Kutukan Kematian Prabu Parikesit
DI tepi telaga di tengah hutan Wanamarta terdapat pertapaan Begawan Samiti. Sang Begawan sedang bersemedi tapa bisu, tidak boleh berbicara selama bersemedi. Parikesit sampai di pertapaan sang begawan. Karena kehilangan jejak buruannya, Parikesit bertanya apakah sang begawan tahu ke mana larinya buruannya.
Sang begawan diam membisu, Parikesit murka...dilihatnya ada bangkai ular tergeletak di pondok sang begawan, dikalungkannya bangkai ular itu sambil berkata, "Begawan, aku Raja Hastinapura yang seharusnya menjadi sesembahanmu..secara baik-baik aku bertanya padamu, tapi engkau memilih tetap berdiam diri tidak mau membatalkan semedimu...hemmm tak layak engkau dimuliakan sebagai brahmana, biarlah bangkai ular ini menjadi perhiasanmu, agar bau busuknya mengingatkan betapa busuknya engkau memperlakukan rajamu." Setelah itu Parikesit meninggalkan pertapaan Begawan Samiti diikuti para patih dan pengawalnya.
Saat Resi Srenggi putra Begawan Samiti datang ke pertapaan ayahnya, kagetlah Resi Srenggi melihat ayahnya yang sedang bertapa tanpa wicara berkalungkan bangkai ular yang bau busuknya menyengat. Disingkirkannya bangkai ular itu dan ditunggunya ayahnya menyelesaikan tapanya. Tiga hari kemudian Begawan Samiti menyelesaikan semedinya. Dijawabnya pertanyaan anaknya dengan hati-hati mengenai bangkai ular itu, yang diakuinya sebagai kesalahpahaman dari Prabu Parikesit. Resi Srenggi marah mendengar kesewenangan Parikesit pada ayahnya dan mengutuk Raja Parikesit agar mati digigit ular tujuh hari setelah kutukan diucapkan. Samiti kecewa pada anaknya yang telah mengutuk Raja Parikesit. Akhirnya ia pergi menemui raja tentang perihal kutukan tersebut, namun Raja Parikesit malu dan lebih memilih melindungi diri dari kutukan.
Selama 7 hari, Parikesit menyembunyikan diri di istana tidak mau keluar. Semua tata laksana pemerintahan dilakukan oleh para pepatihnya dan putra mahkotanya Raden Udrayana.
Tujuh hari hampir berlalu, senja itu pada hari yang ketujuh, Naga Taksaka pelaksana kutukan Resi Srenggi pergi ke Hastinapura. Di sana Sang Raja dilindungi dan dijaga oleh para brahmana, prajurit, dan ahli mengobati bisa ular. Agar mampu menjangkau Sang Raja, Naga Taksaka mengubah wujudnya menjadi ulat dan masuk dalam buah jambu. Lalu ia menyuruh naga yang lain untuk menyamar menjadi brahmana dan menghaturkan jambu tersebut. Pada saat sang raja menerima buah jambu dari brahmana yang menyamar tersebut, Naga Taksaka kembali ke wujud semula dan mengigit Raja Parikesit. Karena gigitan sang naga yang sakti, Raja Parikesit terbakar sampai menjadi abu.
Hastinapura geger....kematian Parikesit yang tragis, membuat seluruh kerajaan berduka. Atas kesepakatan para Pepatih, dinobatkanlah Udrayana sebagai Rajamuda Hastinapura dengan didampingi 4 pepatih sepuh.
Prabu muda Udrayana menerima penobatan itu dengan penuh tanggung jawab namun dibayang-bayangi duka yang mendalam atas kematian ayahnya dan hilangnya kedua saudaranya yang belum di ketemukan.
Untuk menghormati kematian ayahnya, Udrayana menyelenggarakan upacara Sarpahoma atau upacara pengorbanan ular. Ia mengundang para brahmana untuk mendukung upacara tersebut.
Saat upacara berlangsung, api dinyalakan. Beberapa saat kemudian, ribuan ular dengan berbagai bentuk melayang, seolah-olah ditarik menuju lokasi upacara dan sampai di sana mereka ditelan api upacara yang berkobar. Banyak ular yang masuk ke dalam api membuat api semakin berkobar disebabkan oleh lemak ular-ular tersebut.
Naga Taksaka yang berada di Nagaloka merasa cemas lalu mengutus putranya yang setengah naga setengah dewa, karena ibunya bidadari...karena itulah tidak terpengaruh mantera panggilan naga dan ular... putra Naga Taksaka ini bernama Astika diutus menemui Udrayana untuk memohon agar raja membatalkan upacaranya. Sang Astika bersedia melakukannya lalu turun ke bumi. Naga Taksaka lalu mencari perlindungan kepada Dewa Indra. Badannya sudah ditarik oleh mantra-mantra suci agar lenyap dalam api pengorbanan, sehingga ia memegang ujung pakaian Dewa Indra erat-erat. Namun mantra diperhebat sehingga tubuh Dewa Indra bergoyang, dan ia takut jangan-jangan ikut masuk ke tungku pengorbanan. Akhirnya Dewa Indra melepaskan Naga Taksaka.
Sementara itu Sang Astika turun ke bumi dengan pakaian brahmana dan menghadap Raja Udrayana. Sang Astika datang dengan takzim dan memuji keagungan sang raja.
Astika: Salam hormat, wahai rajamuda yang agung...tolong hentikan upacara Sarpahoma ini sang prabu...hamba khawatir upacara ini akan mengurangi keagungan Paduka...
Udrayana: Wahai brahmana muda, mengapa engkau katakan bisa mengurangi keagunganku? Aku memusnahkan ular dan naga yang hanya menjadi alat pelampiasan dendam berbisa...hingga ayahandakupun tewas oleh gigitan ular...
Astika: Ya sang Prabu...namun, upacara dengan mantra sakti paduka ini juga memusnahkan ular-ular kecil yang tidak berdosa...apakah bedanya paduka dengan para ular itu yang sama-sama diamuk dendam...
Udrayana: Justru aku melindungi rakyatku dari binatang berbisa yang berbahaya ini brahmana...kalau seorang raja seperti Prabu Parikesit saja bisa diperdaya...apalagi jalma sawantah...
Astika: Itulah yang hamba katakan paduka sedang diamuk dendam..padahal dalam wujudnya itu, ular-ular ini juga menjadi alat dewata untuk keseimbangan alam...bayangkanlah sang prabu, jika ular-ular ini musnah, siapa yang akan memangsa tikus-tikus yang mengganggu sawah ladang rakyat paduka...juga siapa yang akan menjadi obat bagi pagebluk yang memerlukan obat campuran dari bisa ular...
Udrayana: Jagad Dewa Bathara...omonganmu benar juga...tentu engkau bukan brahmana sembarangan. Jika aku hentikan upacara ini, maukah engkau membantuku mencari kedua saudaraku yang hilang...Raden Udrayaka dan Raden Udrasangsana?
Astika: Baik sang Prabu...hentikanlah upacara ini...maka akupun akan mengabdikan diriku padamu membantu mencari kedua pangeran yang hilang.
Atas ketulusan Sang Astika, Sang Raja mengabulkan permohonan tersebut. Naga Taksaka yang hampir ditelan api pengorbanan Sang Raja, nyawanya tertolong berkat usaha Sang Astika. Upacara pengorbanan pun dibatalkan dan Naga Taksaka kembali ke Nagaloka. Astika sekarang mengabdi di Hastinapura sebagai Ahli Pengobatan istana.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


