Prabu Udrayana
KISUTA.com - Prabu Muda Udrayana akhirnya dinobatkan sebagai raja Hastinapura menggantikan ayahnya Prabu Parikesit. Sang raja muda memimpin kerajaan besar itu dengan bijaksana didampingi patih-patihnya, Bambangkaca, Danurwenda, Arya Sancaka dan Jayasena.
Di sela-sela pemerintahannya, Sang Prabu terus berupaya menemukan saudara-saudaranya Udrayaka dan Udrasangsana yang hilang saat keributan mengamuknya binatang-binatang di Hastinapura pada zaman pemerintahan ayahnya.
Udrayana: Paman Patih Danurwenda, apakah sudah ada khabar dari mata-mata yang kita sebarkan ke segenap penjuru negri, di mana kira-kira adikku Udrayaka dan Udrasangsana berada?
Danurwenda: Maaf Gusti, sampai sekarang belum ada laporan satuan telik sandi kita tentang keberadaan para pangeran itu.
Udrayana: Aduuuh...makin lama mereka hilang kekhawatiranku makin tebal Paman. Sebenarnya kalau tidak ada hal yang mengkhawatirkan sebagai anak-anak remaja yang sekarang sudah menjelang dewasa kedua saudaraku itu seharusnya bisa datang sendiri ke Hastinapura.
Bambangkaca: Benar anak prabu, tapi tenangkan hatimu. Kalau musibah hilangnya kedua pangeran itu sampai membawa kematian, tentu ada bekasnya..tentu ada mayatnya...ini tidak ada sama sekali.
Jayasena: Saya usul...bagaimana kalau anak prabu membuka sayembara penerimaan tamtama muda...siapa tahu saat seleksi nanti, ada di antara para calon itu yang menyiratkan kehadiran para pangeran muda kita...yang mungkin lupa jati dirinya.
Usulan Jayasena diterima oleh Prabu Udrayana, segeralah kerajaan Hastinapura membuat persiapan sayembara penerimaan Tamtama Kerajaan. Pengumuman segera disebar ke seantero negri, bahkan sampai ke negri-negri tetangga.
Syahdan, bergulirnya waktu, sekelebat mengisahkan Pangeran Udrayaka yang waktu itu terkena arus kehebohan amukan para binatang di Hastinapura hingga tiba di pertapaan Bagawan Wilugangga di Gunung Selogiri. Untuk menyelamatkan Pangeran Udrayaka, iapun diangkat anak oleh resi itu secara rahasia. Di pertapaan sang resi, Udrayaka digembleng kanuragan dan ilmu kesaktian. Setelah dewasa, Udrayaka pergi ke Hastinapura bermaksud akan mengabdi kepada raja.
Hastinapura sedang menyelenggarakan sayembara pemilihan tamtama raja. Sebagai salah satu syaratnya adalah menundukkan seekor kuda yang ganas bernama Abrapuspa. Sayembara telah dimulai, ribuan anak muda pelamar Tamtama tidak ada yang dapat menaklukan Abrapuspa. Sebagian terpelanting saat menyentuh punggung sang kuda, sebagian lagi sudah kena sepak hingga pingsan saat mendekati sang kuda. Saat giliran Udrayaka, pangeran muda ini mendatangi kuda Abrapuspa dengan tenang, perlahan-lahan digunakannya aji gineng untuk berkomunikasi secara telepati dengan sang kuda. Abrapuspa kaget, kupingnya naik dan dengus nafasnya memburu ketika batinnya merasakan Udrayaka mencoba menyapanya dengan santun.
Udrayaka: Wahai Sang Abrapuspa, salam sejahtera untukmu...aku Udrayaka, ingin membelai surimu...ijinkanlah sebagai tanda engkau menerima ajakan persahabatanku...
Abrapuspa:..Hiiieeeh...hiiieeeh..(badan Abrapuspa bergunjang, kaki depannya dinaikkan ke atas sambil mendengus-dengus...setelah tenang, dia mengisyaratkan kesediaannya di dekati Udrayaka)
Dengan pendekatan yang lembut, Udrayaka dapat menundukkan kuda itu sehingga diterima sebagai Tamtama kerajaan.
Suatu hari Udrayana, raja Hastinapura ingin naik kuda Abrapuspa yang hanya tunduk kepada Udrayaka. Setelah Udrayaka naik kuda bersama-sama dengan Udrayana, kuda Abrapuspa merasa tidak senang dan kemudian lari tidak menentu arah bersama kedua penunggangnya sehingga akhirnya masuk hutan, meninggalkan para ponggawa dan pengawal raja yang panik dibuatnya.
Sementara itu, menelusuri hilangnya putra bungsu Parikesit, sekian masa lalu saat heboh Hastinapura, Udrasangsana tersesat di hutan dan ditemukan oleh Indrabahu, patih negeri Niantipura yang dirajai oleh Prabu Sulangkara. Udrasangsana diangkat anak oleh Indrabahu yang kebetulan tidk mempunyai anak. Setelah dewasa, Udrasangsana tumbuh sebagai jejaka yang tampan mirip Arjuna dan memiliki kepandaian melukis.
Karena Udrasangsana dapat melukis keadaan seluruh negeri Niantipura, oleh Prabu Sulangkara diberi gelar Raden Sungging Prabangkara. Selain itu Udrasangsana akan dikawinkan dengan Setiowati, puteri raja.
Menjelang pernikahannya terjadilah kecelakaan yang fatal. Udrasangsana sedang melakukan kegiatan yang disukainya yaitu melukis. Terkejutlah Prabu Sulangkara setelah lukisan Udrasangsana jadi ternyata Udrasangsana dapat melukis istana lengkap dengan seluruh isinya bahkan melukis Setiowati dengan tanda hitam pada payudaranya.
Prabu Sulangkara murka, dituduhnya Udrasangsana sebagai mata-mata yang menyusup dari negri lain dan telah berbuat tidak senonoh mengintip putri Setiowati. Tuduhan ini menyebabkan Udrasangsana dihukum berat. Tangan, kaki, telinga, hidung dipotong, sedangkan mata dicongkel yang kemudian badannya diterbangkan dengan layang-layang yang setelah menjulang tinggi tali layang-layang itu diputuskan. Udrasangsana jatuh di tengah hutan, atas kekuasaan Yang Maha Esa, melalui penciuman kuda Abrapuspa dapat ditemukan oleh Udrayana dan Udrayaka. Udrasangsana dapat disembuhkan kembali berkat azimat Udrayaka pemberian Resi Begawan Wilugangga.
Ketika ketiga orang itu berkumpul datanglah Semar memberi penjelasan bahwa mereka adalah tiga bersaudara kakak beradik putera Parikesit yang terpisah waktu Astina diamuk binatang-binatang.
Udrayana sangat terharu menemukan kedua saudaranya, kebahagiaan itu dia tuntaskan dengan pelukan hangat kepada adik-adiknya. Untuk menghukum kesewenangan Prabu Sulangkara Udrayana mengajak saudara-saudaranya bergerilya memberi pelajaran pada kerajaan Niantipura. Dewi Setiowati diculik oleh Udrasangsana. Dan segera dihadapkan pada kedua kakaknya.
Udrayana: Jagad Dewa Bathara, Dimas Udrasangsana...inikah putri Setiowati yang membuat badanmu di juwing juwing oleh Prabu Sulangkara...
Udrasangsana: Betul Kakaprabu inilah putri yang menjadi sebab musabab nestapa hamba.
Prabu Udrayana tertegun, kecantikan putri itu membetot sukmanya, tetapi pantaskah itu...sedangkan putri ini sebelumnya sudah dijodohkan dengan adiknya Udrasangsana.
Udrasangsana: Kakaprabu...mengapa tertegun? Bagaimana seterusnya ini...hamba telah menculik sang putri, tentu sebentar lagi para ponggawa Niantipura akan mengejar ke sini...
Setiowati: Udrasangsana...ternyata benar kecurigaan ayahandaku...engkau bukan manusia, buktinya tadi tubuhmu sudah terpotong-potong...bagaimana sekarang bisa utuh dan hidup lagi...(sang putri gemetar ketakutan)...siapa pula dua ksatria yang mirip denganmu ini...
Udrayana digerakkan hasrat hatinya mendekati Setiowati, sapanya lembut.
Udrayana: Duhai sang dewi yang rupawan...hentikan syak wasangkamu...kami bertiga bukanlah jin atau demit, yang bisa membuatmu ketakutan...kami putra-putra Prabu Parikesit...kedua saudaraku ini bertahun tahun hilang, hingga mereka tidak tahu ayahanda kami telah tiada. Sekarang aku Udrayana yang tertua menggantikan ayahku menjadi raja Hastinapura. Kelakuan ayahmu menghukum pangeran Udrasasangka adik bungsuku sangat kelewatan. Untunglah adikku Udrayaka memiliki kesaktian untuk menyembuhkan dan menghidupkan adi Udrasangsana. Aku mengijinkan adikku menculikmu, untuk memberi pelajaran negeri Niantipura.
Udrasangsana tanggap dengan perasaan kakandanya, diam-diam dia menata hati untuk mengikhlaskan Setiowati. Baginya ikatan di antara saudara kandung jauh lebih berharga, daripada perebutan seorang putri. Dengan isyaratnya dia mantapkan hati Udrayana untuk mendekati Dewi Setiowati.
Setyowati terkesan dengan kelemahlembutan Udrayana yang menunjukkan wibawanya sebagai raja kerajaan besar. Akhirnya Setyowati bekerjasama untuk bersandiwara memancing datangnya Prabu Sulangkara dan patih Indrabahu. Karena sesungguhnya negeri Niantipura masih di bawah kekuasaan Hastinapura.
Saat penantian itu tiba, armada Niantipura yang bagaikan air bah datang menyerang para pangeran muda Hastinapura yang juga sudah memanggil bala prajuritnya.
Udrayaka berperang melawan Prabu Sulangkara, peperangan yang dahsyat ini menyebabkan banyak pohon tumbang dan tanah terbelah oleh adu kesaktian mereka.
Di tengah-tengah pertempuran itu, Kyai Semar melerai mereka dan menjelaskan bahwa Prabu Sulangkara itu adalah masih keluarga dengan raja-raja Astina, maka diadakan perundingan untuk perdamaian dan ikatan di antara kedua kerajaan itu. Setiowati diijinkan kawin dengan Udrayana.
Bambang Kaca beserta para ponggawa datang ke Niantipura menghadiri pesta perkawinan. Setelah pesta selesai, Udrayana dan Setiowati beserta kedua adiknya dengan diiring oleh Semar dan para ponggawa, pulang ke Astina. Tiba di Astina disambut meriah oleh penduduk Astina di bawah pimpinan Arya Sancaka.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


