Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Bambang Sancamuka

Jumat, 6 Maret 2015

CUACA mendung yang menghiasi temaram senja di Padukuhan Pring Sewu, membawa hawa yang tidak mengenakkan. Saat itu Bambang Sancamuka, putra Adipati Jayadrata sedang mendesak Togog dan Mbilung kedua punakawannya untuk mendapat kejelasan tentang kematian ayahnya.

Sancamuka: Paman Togog...mengapa harus dirahasiakan? Benarkah ayahku Adipati Jayadrata dibunuh oleh eyangnya Prabu Parikesit?

Togog: Raden...keng Rama itu sudah seda lama...sekarang paduka sudah menjadi rajamuda di Sindhu di bawah perlindungan Prabu Parikesit, mengapa harus mencari masalah Raden?

Sancamuka: Siapa yang mencari masalah? Aku mendengar khabar bahwa tewasnya ayahandaku...karena dibunuh Raden Arjuna, eyangnya Prabu Parikesit..karena itu jelaskan, Paman Togog, aku mengenalmu sebagai orang yang jujur..kamu pasti tahu kisah sebenarnya.

Mbilung : Hayooo..Mooo...buah nanas buah kedondong...biar hati ngga panas...ngomong dong...

Togog: Mbilung..jangan ikut-ikutan kamu...

Mbilung: Lah...bendaranya nanya kok..si romo, ngga jawab-jawab.. buah manggis ataukah anggur...jadi meringis kalau jawabnya ngawur....yooo...

Sancamuka: Paman Togog..kamu ini punakawanku, wajib bagimu menjelaskan sedanya ayahandaku, apa yang kamu takutkan?

Karena desakan Sancamuka dan ledekan-ledekan Mbilung akhirnya Togog menjelaskan bahwa ayah Sancamuka yang bernama Jayadrata dibunuh oleh Arjuna pada waktu perang Baratayuda sebab Abimanyu putra Arjuna dibunuh oleh Jayadrata.

Dendam bergolak di dada Sancamuka, iapun akhirnya melakukan pemberontakan terhadap Parikesit. Untuk memperkuat usahanya, Sancamuka memuja Dewi Gendengpremoni dari Setramayit, hingga tubuhnya kesurupan dan memimpin pemberontakan dengan kejam dan bengis.

Parikesit yang mendengar pemberontakan Sancamuka, didampingi para pepatihnya maju ke medan laga untuk meredakan pemberontakan. Kyai Semar Badranaya yang mendengar bahwa kekuatan Sancamuka dibantu oleh demit dan iblis dari Setragandamayit, segera menemui Parikesit.

Semar: Sang Prabu, tunggu dulu sebelum Paduka maju ke medan laga...terimalah pusaka eyangmu ini...pusaka ini selalu aku simpan dan tampaknya sekaranglah saatnya pusaka ini aku serahkan padamu...

Parikesit: Pusaka apa ini Paman Semar?

Semar: Ini Pasupati...panah sakti yang sanggup membasmi setan iblis marakayangan...sebelum engkau pentang gendewanya, sucikan dirimu dulu Sang Prabu...tetapkan hatimu, bahwa yang engkau bidik yang engkau basmi adalah demit setan yang merasuk ke tubuh Sancamuka...

Parikesit: Baik paman Semar...akan aku penuhi nasehatmu.

Akhirnya Sancamuka dapat dikalahkan dan dibunuh dengan senjata panah Pasopati milik Arjuna. Dewi Permoni keluar dari jasad Sancamuka dan menyuruh setan siluman agar masuk menjiwai binatang-binatang sehingga melakukan keributan. Kekacauan di seluruh negeri terjadi sehingga dua orang putera Parikesit yang kedua dan ketiga hilang dari keraton. Kedua putra itu adalah Raden Udrayaka dan Raden Udrasangsana.

Setelah sisa-sisa pemberontakan dapat dibersihkan oleh Patih Danurwendo dan Bambangkaca, Parikesit didampingi patih Arya Sancaka mengejar binatang-binatang jejadian ke tengah hutan untuk upaya mencari kedua putranya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya