Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Kematian Sri Kresna

Jumat, 27 Februari 2015

BATARA Kresna mengirim utusan ke Hastinapura, untuk menempatkan wanita dan anak-anak mereka yang masih hidup di bawah perlindungan Parikesit. Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur, ke hadapan Raja Parikesit di Hastinapura.

Sri Kresna kemudian pergi ke hutan tempat di mana Baladewa menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan. Ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan di mana naga dan para dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.

Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk di sebuah batu di bawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa. Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian di bawah kakinya berwarna kemerah-merahan.

Saat itu Jara sang pemburu yang diyakini sebagai titisan Prabu Subali yang terbunuh oleh panah Ramawijaya, sedang mencari buruan di tengah hutan. Setelah seharian tidak mendapat buruan, Jara melihat sesuatu berwarna kemerah-merahan. Ia pikir, "Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku". Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan yang kemudian panah itu dia beri racun, untuk melumpuhkan binatang buruannya.

Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang pemburu segera berlari ke tempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Sri Kresna yang berjubah kuning sedang melakukan yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu, yang menancap di telapak kaki Sri Kresna yang terbuka. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu.

Sri Kresna tersenyum dan berkata, "Wahai Jara, kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan dipikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral. Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku".

Jara: Ah Sri Kresna, bagaimana ini...Paduka adalah raja kami, Paduka penguasa Dwarawati...aku rakyatmu semata...jatuhkanlah hukumanmu, aku akan ikhlas menebus kesalahanku...

Kresna: Luar biasa engkau Jara...ah seandainya banyak manusia sepertimu...yang mau mengakui kesalahan bahkan ikhlas menyediakan diri menerima hukuman atas kesalahan yang tidak sengaja engkau lakukan....betapa damainya hidup ini...

Jara: Sungguh Sri Kresna...hukumlah aku, aku lengah dan bodoh hingga anak panahku mengenaimu...hukumlah aku...agar ringan perasaanku menghadapi karmaku...

Kresna: Jara...Jara...begitu banyak orang yang melakukan dosa-dosa besar...dan menikmati hasil dari dosanya itu...mereka yang maksiat mengkhianati keluarganya, menikmati kemaksiatannya dengan menutup nurani, mulutnya terkunci untuk meminta maaf pada istri dan anak-anaknya mencoba bertahan dengan dosanya sambil berharap orang akan melupakan perbuatannya...jauh rasa penyesalan di sanubarinya...mereka yang menyalahgunakan tahta, menghukum orang tanpa pengadilan, menikmati kekuasaannya dengan ketinggian hati berharap orang memaklumi karena memang dialah sang penguasa...mereka yang mengambil hak orang, dan menikmati hasil dari rampokannya itu tanpa penyesalan bahkan memamerkan kekayaannya untuk kemegahan dirinya....duhai Jara....ketahuilah...engkau ada menyempurnakan hidupku, sudah tercatat dari lahirmu...

Jara: Ah...mengapa demikian...apa maksud Paduka...

Kresna: Dulu, ada raja ksatria gung binatara berdarah putih karena ketulusan hatinya, yang bernama Subali. Tanpa sengaja raja agung ini tewas oleh panah Sri Rama titisan Wishnu pendahuluku. Sudah tercatat bahwa hidup ini adalah rangkaian sebab dan akibat. Sejak jemparing lepas dari gendewa Sri Rama, kami tahu bahwa titisan Wishnu lainnya juga akan mati akibat kelengahan jemparing panah yang dilepas oleh titisan Subali...engkaulah itu Jara...

Jara: Jagad Dewa Bathara....(Jara menyembah takzim kepada Kresna, perlahan-lahan dilihatnya wajah Sri Kresna yang tadinya membiru, berangsur-angsur normal...dan pada helaan nafas terakhir...Sri Kresna meninggal dengan paras teduh, senyuman ikhlas tersungging di wajahnya)

Kematian Sri Kresna membawa awan duka di Kerajaan Hastinapura. Parikesit dan para pepatihnya memimpin perabuan jenazah sesepuh Barata itu, mereka menanamkan keyakinan di sanubari mereka....kini, merekalah pemimpin bangsa Kuru yang harus menjaga nama baik, kehormatan dan martabat leluhurnya sekuat tenaga.

Kisah-kisah kepahlawanan, keluhuran dan kebijaksanaan mereka adalah patokan darma yang harus mereka pertahankan. Kepongahan, tinggi hati, kesembronoan, maksiat, khianat dan dusta adalah adarma yang harus mereka singkirkan untuk menjalani hidup yang lebih baik.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya