Sais Kereta Arjuna
SEMENTARA Drupada mengirimkan pendeta istana Panchala untuk merundingkan perdamaian ke Hastinapura, Pandawa mengirim utusan ke Dwaraka. Arjuna sendiri yang pergi ke Dwaraka.
Dari mata-mata, Duryudana tahu bahwa Arjuna hendak menemui Krishna. Karena itu, ia tidak tinggal diam. Tahu bahwa Wasudewa (Krishna) kembali ke Dwaraka, ia segera pergi dengan keretanya yang paling cepat. Demikianlah, Duryudana dan Arjuna sampai di Dwaraka pada hari yang sama.
Krishna sedang tidur lelap. Tetapi karena mereka kerabat dekat, Arjuna dan Duryudana bisa masuk ke ruang tidur Krishna. Mereka menunggu Krishna bangun. Duryudana yang masuk terlebih dahulu langsung duduk di kursi empuk di dekat kepala tempat tidur. Sementara itu, Arjuna tetap berdiri di kaki tempat tidur. Ketika Mahadewa bangun, yang pertama tampak olehnya adalah Arjuna yang berdiri memberi salam. Krishna membalas dengan mengucapkan selamat datang. Kemudian ia menoleh dan melihat Duryudana. Ia juga mengucapkan salam selamat datang. Kemudian, Krishna menanyakan apa maksud kedatangan mereka. Duryudana yang pertama bicara.
Katanya: “Tampaknya perang akan segera pecah di antara kita. Jika perang itu memang tidak bisa dihindari, engkau harus berada di pihak kami. Arjuna dan aku sama-sama kau kasihi. Kami berdua adalah kerabat dekatmu. Aku datang ke sini lebih dulu daripada Arjuna. Sesuai dengan tradisi dan kesopanan, yang lebih dulu datang harus dilayani lebih dulu. Janardana, engkau adalah orang termulia di antara orang-orang mulia. Maka berilah teladan pada yang lain. Bertindaklah sesuai dengan dharma dan mohon diingat akulah yang datang lebih dulu.”
Jawab Puroshottama: “Putra Destarata, boleh jadi engkau datang lebih dulu, tapi Arjunalah yang pertama aku lihat. Jika engkau yang datang pertama, Arjunalah yang pertama terlihat mataku ketika terjaga. Maka, tuntutan kalian berdua sama bagiku. Aku harus memberikan bantuan kepada kalian. Dal;am menjatuhkan pilihan, menurut tradisi kesempatan sebaiknya diberikan kepada yang lebih muda. Karena itu, aku akan memberikan kesempatan pertama kepada Arjuna. Bangsa Narayana dalam hal kekuatan perang bisa dikatakan setara denganku. Mereka adalah bangsa yang kuat dan hampir mustahil untuk dikalahkan. Karena itu, dalam pembagian bantuan ini, mereka akan berada di satu sisi dan aku pribadi akan menjadi sisi yang lain. Tetapi aku tidak menggunakan senjata dan tidak akan ikut berperang.”
Sambil memandang Arjuna, ia berkata: “Partha, pikirkan masak-masak. Apakah engkau menghendaki aku pribadi yang tanpa senjata atau seluruh bala tentara Narayana yang gagah perkasa? Gunakan hak untuk memilih lebih dulu yang oleh tradisi diberikan kepada yang lebih muda.”
Krishna belum selesai bicara ketika Arjuna menjawab dengan tegas dan tanpa ragu-ragu: “Aku akan lega jika engkau ada di pihak kami, meskipun tanpa senjata.”
Duryudana tidak bisa menahan kegembiraan. Dia pikir Arjuna bertindak bodoh. Dengan senang hati ia memilih bala tentara Wasudewa. Ouas dengan pilihannya, Duryudana pergi menghadap Baladewa dan menceritakan apa yang telah ia peroleh dari Krishna.
Setelah Duryudana selesai bercerita, Balarama yang perkasa bicara: “Duryudana, mereka pasti telah mengatakan apa yang aku ungkapkan pada pesta perkawinan putri Wirata. Aku membela kalian dan mendesakkan apa pun yang bisa aku katakan untuk kalian. Aku sering bicara dengan Krishna bahwa kita memiliki ikatan yang sama kuat dengan Pandawa dan Kurawa. Tapi, ia tidak mau mendengarkanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mungkin membela pihak yang tidak dibela Krishna. Duryudana, kau berasal dari keturunan yang terhormat. Seandainya perang tidak bisa lagi dihindarkan, bertindaklah sesuai dengan watak seorang kesatria.”
Duryudana kembali ke Hastinapura dengan hati membumbung ke angkasa. Katanya pada diri sendiri: “Arjuna telah bertindak bodoh. Pasukan Dwaraka yang terkenal gagah perkasa akan bertempur dipihakku dan Balarama pun memberikan restu kepadaku. Sementara itu, Wasudewa hanya sendirian dan tidak membawa pasukan apa pun.”
Tanya Krishna kepada Arjuna setelah Duryudana pergi: “Dananjaya, mengapa engkau memilih aku yang sendirian tanpa senjata juga pasukan dan membiarkan bala tentara Dwaraka yang perkasa bertempur di pihak Duryudana?”
Jawab Arjuna: “Aku ingin mencapai kebesaran seperti keagunganmu. Engkau memiliki kekuatan dan kesaktian untukmenghadapi semua kesatria di bumi ini. Aku merasa kelak aku akan bisa seperti itu. Oleh karena nya, aku ingin memenangi pertempuran dengan engkau sebagai sais keretaku, tanpa senjata. Aku sudah memimpikan kesempatan ini sejak lama dan hari ini engkau memenuhi keinginanku.”
Wasudewa tersenyum lagi dan katanya: O, jadi engkau ingin menyaingiku? Semoga engkau berhasil.” Krishna senang dengan keputusan Arjuna.
Demikianlah kisah bagaimana Krishna bisa menjadi sais kereta Partha.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


