan para menteri, pasukan, dan para putri istana untuk menyambut putranya, yang kembali dari medan perang membawa kemenangan gemilang. Ketika raja pergi ke beranda untuk beristirahat, ia panggil Sairandri untuk menyiapkan permainan dadu. Katanya kepada Kangka: "Aku sangat bahagia. Ayo kita bermain dadu." Dan ia duduk bermain dadu bersama Yudhistira.

Sambil bermain mereka bicara. Raja amat bangga dengan kemenangan putranya. "Lihatlah betapa hebatnya putraku, Buminjaya. Ia berhasil membuat bala tentara Kurawa yang masyhur lari tunggang langgang."

Jawab Yudhistira: "Paguka benar, Putra Paduka beruntung didampibngi sais kereta seperti Brihannala yang tangkas dan tahu bagaimana caranya mengemudikan kereta."

Wirata merasa jengkel dan tidak senang dengan kata-kata Kangka. Katanya: "Mengapa kau selalu mengagung-agungkan si banci itu?! Ketika aku bicara tentang kemenangan putraku kau selalu menyebut ketangkasan si banci. Seolah-olajh peran putraku tidak ada artinya."

Raja semakin jengkel ketika Kangka masih bersikeras dengan pendapatnya. Kata Kangka: "Aku kenal benar siapa Brihannala. Ia bukan sais sembarangan. Kereta yang ia kemudikan tidak mungkin kalah. Siapapun yang menumpangnya pasti akan meraih kemenangan, sesulit apa pun medan perang yang dihadapi."

Wirata tidak bisa lagi menahan kejengkelannya. Dan dengan marah ia lemparkan dadu ke wajah Kangka. Lalu dengan keras ia tampar wajah Kangka hingga pipinya terluka dan berdarah.

Sairandri yang kebetulan berada di dekat mereka melihat darah di pipi Yudhistira. Dengan cepat ia seka wajah Yudhistira dengan ujung pakainnya. Darah yang menetes ditampung dalam cawan emas. "Apa-apaan ini? Mengapa kau tampung darahnya de dalam cawan emas?" Tanya raja yang hatinya masih mendidih oleh amarah.

Jawab Sairandri: "Darah seorang sanyasin tidak boleh menetes ke bumi. Kalau darah seorang sanyasin sampai menetes ke bumi, hujan tidak akan turun di bumi ini selama beberapa tahun, tanah akan retak kekeringan, dan rakyat akan kelaparan. Karena alasan itulah aku tampung darahnya ke dalam cawan. Aku khawatir Paduka belum mengenal kebesaran Kangka."

Sementara itu, penjaga gerbang mengumumkan: "Pangeran Uttara dan Brihannala tiba. Pangeran menghadap Paduka Raja." Wirata segera bangkit dengan pebuh suka cita dan katanya: "Persilakan masuk! Persilakan masuk! Kata Yudhistira kepada penjaga: "Biarkan Uttara masuk sendirian. Suruh Brihannala menunggu di luar."

Ia berkata demikian untuk menghindari malapetaka. Ia tahu Arjuna tidak akan bisa mengendalikan amarah jika melihat pipi Dharmapala terluka.

Uttara menghadap dan bersujud menghaturkan sembah kepada ayahnya. Ketiak menghaturkan sembah kepada Kangka, ia terkejut melihat darah di wajahnya. Saat itu, Uttara sudah tahu bahwa Kangka adalah Yudhistira.

"Tuanku Raja, siapa yang telah melukai dia, Yang Agung?" tanya Uttara dengan cemas.

Wirata menatap putranya, lalu katanya: "Mengapa? Aku memukulnya karena kelancangannya menyepelekan kemenanganmu. Setiap aku memuji keperkasaanmu,ia justru menyebut kehebatan si banci. Ia selalu menyebut si bancilah yang menyebabkan kemenanganmu. Memang, aku telah bertindak bodoh. Aku menyesal telah melukainya. Tapi sudahlah, tidak perlu dibicarakan lagi."

Uttara merasa takut, katanya: "Oh, Dewata, Ayahanda telah berbuat kesalahan besar. Berlututlah di hadapannya, sekarang juga, Ayahanda. Mohonlah maaf. Jika tidak, kita akan musnah dari akar sampai daun."

Wirata tidak mengerti apa yang dikatakan putranya. Ia hanya duduk diam, kebingungan. Tanpa menunggu lama, Uttara segera berlutut di hadapan Yudhistira dan mohon ampun.

Melihat itu, Wirata memeluk putra dan berkata: "Nak, Engkau memang berjiwa besar. Aku tidak sabar lagi untuk mendengar ceritamu. bagaimana kau bisa mengalahkan bala tentara Kurawa? Bagaimana kau bisa merebut kembali harta kekayaan yang mereka rampas?"

Sambil menundukkan kepala karena malu, Uttara berkata: "Bukan aku yang mengalahkan pasukan Kurawa dan merebut ternak-ternak kita. Semua itu dilakukan oleh seorang putra dewa yang sangat sakti. Dialah yang menyelamatkan kita dari malapetaka dan menyelamatkanku dari kehancuran. Ia usir pasukan Kurawa dan rebut kembali semua ternak dan kekayaan kita dengan gagah berani. Aku tidak berbuat apa-apa."

Wirata tidak percaya pada apa yang ia dengar. Ia bertanya lagi: "Di manakah putra dewa itu sekarang? Aku ingin bertemu dengannya. Aku harus berterima kasih kepadanya karena menolongmu dan mengusir musuh. Akan kuberikan Uttari, putriku, supaya ia persunting. Panggillah ia sekarang juga."

Jawab pangeran itu: "Dia telah pergi. Mungkin ia akan kembali besok atau lusa." Memang benar, Arjuna adalah putra dewa dan sekarang ia pergi untuk sementara dan menjadi Brihannala.

Di balairung istana, semua pemuka rakyat Matsya berpesta untuk merayakan kemenangan raja dan pangeran. Kangka, Walala si juru masak, Brihannala, Tantripala, dan Dharmagranti yang ikut berperan dalam kemenangan itu juga hadir dan membuat terkejut para hadirin dengan duduk bersama para pangeran, tanpa diusir. Beberapa orang mengatakan bahwa para jelata itu boleh duduk di antara para pangeran karena telah berjasa besar.

Ketika masuk balairung, Wirata melihat Kangka sang sanyasin, juru masak, dan yang lain duduk di tempat yang disiapkan untuk para pangeran dan tamu kehormatan. Raja tidak bisa menahan amarah dan dengan kata-kata yang kasar ia lampiaskan amarahnya. Karena sikap Wirata yang sudah keterlaluan, para Pandawa akhirnya mengungkapkan diri mereka yang sebenarnya. Para tamu bersorak-sorai menyambut pengakuan mereka.

Wirata sendiri sama sekali tidak menyangka orang-orang yang melayaninya selama ini ternyata adalah para Pandawa. Wirata segera memeluk dan mengucapkan terima kasih. Ia serahkan Negeri Matsya kepada para Pandawa. Tentu saja, Pandawa tidak mau menerima. Wirata juga mendesak Arjuna untuk mempersunting putrinya, Uttari.

Tapi kata Arjuna: "Tidak. Aku tidak pantas mempersuUttari. Putri belajar tari dan musik dariku. Sebagai guru, aku sama seperti ayah baginya." Namun demikian, ia setuju menerima putri itu sebagai istri putranya, Abimanyu.

Sementara itu, datang utusan dari Duryudana yang jahat dan dengki hati. Kata utusan itu: "Putra Dewi Kunti, Duryudana sangat menyayangkan tindakan Dananjya yang gegabah. Karena tindakan gegabah itu, kalian semua harus kembali ke hutan lagi. Dananjaya telah membiarkan diri dikenali orang sebelum tahun ketiga belas habis. Oleh karena itu, sesuai dengan sumpah kalian, kalian harus kembali mengembara di hutan selama dua belas tahun lagi."

Dharmaputra tertawa dan berkata: "Utusan yang terhormat, segeralah kembali kepada Duryudana. Mintalah supaya dia memeriksa lebih cermat lagi. Kakek Bhisma yang mulia dan mereka yang belajar ilmu perbintangan pasti akan mengatakan bahwa tahun ketiga belas telah habis tepat sehari sebelum pasukan Kurawa mendengar desing Gandewa dan lari tunggang langgang karena takut." C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya