Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Nahusha

Sabtu, 7 Maret 2015

DOSA yang dilakukan Indra ketika membunuh Writra membuat5nya kehilangan tahta dan menjadi pelarian. Nahusha diangkat menjadi raja menggantikan Indra.

Berkat kebaikan hati dan kemasyhurannya ketika menjadi raja di bumi, Nahusha memerintah dengan baik pada awal masa pemerintahannya. Karena berubah menjadi lalim, kelak ia akan mengalami kejatuhan. Kehormatan menjadi raja para dewa membuatnya menjadi sombong. Ia kehilangan kerendahan hati dan menjadi tamak.

Nahusha memperturutkan kesenangan-kesenangan surgawi dan membiarkan diri dikuasai asmara. Suatu hari, ia melihat istri Indra dan jatuh hati kepadanya. Karena dikuasai pikiran jahat, ia berkata dalam pertemuan para dewata dengan nada memerintah: “Mengapa Sakidewi, permaisuri raja para dewa tidak datang kepadaku? Bukabkah sekarang akulah raja kalian? Bawa dia ke istanaku!”

Mendengar kabar itu, istri Indra marah besar. Karena takut dan sedih, ia pergi minta perlindungan kepada Brihaspati. Katanya: “Guru, lindungilah aku dari keparat itu.” Brihaspati berjanji akan memberikan perlindungan dan katanya: “Jangan takut. Tidak lama lagi Indra akan kembali. Tinggallah di sini. Kau akan bertemu dengan suamimu kembali.”

Ketika tahu bahwa Sakidewi tidak menuruti keinginannya dan meminta perlindungan kepada Brihaspati, Nahusha marah besar.

Amarah raja membuat takut para dewa. Mereka berkata: “Raja para dewa, janganlah engkau murka. Amarah akan membuat dunia berduka. Sakidewi adalah istri dewa lain. Paduka Raja mohon tidak menginginkan milik dewa lain. Jangan menyimpang dari jalan kebenaran.”

Tetapi, Nahusha yang mabuk kepayang tidak mendengarkan nasihat mereka. Dengan mengejek, ia berkata: “Ketika Indra terjerat nafsu pada Ahalya, mengapa kalian hanya diam saja? Mengapa kalian tidak mengingatkannya? Dan sekarang mengapa kalian ribut? Apa yang kalian lakukan ketika Indra tanpa tahu malu membunuh Wiswarupa yang sedang bertapa dan di manakah nasihat-nasihat jalan kebenaran kalian ketika Indra membunuh Writra dengan cara yang licik? Takdir Sakidewi adalah datang padaku dan menjadi istriku. Sebaiknya kalian membujuknya supaya mau menerima keinginanku dan menjadi istriku. Nah, pikirkan itu,” perintah Nahusha.

Para dewa yang takut memutuskan, membicarakan masalah ini degan Brihaspati. Mereka berusaha membawa Sakidewi kepada Nahusha. Kemudian, mereka pergi menghadap Brihaspati dan menyampaikan apa yang dikatakan Nahusha. Mereka memohon supaya Sakidewi berkenan menerima keinginan Nahusha.

Mendengar itu, badan Sakidewi yang suci murni menetar karena rasa malu dan takut. Katanya: “Oh, Dwata! Aku todak bisa menerima keinginannya. Aku mohon perlindunganmu. Wahai Brahmana, lindungi aku.”

Brihaspati menghiburnya dan berkata: “Aku pasti akan menemui kehancuran jika mengabaikan orang yang meminta perlindungan kepadaku. Bumi tidak akan menumbuhkan bibit-bibit tanaman yang kusebarkan. Aku tidak akan menyerahkanmu. Kejatuhan Nahusha tinggal menunggu waktu; jangan takut.” Kemudian Brihaspati memperlihatkan cara mengatasi masalah ini dengan menyuruhnya untuk melakukan persembahan. Sakidewi yang cerdas langsung bisa menangkap maksud perkataan Brihaspati. Ia segera pergi ke istana Nahusha.

Melihat Sakidewi, Nahusha tidak kuasa mengendalikan nafsu amarah dan keangkuhan. Dengan gembira katanya: “Dewiku yang rupawan, jangan gentar. Aku adalah penguasa tiga dunia; menerimaku sebagai suami tidak akan membuatmu berdosa.”

Mendengar kata-kata raja yang jahat itu, Indrani, istri Indra, yang berbudi luhur gemetar untuk beberapa saat. Tetapi tidak lama kemudian, ia bisa mengendalikan diri. Jawabnya: “Paduka Raja, sebelum aku menjadi istrimu. Aku ingin mengajukan permohonan. Apakah Indra masih hidup? Jika masih hidup, di manakah dia berada? Jika setelah mencarinya aku tidak menemukannya, aku siap menerima pinangan menjadi istrimu tanpa takut dosa.”

Kata Nahusha: “Apa yang kau katakan memang benar. Pergilah dan carilah Indra. Passtikan kau segera kembali. Ingat janjimu.” Setelah berkata demikian, ia menyuruh Sakidewi kembali ke kediaman Brihaspati.

Para dewa menghadap pada Mahawisnu dan menceritakan kejahatan yang dilakukan Nahusha. Kata mereka: “Paduka, engkaulah yang membunuh Writra tapi Indralah yang harus menanggung malu. Ia kehilangan muka dan tidak berani menunjukkan diri karena dosa itu. Mohon Paduka berkenan menunjukkan cara untuk menebus dosanya.” Jawab Narayana: “Mintalah ia berdoa kepadaku dan ia akan bersih dari dosanya. Nahusha yang berhati jahat akan binasa.”

Sakidewi melakukan upacara persembahan untuk Dewi Kesucian dan mohon anugerahnya. Berkat bantuan Dewi Kesucian, Sakidewi bisa menemukan persembunyian Indra. Indra mengubah diri menjadi atom (partikel yang kecil) dan menyembunyikan diri dalam serat bunya teratai yang tumbuh di Manosarowar. Ia melakukan tapa brata sambil menunggu saat yang tepat. Sakidewi tidak bisa menahan kesedihan ketika melihat kemalangan yang harus ditanggung suaminya. Ia tidak kuasa menahan tangis. Kepada suaminya ia ceritakan masalah yang ia hadapi.

Indra menghibur istrinya dengan berkata: “Kejatuhan Nahusha tinggal menunggu waktu. Pergilah kepadanya sendirian dan katakan bahwa engkau setuju untuk menerima pinangannya. Mintalah ia untuk mendatangimu dengan membawa tandu yang dipanggul tujuh resi. Setelah itu, Nahusha akan menemui kehancurannya.”

Maka pergilah Sakidewi kepada Nahusha dan pura-pura mau menerima pinangannya karena diminta Indra. Saking gembiranya melihat Sakidewi kembali dan mau menerima pinangannya, Nahusha yang bodoh menjawab: “dewi yang terberkati, aku adalah budakmu. Aku akan turuti semua keinginanmu. Kau sudah menepati janjimu.”

Kata Sakidewi: “Ya, aku sudah kembali. Engkau akan menjadi suamiku. Aku ingin kau melakukan sesuatu yang sangat aku idamkan. Bukankah kau raja penguasa dunia? Aku ingin engkau datang ke kediamanku dengan keagungan yang lebih besar daripada Batara Wisnu, Rudra, atau raksasa. Aku akan sangat gembira dan menerima pinanganmu dengan suka hati.”

Nahusha terjebak. Jawabnya: “Oh, gagasan yang cemerlang. Pikiranmu luar biasa. Aku sangat senang. Aku akan memerintahkan para resi agung untuk memanggulkan tandu untukku. Aku yang terberkati dengan kemampuan menyerap kesaktian orang dengan mataku akan melakukan seperti yang kau minta.”

Setelah berkata demikian, ia menyuruh Sakidewi pulang. Nahusha yang sedang kepayang memanggil para resi danmemerintahkan mereka untuk memanggul tandu. Mendengar perintah yang melanggar kesakralan, para resi terperanjat dan gemetar. Keadaan menjadi semakin buruk ketika mereka memanggul tandu itu. Terbakar angan-angan Sakidewi yang jelita menantikan kedatangannya, ia tidak sabar untuk segera sampai di kediaman Sakidewi. Ia mulai mendorong-dorong para resi yang memanggul tandu untuk berjalan lebih cepat.

Saking tidak sabarnya, ia tendang Resi Agastya, salah satu resi yang ikut memanggul, sambil berkata ‘sarpa, sarpa’ (‘sSarpa’ berarti bergerak, tapi juga bisa berarti ular). Ketidaksabaran dan keangkuhan Nahusha mencapai puncaknya –Nahusha tidak bisa mengendalikan diri. Karena marah resi itu mengutuk Nahusha: “Yang paling kejam di antara yang paling kejam, engkau akan turun ke bumi dan menjadi ular di bumi.”

Seketika itu juga, Nahusha jatuh ke bumi. Kepalanya memanjang sampai ke bumi dan menjadi ular sanca di hutan. Ia harus menunggu sekian ratus tahun supaya bisa lepas dari kutukannya. Indra kembali menjadi raja para dewata dan kesedihan hati Sakidewi berakhir.

Dengan menghubungkan kisah penderitaan yang dialami Indra dan istrinya dengan penderitaaan Yudhistira dan Drupadi di Upaplawya, Salwa menghibur para Pandawa. Katanya: “Orang yang sabar akan menemui kebahagiaan. Orang yang angkuh karena harta kekayaannya akan menemui kehancuran. Kau dan saudara-saudaramu serta Drupadi telah mengalami penderitaan yang tidak terlukiskan seperti Indra dan istrinya. Penderitaaan kalian akan segera berakhir dan kalian akan mendapatkan kebahagiaan. Karna dan Duryudana yang berhati jahat akan menemui kehancuran seperti yang dialami Nahusha.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya