Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Writra

Kamis, 5 Maret 2015

INDRA, penguasa tiga dunia, suatu ketika mabuk kehormatan hingga melupakan sopan santun. Ketika Brihaspati, guru para dewa --yang terkenal menguasai semua cabang keilmuan dan dihormati baik oleh dewata maupun raksasa-- datang menghadap, Indra tidak bangkit berdiri untuk menyambut dan mempersilahkan acharya itu duduk. Tindakan Indra ini bertentangan dengan adat sopan santun. Dengan sombong, Indra berkata pada dirinya sendiri bahwa di istana, raja memiliki hak istimewa dalam menerima tamu.

Brihaspati merasa tersinggung dengan ketidaksopanan Indra dan menganggapnya sebagai keangkuhan orang yang berpunya. Karena itu, dia diam-diam meninggalkan ruang pertemuan. Tanpa pendeta tertinggi para dewa, istana kehilangan keagungan dan wibawa. Istana para dewata menjadi tempat pertemuan yang tanpa wibawa.

Indra segera menyadari kebodohannya dan merasakan akibat ketersinggungan sang acharya tersebut. Dia pikir dia bisa menyelesaikan masalah ini dengan berlutut di depannya dan mohon ampunan. Tetapi Indra tidak bisa melakukan niatnya itu karena ketika marah Resi Brihaspati membuat dirinya tidak tampak oleh siapa pun. Dengan kepergian Brihaspati, kesaktian Indra menjadi berkurang. Sementara itu, para raksasa justru semakin bertambah sakti. Akibatnya para raksasa menyerang kerajaan dewa. Kemudian, Batara Brahma, yang merasa jatuh kasihan pada kegelisahan para dewa, menasihati mereka untuk mengangkat acharya baru.

Kata Brahma kepada mereka: “Karena kebodohan Indra, kalian kehilangan Brihaspati. Pergilah pada Putra Twastha, Wiswarupa, dan mohonlah kepadanya supaya berkenan menjadi guru kalian dan semuanya akan kembali baik seperti semula.”

Kata-kata Brahma membesarkan hati mereka. Lalu mereka menemui petapa muda itu dan memohon supaya berkenan menjadi guru para dewata. Kata mereka: “Meskipun masih muda dalam usia, engkau memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kitab Weda. Mohon berkenan menjadi guru kami.”

Untunglah bagi para dewa, Wiswarupa berkenan menerima permohonan mereka. Berkat bimbingan dan pengajarannya, mereka lepas dari gangguan para raksasa.

Ibu Wiswarupa adalah raksasa keturunan daitya. Karena itu, Indra menaruh curiga kepada Wiswarupa. Indra khawatir Wiswarupa akan berkhianat. Kecurigaan Indra semakin bertambah. Merasa diri dalam bahaya karena keturunan musuh para dewa itu, Indra berusaha menjebak Wiswarupa dengan para perempuan penggoda istana. Jika berbuat dosa, kekuatan spiritual Wiswarupa akan berkurang. Tetapi Wiswarupa bergeming. Kepandaian para perempuan penggoda suruhan Indra sama sekali tidak ditanggapi petapa muda itu. Ia tetap teguh dengan sumpahnya sebagai brahmacarin. Menyadari rencana menggoda petapa muda itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, Indra memutuskan untuk membunuh Wiswarupa dengan Wajrayudha.

Karena dosa Indra itu, bumi mengalami malapetaka. Bumi menjadi gersang dan tidak bisa lagi ditanami. Para perempuan mengalami masalah kesehatan dan kebersihan. Ketiadaan air yang bersih semakin memperburuk keadaan.

Twastha amat sedih dan marah besar mendengar kematian putranya. Ia berniat membalas dendam dengan melakukan upacara persembahan api. Dari kobaran api persembahan muncullah musuh besar Indra, Writra. Kemudian, Twastha memerintahkan Writra untuk menyerang Indra. Katanya: “Musuh besar Indra, semoga engkau menjadi semakin sakti dan bisa membunuh Indra.”

Maka terjadilah pertarungan yang amat sengit di antara mereka berdua. Writra berada di atas angin. Ketika pertempuran tampak akan dimenangkan oleh Writra, para dewa berlarian mencari perlindungan kepada Mahawisnu. Kata Mahawisnu: “Jangan takut. Aku akan masuk ke dalam senjata pusaka Indra, Wajrayudha. Pertarungan itu akan dimenangkan oleh Indra.” Mendengar itu, para dewa kembali dengan hati tenang.

Mereka pergi kepada Writra dan berkata: “Akhirilah permusuhanmu dengan Indra. Kalian berdua sama-sama sakti dan berani.”

Dengan hormat Writra menjawab: “Wahai para suci, bagaimana mungkin aku dan Indra bisa berdamai? Maafkan aku. Tidak mungkin terjalin persahabatan di antara dua kubu yang bersaing berebut keunggulan. Seperti yang kalian tahu, dua kekuatan besar tidak mungkin saling bersanding.”

Kata para resi: “Jangan ragu. Dua jiwa yang baik pasti bisa menjalin persahabatan. Persahabatan semacam ini pasti tidak akan lekang dimakan waktu.”

Akhirnya Writra mengalah dan katanya: “Baiklah, aku akan menghentikan pertarungan. Tapi, aku tidak bisa percaya kepada Indra. Ia pasti akan menyerangku tatkala aku tidak siap. Maka, berilah aku anugerah, yaitu Indra tidak akan bisa membunuhku baik malam maupun siang, dengan senjata kering maupun basah, dengan kayu maupun batu, logam maupun panah.”

“Baiklah, kami kabulkan keinginanmu,” ucap para resi dan dewata.

Pertarungan pun tidak dilanjutkan. Memang, kekhawatiran Writra terbukti. Indra hanya berpura-pura bersahabat dengan Writra. Ia terus menantikan kesempatan untuk membunuh Writra. Suatu sore, ia bertemu dengan Writra di pantai. Ketika hari mulai gelap, Indra mulai menyerang Writra. Pertarungan sengit berlangsung lama sampai Writra berdoa kepada Batara Wisnu dan berkata kepada Indra: “Wahai yang paling kejam dari antara yang kejam, mengapa engkau tidak menggunakan Wajrayudha? Gunakan Wajrayudha yang disucikan Hari padaku dan aku akan mendapatkan berkat melalui Hari.”

Indra menebas pundak kanan Writra tapi tebasan itu tidak menyurutkan serangan Writra. Writra membalas dengan melemparkan gada besi dengan tangan kiri. Dan tangan kiri Writra pun terkena tebasan. Ketika Indra hilang ditelan mulut Writra, para dewa amat ketakutan.

Tapi Indra masih hidup. Ia robek dan jebol perut Writra dan berlari ke arah pantai. Ia arahkan petirnya ke samudera hingga terbentuk gelombang besar yang bergerak menghantam Writra. Ombak itu, karena telah dirasuki kekuatan Wisnu, menjadi kekuatan yang mematikan. Writra yang sakti mandraguna akhirnya tewas.

Pertarungan sengit itu akhirnya berakhir dan dunia yang bergejolak berangsur normal kembali. Tapi bagi Indra sendiri, kemenangabn itu amat memalukan karena ia mendapatkannya dengan tipu muslihat dan dosa. Saking malunya, ia pergi menyembunyikan diri.

Hilangnya Indra menyebabkan para dewa dan resi sangat susah. Rakyat tanpa raja atau dewan kerajaan yang memimpin tidak akan meraih kesejahteraan hidup. Mereka menghadap Raja Nasusha yang baik budi dan perkasa. Mereka minta raja supaya berkenan menjadi raja mereka.

Dengan rendah hati, Nasusha menjawab: “Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi rajamu. Aku tidak pantas menduduki kursi Indra dan mana mungkin aku bisa melindungi kalian?” Tetapi, para dewa terus mendesak: “Janganlah ragu. Kau akan memiliki semua kemampuan dan kesaktian kami dan apa yang kami miliki akan menjadi tambahan kekuatan bagimu. Jadilah raja kami. Kau akan mendapatkan kekuatan dan kesaktian yang kau inginkan dan kau akan menjadi tidak terkalahkan.” Akhirnya Nasusha tidak kuasa menolak permintaan para dewa.

Revolusi bukanlah hal baru. Kisah ini menunjukkan bahwa di dunia para dewa revolusi bisa menggantikan raja dan sebagai gantinya menobatkan Nasusha menjadi raja. Kisah kejatuhan Raja Nasusha juga sarat dengan pelajaran yang berharga.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya