Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pertemuan Penasihat Agung

Sabtu, 28 Februari 2015

TAHUN ketiga belas di mana para Pandawa harus hidup menyamar telah usai. Karena tidak perlu hidup dalam penyamaran lagi, para Pandawa meninggalkan ibu kota Matsya dan tinggal di Upaplawya, sebuah tempat di negeri Matsya. Dari sana mereka mengirim utusan untuk mengundang para sahabat dan kerabat.

Dari Dwaraka datang Balarama, Krishna, Subadra, dan putra mereka Abimanyu. Merka ditemani para kesatria Yadawa yang masyhur. Mereka diterima oleh Raja Wirata dan para Pandawa dengan meriah. Indrasena dan mereka yang ikut tinggal di hutan pada awal masa pengasingan di hutan juga datang. Pangeran Kasi dan Raja Saibya datang bersama pasukan mereka. Raja Panchala, Drupada juga hadir di sana bersama Srikandi, anak-anak Drupadi dan Dristadyumna. Banyak raja dan putra mahkota datang ke Upaplawya untuk menyatakan kesetiaan pada Pandawa.

Perkawinan Abimanyu dan Putri Uttari dilangsungkan sesuai dengan ajaran Weda sebelum pertemuan para sahabat Pandawsa. Setelah upacara perkawinan usai, mereka bertemu di ruang pribadi Raja Wirata. Krishna duduk di sebelah Yudhistira dan Wirata. Sementara itu, Balarama dan Setyaki duduk di sebelah Drupada. Setelah segala sesuatunya siap, semua mata terarah kepada Krishna. Kata Krishna:

“Saudara-saudara, semua pasti tahu kisah tipu muslihat kotor yang masyhur itu. Yudhistira telah ditipu dalam permainan dadu. Yudhistira kalah dan kerajaannya dirampas. Ia dan para Pandawa yang lain beserta Drupadi harus hidup mengembara di hutan. Selama tga belas tahun, mereka dengan sabar memikul segala penderitaan demi memenuhi sumpah mereka. Renungkan masalah ini dan mohon pertimbangan sesuai dengan jalan dharma, demi kejayaan dan kesejahteraan baik Pandawa maupun Kurawa.

Dharmaputra menginginkan sesuatu yang memang pantas dituntut. Ia hanya menginginkan kebaikan, bahkan pada anak-anak Destarata yang telah menipu dan membuatnya sengsara. Dalam memberikan pertimbangan, mohon mengingat tipu muslihat yang telah dilakukan para Kurawa serta kehormatan dan keluhuran budi para Pandawa. Mari kita cari jalan penyelesaian yang terhormat dan adil. Kita tidak tahu apa yang ada di benak Duryudana. Menurutku kita perlu mengirimkan utusan yang tegas dan jujur untuk membujuk Duryudana supaya mengambil jalan damai dengan mengembalikan separuh kerajaan kepada Yudhistira.”

Kemudian, Balarama berdiri dan angkat bicara: “Saudara-saudara, kita telah mendengarkan Krishna. Usulan yang ia sampaikan adil dan bijaksana. Aku setuju dengan pendapatnya karena usulan itu baik bagi Duryudana maupun Dharmaputra. Tidak ada penyelesaian yang lebih baik bagi kedua belah pihak, jika putra-putra Kunti bisa mendapatkan kembali kerajaan mereka. Hanya dengan jalan demikian, akan tercipta kedamaian dan kebahagiaan di tanah ini. Harus ada orang yang menyampaikan keinginan Yudhistira dan membawa tanggapan Duryudana. Orang itu harus berwibawa dan punya kemampuan mengusahakan perdamaian dan saling pengertian.”

Lalu tambahnya lagi: “Utusan itu harus bisa bekerja sama dengan Bhisma, Destarata, Durna, Widura, Kripa, dan Aswatama, serta bahkan Karna dan jika mungkin, Sengkuni. Ia harus mendapat dukungan dari putra-putra Kunti. Ia juga tidak boleh mudah terpancing amarah. Dharmaputra yang tahu risiko pertaruhan, mempertaruhkan kerajaan dan kalah. Ia tidak menghiraukan nasihat teman-temannya. Meskipun tahu tidak mungkin mengalahkan Sengkuni yang ahli bermain dadu, Yudhistira terus saja bermain. Ia tidak boleh menuntut. Ia hanya boleh meminta kembali apa yang menjadi haknya. Utusan yang layak hendaknya bukan orang yang haus perang. Ia harus bisa berdiri netral, betapapun sulitnya mencapai penyelesaian secara damai. Saudara-saudara, aku berharap kita melakukan pendekatan dan berdamai dengan Duryudana, Marilah kita hindari peperangan. Peperangan hanya akan membawa kehancuran.”

Menurut pendapat Balarama, Yudhistira sadar sepenuhnya apa yang ia lakukan ketika mempertaruhkan kerajaannya. Oleh karena itu, sekarang dia tidak berhak memintanya kembali. Pemenuhan janji menjalani masa pengasingan di hutan hanya memberikan kebebasan pribadi para Pandawa dan bukan kerajaan. Dengan demikian, mereka tidak perlu lagi kembali ke hutan tetapi mereka tidak berhak menuntut kembali kerajaan mereka. Dharmaputra hanya boleh memohon, bukan menuntut sebagai hak, supaya semua yang telah ia pertaruhkan dikembalikan.

Balarama tidak suka menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan dalam satu keturunan yang sama. Dengan tegas ia katakan bahwa perang hanya akan membawa malapetaka. Pengarang Mahabharata memasukkan kebenaran abadi dalam kata-kata Balarama.

Mendengar kata-kata Balarama, Satyaki, kesatria Yadawa, tidak bisa menahan diri. Dengan marah, ia berdiri dan bicara keras:

“Menurutku kata-kata Balarama sama sekali tidak mencerminkan keadilan. Mungkin saja orang, dengan kecerdikannya, memenangkan suatu perkara. Tetapi, kecerdikan sama sekali tidak mengubah kejahatan menjadi kebajikan atau ketidakadilan menjadi keadilan. Aku menentang pendapat Balarama. Aku muak mendengar kata-katanya. Apakah kita berhadapan dengan pohon yang satu dan sama? Mengapa dahan yang satu rimbun dan melimpah buahnya sementara yang lainnya gersang tidak berbuah? Di antara kedua saudara ini, Krishna bicara dengan semangat melaksanakan dharma sementara Balarama memperlihatkan sikap yang tidak pantas. Jika kalian suka –tampak jelas sekali—Kurawa telah menipu Yudhistira dalam pembagian kerajaan.

Namun, mengapa kita biarkan ketidakadilan ini terjadi, seperti membiarkan pencuri memiliki barang-barang curiannya! Siapapun yang mengatakan Dharmaputra bersalah pasti mengatakannya karena takut pada Duryudana, dan bukan karena pertimbangan yang bisa diterima nalar. Saudara-saudara sekalian, maafkan kata-kataku yang kasar. Dharmaputra yang kurang pengalaman dan tidak ahli bermain dadu mau bermain dadu dengan orang yang lebih ahli bukan atas kemauannya sendiri. Tetapi dia didesak-desak dan dibujuk-bujuk untuk bermain dalam permainan yang sarat tipu muslihat. Mengapa sekarang Yudhistira harus menundukkan kepala dan meminta belas kasih di hadapan Duryudana. Ia telah menepati janjinya. Dua belas tahun masa pengasingan di hutan dan dua belas bulan hidup dalam penyamaran. Sedangkan Duryudana dan sekutunya tanpa malu dan dengan hina tidak mau menerima kenyataan bahwa Pandawa telah berhasil menepati sumpah.

Aku akan tundukkan orang-orang yang kurang ajar itu di medan perang. Mereka boleh memilih minta maaf kepada Yudhistira atau menghadapi kehancuran. Apakah perang yang didasarkan pada kebenaran itu salah? Memgbunuh musuh yang mengangkat senjata dan melawan. Meminta-minta di hadapan musuh jelas sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Jika Duryudana menginginkan perang, kita turuti saja keinginannya. Untuk itu, kita harus mempersiapkan diri. Jangan menunda-nunda. Marilah kita bersiap. Duryudana tidak mungkin melepaskan sebagian kerajaannya tanpa perang. Bodoh sekali kita buang-buang waktu.”

Drupada senang mendengar kata-kata Satyaki yang tegas. Ia berdiri dan katanya: “Satyaki benar. Aku setuju dengannya. Kata-kata yang lembut tidak akan bisa melunakkan hati Duryudana. Mari kita lanjutkan persiapan kita. Kita susun kekuatan untuk menghadapi perang. Jangan membuang waktu. Segera kumpulkan sekutu-sekutu kita. Kirimkan kabar kepada Salya, Dristaketu, Jayasina, dan Kekaya. Tentu saja, kita harus mengirimkan utusan yang cakap kepada Destarata. Brahmana, pendeta istana Negeri Panchala, bisa diandalkan untuk tugas ini. Kita hanya perlu menjelaskan apa yang harus ia katakan kepada Duryudana dan cara yang harus digunakan untuk bicara dengan Durna, Bhisma, dan Destarata.”

Setelah Drupada selesai bicara, Wasudewa bangkit dan berkata kepada Drupada: “Yang dikatakan Drupada tepat sesuai dengan tatanan. Baladewa dan aku memiliki ikatan kasih yang sama dengan Kurawa dan Pandawa. Kami datang ke sini untuk menghadiri pesta perkawinan Uttari. Sekarang, kami akan kembali ke negeri kami. Saudara-saudara sekalian, kalian adalah raja-raja besar, baik dalam usia maupun kebijaksanaan dan pantas memberikan nasihat kepada kita semua. Destarata pun menaruh hormat kepada kalian. Durna dan Kripa adalah teman sepermainan kalian dulu. Memang benar, sebaiknya kita utus brahmana, pendeta stana Panchala, untuk menyampaikan pesan damai ini. Jika ia gagal membujuk Duryudana untuk kembali ke jalan yang benar, kita harus bersiap menghadapi perang yang tidak terelakkan. Saudara-saudara, jangan lupa kirim kabar kepada kami.”

Pertemuan agung itu ditutup. Krishna pulang kembali ke Dwaraka bersama orang-orangnya. Para Pandawa dan sekutu melanjutkan persiapan mereka. Mereka mulai mengirimkan utusan kepada negara-negara sekutu. Dan mereka pun mulai sibuk mempersiapkan pasukan mereka.

Sementara itu, Duryudana dan saudara-saudaranya tidak tinggal diam. Mereka juga mulai mempersiapkan diri menghadapi perang. Mereka juga mengirim utusan kepada negara-negara sekutu supaya mempersiapkan diri menghadapi perang. Kabar persiapan perang kedua belah pihak segera menyebar ke seluruh penjuru: “Para utusan kedua belah pihak sibuk ke sana ke mari. Hal itu menimbulkan kegemparan. Sepertinya bumi bergetar menyaksikan persipan perang mereka.” Demikian kata pengarang Mahabharata. Tampak bahwa di zaman dulu persiapan pasukan yang dilakukan tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di zaman kita.

Drupada memanggil pendeta istana Panchala dan berkata: “Engkau tahu jalan pikiran Duryudana dan sikap Pandawa. Pergilah menghadap Duryudana sebagai utusan Pandawa. Kurawa telah menipu Pandawa dengan sepengetahuan Destarata. Raja itu memang tidak mau mengindahkan nasihat Widura. Tunjukkan pada raja tua yang lemah itu bahwa ia telah terseret oleh anak-anaknya ke jalan yang salah, jalan yang menjauhi dharma dan kebajikan. Kau akan mendapatkan pendukung dalam diri Widura. Mungkin dalam tugasmu ini, engkau akan menimbulkan beda pendapat di antara para tetua, seperti Bhisma, Kripa, dan Durna; demikian pula dengan panglima perang mereka. Jika itu terjadi, akan butuh waktu lama untuk mempertemukan perbedaan itu. Jika demikian, ini berarti keuntungan bagi Pandawa untuk menyelesaikan persiapan mereka. Sementara kau berada di Hastinapura untuk merundingkan perdamaian, persiapan Kurawa akan tertunda. Ini jelas akan menjadi keuntungan bagi Pandawa. Seandainya, terjadi keajaiban, kau bisa kembali dengan penyelesaian secara damai, itu jauh lebih baik. Aku tidak berharap Duryudana akan setuju dengan penyelesaian secara damai. Namun demikian, mengirim utusan tetap akan menguntungkan pihak kita.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya