Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perutusan Sanjaya

Rabu, 11 Maret 2015

PARA Pandawa mendirikan perkemahan di Upaplawya, wilayah kerajaan Matsya. Dari sana mereka mengirimkan utusan kepada negara-negara sahabat. Para raja yang bersimpati pada Pandawa segera berdatangan dari seluruh penjuru. Berkat bantuan negara-negara sahabat, Pandawa bisa dengan cepat memiliki bala tentara kuat yang terdiri dari tujuh divisi. Sementara itu, bala tentara Kurawa berjumlah sebelas divisi.

Adapun pada zaman itu satu divisi terdiri dari 21.870 kereta kuda, 21.870 gajah, 65.500 kuda, dan 109.350 prajurit darat yang dilengkapi dengan berbagai senjata perang. Kereta kuda adalah "kendaraan lapis baja" zaman dulu dan gajah, yang dilatih khusus perang, bisa disamakan dengan "tank" zaman modern.

Pendeta Kerajaan Matsya tiba di Hastinapura. Sesuai tradisi, ia diterima dengan upacara kehormatan. Setelah memperkenalkan diri, pendeta itu bicara atas nama Pandawa. Katanya: "Hukum bersifat abadi dan memeiliki kewenangan tersendiri. Tuan semua tahu hal itu dan aku tidak perlu menjelaskannya. Destarata dan Pandu adalah putra Wicitrawirya. Menurut tradisi, mereka berdua berhak mewarisi harta kekayaan ayah mereka. Berlawanan dengan tradisi, putra-putra Pandu tidak mendapatkan apa-apa. Tindakan ini jelas tidak bisa dibenarkan. Wahai keturunan Kuru, para Pandawa menginginkan perdamaian. Mereka mau melupakan penderitaan yang mereka alami. Mereka tidak menginginkan peperangan. Mereka sadar perang tidak akan membawa kebaikan. Perang hanya akan membawa kehancuran. Oleh karena itu, berikanlah kepada mereka apa yang menjadi hak mereka sesuai dengan keadilan dan perjanjian yang telah dilakukan. Jangan menunda-nunda."

Setelah utusan itu selesai bicara, Bhisma yang bijaksana dan perkasa bangkit berdiri dan berkata: "Berkat karunia Dewata, Pandawa dalam keadaan baik dan sejahtera. Meskipun telah mendapatkan banyak dukungan dari banyak raja dan telah cukup kuat untuk berperang, Pandawa tetap berusaha mencari jalan damai. Kita harus mengembalikan apa yang menjadi hak milik mereka."

Bhisma belum selesai bicara ketika Karna dengan marah bangkit berdiri dan menyela. Katanya kepada pendeta utusan itu:

"Wahai Brahmana, apa yang kau katakan tidak ada yang baru. Tidak ada gunanya mengulang-ulang cerita lama. Yudhistira tidak berhak mendapatkan kembali bagiannya, ia harus memintanya sebagai pemberian. Tapi lihatlah! Dengan angkuh ia justru memilih untuk menuntut haknya. Ia merasa kuat dengan dukungan sekutu-sekutunya, terutama Matsya dan Panchala. Kukatakan di sini supaya jelas. Duryudana tidak akan melepaskan apa pun hanya karena digertak. Lebih buruk lagi, Pandawa yang harus hidup menyamar selama tahun ketiga belas nyatanya justru ketahuan. Oleh karena itu, mereka harus kembali lagi ke hutan selama dua belas tahun lagi."

Bhisma menyela: "Putra Rada, jangan bodoh. Jika tidak mengindahkan pesan yang disampaikan pendeta utusan ini, perang akan pecah. Kita pasti akan kalah. Duryudana dan kita semua akan menemui kehancuran."

Kekacauan dan keributan pertemuan memaksa Destarata turun tangan. Katanya kepada utusan itu: "Demi keselamatan dunia dan keselamatan Pandawa, aku putuskan mengirim Sanjaya untuk berunding dengan Pandawa. Pulanglah wahai Brahmana. Sampaikan hal ini kepada Yudhistira."

Kemudian Destarata memanggil Sanjaya dan katanya: "Sanjaya, pergilah kepada putra-putra Pandu. Sampaikan kepada mereka kasih sayangku dan salam hormat kepada Krishna, Satyaki, dan Wirata. Sampaikan salamku kepada semua yang hadir di sana. Pergilah ke sana atas namaku. Berundinglah dalam suasana kekeluargaan supaya kita terhindar dari perang."

Maka pergilah Sanjaya ke Upaplawya dengan membawa pesan perdamaian. Setelah memeperkenalkan diri, Sanjaya berkata kepada Yudhistira di hadapan hadirin.

Katanya: "Dharmaputra, aku beruntung bisa bertemu langsung denganmu. Ketika dikelilingi para raja, kau tampak seperti Batara Indra sendiri. Hatiku lega melihatmu. Raja Destarata mengutusku untuk menyampaikan salam kasih dan doa restu untukmu. Putra-putra Ambika (Destarata) membenci peperangan. Dia menginginkan persahabatan dan perdamaian."

Gembira hati Dharmaputra ketika mendengar kata-kata Sanjaya. Jawabnya: "Jika demikian, putra-putra Destarata telah sadar. Aku juga menginginkan perdamaian dan membenci perang. Jika mendapatkan kembali kerajaan kami, kami akan melupakan semua penderitaan yang kami alami."

Kata Sanjaya lagi: "Putra-putra Destarata memang jahat. Mereka tetap tidak mengindahkan nasihat ayah dan kakek mereka. Mereka masih tetap jahat. Namun demikian, kau tetap harus bersabar. Yudhistira, engkau selalu bertindak benar. Sebaiknya kita hindari perang. Kebaikan macam apakah yang bisa diperoleh dari kerajaan yang dirampas dari kerabat sendiri? Oleh karena itu, sebaiknya tidak mengobarkan api kebencian. Bahkan, jika orang bisa mendapatkan seluruh kerajaan di muka bumi, dia tidak akan bisa lari dari usia lanjut dan kematian. Duryudana dan saudara-saudaranya memang bodoh, tapi janganlah engkau menyimpang dari jalan kebenaran. Meskipun mereka bersikeras tidak mengembalikan kerajaanmu, janganlah kau tinggalkan jalan kemuliaan dharma."

Jawab Yudhistira: "Sanjaya, apa yang kau katakan memang benar. Jalan kebenaran adalah harta yang tertinggi. Tapi, bukankah kami tidak melakukan kejahatan? Krishna tahu hakikat kebenaran dan dharma. Ia mengharapkan kebaikan bagi kedua belah pihak. Aku akan minta pertimbangan Krishna."

Kata Krishna: "Aku menginginkan kesejahteraan Pandawa. Aku juga mengharapkan kebahagiaan Destarata dan putra-putranya. Ini memang masalah yang pelik. Mungkin aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan pergi sendiri ke Hastinapura. Aku akan sangat senang jika bisa mencapai persetujuan yang tidak merugikan Pandawa. Jika demikian, Kurawa akan selamat dari jurang kehancuran. Dengan demikian, aku bisa menyumbangkan sesuatu yang baik dan berharga. Bahkan, jika melalui jalan damai Pandawa bisa mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, mereka akan tetap melayani Destarata dengan setia. Mereka tidak menginginkan apa pun, tapi mereka juga siap jika pun perang mesti terjadi. Dari dua kemungkinan ini, silakan Destarata memilih: perang atau damai."

Dan kata Yudhistira kepada Sanjaya: "Kembalilah ke Hastinapura dan katakan kepada putra Ambika. 'Bukankah karena kebaikan hatimu,kami mendapatkan sebagian wilayah kerajaan sebagai warisan ketika kami masih muda? Paman, yang pernah menjadikan aku raja, seharusnya mengakui kami sebagai pewaris yang sah dan tidak mengusir kami sehingga terpaksa hidup seperti pengemis yang menggantungkan nasib pada belas kasih orang. Paman yang kami hormati, di dunia ini ada cukup ruang bagi kita berdua dan para Kurawa. Maka, jangan sampai ada permusuhan di antara kita berdua.' Demikianlah, sampaikan pesanku kepada Raja Destarata. Sampaikan juga rasa cintaku kepada kakek Bhisma dan mohonkan restunya agar semua cucunya bisa hidup bahagia dalam kasih. Juga sampaikan salam dan rasa cintaku pada Widura. Ia adalah orang yang paling mumpuni untuk melihat dengan lurus dan memberikan nasihat yang adil.

Mohon sampaikan pesanku kepada Duryudana. "Saudaraku terkasih, engkau telah menyebabkan kami, yang sebenarnya adalah saudaramu sendiri, harus hidup di hutan, berpakaian kulit kayu; engkau telah mempermalukan dan menyeret istri kami di depan banyak orang. Kami terima semua itu dengan sabar. Kini, kembalikan apa yang sebenarnya menjadi hak kami. Jangan menginginkan milik orang lain. Kami berlima. Setidaknya kembalikan lima desa kepada kami dan marilah kita berdamai. Kami sudah cukup puas.' Mohon, sampaikan demikian kepada Duryudana, Sanjaya. Aku siap untuk berdamai dan siap pula untuk berperang."

Setelah Yudhistira selesai bicara, Sanjaya meninggalkan Krishna dan Pandawa, lalu kembali ke Hastinapura.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya