Adipati Jakasombo
DI bawah pemerintahan Prabu Parikesit, kerajaan Hastinapura dapat berkembang dengan baik. Didampingi para patihnya yang perkasa Parikesit membuktikan bahwa hasil didikan Baladewa dan eyang-eyangnya Pandawa, telah menjadikannya sebagai raja muda yang tangguh, bijaksana dan adil.
Prabu Parikesit menikah dengan Dewi Setyawati putri Prabu Citraksa dari negri Cedi. Bersama Dewi Setyawati, Parikesit memiliki 3 putra tampan yaitu: Raden Udrayana, Raden Udrayaka dan Raden Udrasangsana.
Syahdan pada suatu hari, Prabu Parikesit mendengar kabar bahwa Adipati Jakasombo dari Mahespati sedang menyusun pemberontakan pada kerajaan Hastinapura.
Jakasombo adalah ipar Parikesit. Istri Jakasombo yang bernama Rukmini adalah kakak dari istri Parikesit yang bernama Setyawati. Rukmini dan Setyawati adalah anak dari Prabu Citraksa raja kerajaan Cedi.
Saat itu kebetulan terjadi pertikaian antara Prabu Citraksa dengan Prabu Gandareksa dari kerjaan Gandara. Jakasombo memanfaatkan pertikaian tersebut dengan memihak Gandara.
Para patih dan pengawalnya bingung karena itu berarti Jakasombo akan melawan mertuanya sendiri. Jakasombo tak peduli. Ia sangat percaya diri akan kekuatannya yang sakti, ditambah ia menilai bahwa Raja Parikesit adalah raja yang lemah. Jakasombo berencana memberontak pada Hastina secara terang-terangan.
Rukmini sedikit kecewa sekaligus sedih mendengar suaminya akan melawan ayahnya namun sebagai istri yang baik ia diam saja dan tidak melawan. Jakasombo yang percaya diri segera memimpin pasukan Mahespati menuju Cedi karena telah mendengar pasukan Gandara sudah berada di sana dan siap berperang.
Sementara itu di Cedi, Gandara sudah melakukan serangan. Peperangan antara Gandara dan Cedi pun berlangsung sengit. Untung Cedi memiliki patih yang sangat sakti yaitu Patih Sembada. Pasukan Gandara tidak sanggup menembus pertahanan istana Cedi karena dihadang pasukan yang dipimpin Sembada. Bahkan Prabu Gandareksa sendiri tak sanggup melawan Patih Sembada. Di saat kemenangan sudah hampir di tangan, Prabu Citraksa kaget dengan kedatangan Jakasombo menantunya. Dikiranya Jakasombo akan membantu dirinya namun ternyata Jakasombo malah membantu Gandara memenangkan pertarungan. Prabu Citraksa berhasil ditawan Jakasombo menantunya yang khianat, sementara patih Sembada berhasil meloloskan diri dan mengadu ke Prabu Parikesit di Hastinapura.
Sembada: Ketiwasan Gusti,..kami tidak mengira bahwa sedemikian rendah budi Adipati Jakasombo yang berani durhaka melawan mertuanya sendiri...
Parikesit: Jagad Dewa Bathara, kalau adimas Jakasombo sudah berani melawan kanjeng rama Citraksa...tentu tinggal tunggu waktu, dia akan melebarkan jajahannya ke sini...
Bambangkaca: Gusti Prabu, saya dengar Adipati Jakasombo itu memiliki kesaktian yang luar biasa, tidak ada senjata apapun di muka bumi ini yang bisa menembus kulitnya...wah..wah...lalu bagaimana kita mengalahkannya.
Parikesit: Kakang patih Bambangkaca, sehebat apapun kesaktian seseorang, tentu ada pengapesannya demikian juga Adimas Jakasombo...hemmmm....untuk tahu pengapesan ini, kita harus mendekati istri Jakasombo, yayi Rukmini...aah semoga istriku bisa mengguggah nurani Rukmini, untuk mau membuka rahasia suaminya yang sudah mengkhianati ayahnya.
Saat malam menjelang, Dewi Setyawati mengajak emban setianya Limbuk dan Cangik mengunjungi adiknya Dewi Rukmini di kadipaten Mahespati. Kebetulan saat itu Rukmini sedang sendirian di taman keputren karena suaminya sedang menyerang kerajaan Cedi.
Kedua putri cantik itu berpelukan melepaskan kerinduannya, terdesak oleh perasaannya yang mengharu biru, Rukmini menumpahkan kesedihannya dengan menangis di pundak kakaknya Setyawati.
Rukmini: Duh Kakangmbok...dosa apa yang harus aku sandang, hingga suamiku berani melawan ayahku sendiri kangmbok...
Setyawati: Diajeng Rukmini...sudahlah adikku sayang, kehadiranku ini menjadi bukti, bahwa kami tidak meninggalkanmu...Rukmini, suamimu sudah keterlaluan...wajib bagi kita membela ayahanda yang dikhianati...
Rukmini: Iya ayunda...tapi bagaimana caranya, dia suamiku sendiri...apa yang harus aku lakukan...
Setyawati: Suamimu adalah ksatria yang sakti, sulit bagi kami mengalahkan dia. Bahkan paman patih Sembada saja kalah oleh suamimu...diajeng, sebagai istrinya, tentu engkau tahu kelemahannya...adikku sayang, uraikanlah kelemahan suamimu...mari kita bebaskan ayahanda kita...ingat adikku...keangkaramurkaan suamimu adalah dosa besar yang akan menghantui hidup kita...dan jangan lupa Rukmini...bekas suami itu ada...sementara hubungan ayah dan anak tidak akan ada bekasnya.
Makin keras tangis Rukmini di pundak Setywati, akhirnya dibukalah rahasia suaminya, yang memiliki pengapesan Burung Garuda di kamar rahasia yang harus selalu di jaga Rukmini. Burung Garuda itu menyimpan sukma Jakasombo yang bertukar nyawa dengan seorang Pertapa Sakti.
Setelah mendengar Rahasia pengapesan Jakasombo, Prabu Parikesit meminta bantuan Raja Muda Wirata, Prabu Wretsangka, putra dari Raden Wratsangka yang gugur di Baratayuda. Prabu Wretsangka yang masih sepupu Parikesit dari jalur ibunya Dewi Utari ini, dulu adalah pacar Rukmini sebelum menikah dengan Jakasombo.
Kehadiran diam-diam Prabu Wretsangka di Keputren Mahespati mengejutkan Dewi Rukmini, membuatnya kalut dan serba salah. Masa lalunya yang indah dengan Wretsangka, kegagalan hubungan mereka dan perkawinannya yg tidak bahagia dengan Jakasombo, membuat Rukmini gamang ....Akhirnya Rukmini mengajak Wretsangka menuju ruang penyimpanan Burung Garuda. Tempat itu adalah kamar yang berlapis emas dan digunakan sebagai kandang bagi seekor burung Garuda besar peliharaan Jakasombo. Menurut Rukmini, ruh atau sukma Jakasombo dan Garuda itu adalah satu. Selama Garuda itu hidup maka Jakasombo tidak akan bisa mati.
Wretsangka yang akhirnya tahu rahasia Jakasombo, segera melepas anak panahnya ke arah sang burung Garuda itu. Ketika anak panah mengenai burung besar itu, burung itu segera berubah menjadi asap dan menjelma sebagai seorang kakek. Kakek itu ternyata tergolong kaum dewata yang dikutuk Bhatara Wisnu sehingga harus “mengabdi” pada sukma Jakasombo. Sukma kakek yang bernama Dhayuwisarawa itu bertukar dengan sukma Jakasombo sehingga Jakasombo tidak akan bisa mati karena memiliki energi dewata. Panah Wretsangka justru melenyapkan kutukan kakek Dhayu. Bahkan kakek Dhayu bersedia membantu Wretsangka membunuh Jakasombo. Wretsangka pun segera mengajak kakek Dhayu pergi ke Hastina. Rukmini tidak mau ditinggal, setidaknya dia ingin ikut Wretsangka agar bisa bertemu Prabu Citraksa raja Cedi Ayahandanya tercinta.
Pagi yang cerah, keesokan harinya dari kerajaan Cedi yang berhasil ditaklukkan, Jakasombo dan sekutunya pergi menuju Hastinapura. Sesampai di Hastina, Jakasombo bingung karena biasanya di perbatasan banyak pasukan Hastina, namun kali ini tidak ditemukan seorang pun. Jakasombo pun menyuruh pasukan terdepannya merampok makanan dari desa-desa di perbatasan itu. Pasukan suruhannya pun segera pergi ke desa namun mereka heran karena tidak dijumpai seorangpun penduduk desa itu. Ketika para pasukan kebingungan dengan kondisi desa yang sepi, tiba-tiba muncullah pasukan Hastina dari persembunyian dan menghabisi pasukan Jakasombo.
Seorang prajurit yang berhasil lolos segera kembali ke tenda Jakasombo dan melaporkan kejadian tersebut. Jakasombo marah mendengar strategi ini diapun mengerahkan pasukan nya menyerbu masuk perbatasan Hastina. Setelah masuk, Jakasombo heran kondisi tempat itu sangat sepi. Jakasombo dan pasukannya pun terus bergerak semakin dalam ke wilayah Hastina, hingga tiba di suatu padang rumput luas. Tiba-tiba muncul pasukan Hastina yang mengepung pasukan Jakasombo. Pasukan Jakasombo yang belum siap pun kewalahan melawan pasukan Hastina. Meski demikian, Jakasombo yang benar-benar sakti itu berhasil menahan serangan pasukan Hasti sehingga kedua kubu terlihat sama kuat. Malam pun tiba dan peperangan harus dihentikan sementara.
Keesokan harinya pasukan Hastina kembali berperang melawan pasukan Jakasombo. Pasukan kali ini dipimpin oleh dua patih Parikesit yaitu Bangbangkaca dan Sancaka. Bangbangkaca kewalahan ternyata rumor itu benar bahwa kulit Prabu Jakasombo bagaikan baju besi yang tidak bisa ditembus senjata. Meski bingung bagaimana caranya membunuh Jakasombo, perlawanan tetap difokuskan pada pasukan Jakasombo serta raja-raja sekutunya yang ikut dalam peperangan itu.
Di tengah-tengah pertempuran yang seru itu, tiba-tiba salah seorang pengawal kerajaan Mahespati datang memberitahu Jakasombo bahwa permaisuri Rukmini hilang dari istana. Jakasombo yang kaget mendengar berita itu segera mengkhawatirkan Rukmini. Sebenarnya bukan Rukmini yang ia khawatirkan melainkan Garuda saktinya itu karena jika Rukmini tidak ada lalu siapa yang menjaga dan memelihara Garuda itu agar tidak mati. Jakasombo pun segera memerintah pasukannya tetap bertahan sementara dirinya pulang kembali ke Mahespati. Sampai di Mahespati, Jakasombo mencari-cari istrinya itu. Kecemasannya pun menjadi kenyataan, Garuda miliknya juga lenyap. Jakasombo khawatir bukan kepalang karena Garuda itulah rahasia kesaktiannya. Lebih celakanya lagi Jakasombo mendengar bahwa istrinya dibawa kabur oleh Prabu Wretsangka. Jakasombo pun marah besar, apalagi dia tahu bahwa istrinya dan Wretsangka dulu pernah punya hubungan spesial. Jakasombo pun segera kembali menuju Hastina.
Jakasombo yang datang kembali ke medan tempur dengan emosi mencari Wretsangka. Di pikiran Jakasombo, masih menjadi misteri bagaimana Garudanya bisa hilang atau apakah Rukmini turut membawa lari Garudanya. Dengan pikiran dan perasaan yang tak menentu serta diselimuti emosi, Wretsangka menantang Jakasombo berkelahi. Adu jotos keduanya berlangsung sengit. Hingga ketika Wretsangka melepaskan anak panahnya, kakek Dhayu segera muncul dan menukar kembali sukmanya dengan sukma asli Jakasombo. Jakasombo saat itu kehilangan kesaktiannya, anak panah Wrestsangka pun menancap di jantungnya. Jakasombo pun tewas.
Pemberontakan Jakasombo dapat dipatahkan, Negeri Hastinapurapun kembali tentram dan damai. Prabu Citraksa dibebaskan, dan atas restu beliau Dewi Rukmini diperkenankan dipersunting oleh Prabu Wretsangka Raja Kerajaan Wirata.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


