Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Tidak Sejengkal Tanah pun

Jumat, 13 Maret 2015

KISUTA.com - Sejak kepergian Sanjaya ke Upaplawya, Destarata selalu gelisah dan cemas menantikan berita yang akan dibawa. Siang malam ia tidak bisa memejamkan mata. Ia memanggil Widura supaya menemani bercakap-cakap.

Kata Widura: Jalan yang paling aman adalah mengembalikan bagian Pandawa. Hanya itu yang akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak. Perlakukan Pandawa dan putra-putramu dengan kasih sayang yang sama. Dalam hal ini, cara yang benar adalah penyelesaian yang bijak."

Demikianlah Widura menghibur Destarata dengan nasihat yang panjang lebar. Keesokan harinya, Sanjaya kembali ke Hastinapura. Ia memberikan laporan yang lengkap apa yang telah terjadi di Upaplawya.

"Paduka, Duryudana harus tahu apa yang dikatakan Arjuna: 'Krisnha dan aku akan menghancurkan Duryudana dan para pengikutnya sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai membuat keputusan yang keliru. Panah Gandewa sudah tidak sabar untuk segera berperang. Busur panahku bergetar biar pun tidak kubidikkan. Di dalam sarung, anak panahku bergemerincing minta segera dilepaskan. Sanjaya, peruntungan yang buruk membuat Duryudana nekad menantang aku dan Krishna. Ingat, para dewa pun tidak akan bisa mengalahkan kami.' Demikianlah yang dikatakan Dananjya kepadaku," kata Sanjaya.

Bhisma mencoba menasihati Destarata supaya tidak menantang anak-anaknya adu kekuatan dengan Arjuna dan Krishna. Kata Bhisma: "Kesaktian Karna yang berulang kali membual akan membunuh Pandawa hanya seperenambelas kesaktian Pandawa. Anak-anakmu hanya akan menjelang kehancuran, jika tidak mengindahkan peringatannya itu. Ketika Arjuna membalas serangan anak-anakmu kepada Wirata danmenundukkan Duryudana, apa yang dilakukan Karna? Ketika raksasa Citrasena menaklukkan dan menawan Duryudana, di manakah Karna yang tidak terkalahkan itu? Bukankah Arjuna yang membebaskan Duryudana dan mengusir pergi Citrasena." Demikian Bhisma mencela Karna dan mengingatkan para Kurawa.

Kata Destarata: "Apa yang dikatakan sesepuh keluarga kita memang benar. Semua orang bijak mengatakan jalan terbaik yang mesti ditempuh adalah perdamaian. Tapi apa yang aku bisa lakukan? Anak-anakku yang serakah tidak akan mendengarkanku dan memilih jalan mereka sendiri."

Duryudana yang mendengar semua pembicaraan itu langsung berdiri. Katanya untuk menggembirakan hati ayahnya: “Ayahanda, jangan mengkhawatirkan keselamatan kami. Kami tahu persis kekuatan kita. Kita pasti akan menang. Yudhistira pun menyadari hal itu. Alih-alih menuntut kerajaan, ia hanya minta lima desa. Apakah itu bukan tanda yang jelas bahwa ia sudah gentar melihat sebelas divisi pasukan kita. Mengapa Ayahanda meragukan kemenangan kita?”

Kata Destarata: “Anakku, sebaiknya kita hindari perang. Belum cukupkah engkau dengan separuh kerajaan ini? Jika kita kelola dengan baik, bukankah separuh bagian itu sudah cukup?”

Tetapi Duryudana sudah menutup telinga pada semua nasihat. Kemudian, katanya dengan keras: “Tidak sejengkal tanah pun akan kuberikan kepada Pandawa.” Setelah berkata demikian, ia segera meninggalkan ayahnya.

Marilah kita sekarang membicarakan apa yang dikatakan Pandawa di antara mereka sendiri. Setelah Sanjaya meninggalkan Upaplawya dan pergi ke Hastinapura. Yudhistira berkata kepada Krishna: “Wasudewa, Sanjaya adalah diri Destarata yang lain. Dari kata-kata Sanjaya aku memperkirakan apa yang ada di benak Destarata. Destarata berusaha menciptakan perdamaian tanpa harus memberikan apa yang menjadi hak kami. Awalnya aku gembira mendengar ucapannya. Tapi setelah menyimak dan merenungkan kata-katanya aku sadar. Kegembiraan tidak berdasar. Semula dia ajukan jalan tengah dan katakan menginginkan perdamaian. Tapi pada akhirnya, dia seperti mengajukan persyaratan yang melemahkan posisi kami. Mereka tidak akan mengembalikan hak kami. Memang Destarata bersikap tidak adil pada kami. Ini berarti saat-saat krisis telah menjelang. Tidak ada yag bisa menolong kami, kecuali engkau. Aku hanya meminta lima desa. Tetapi Kurawa yang serakah pasti akan menolak. Bagaimana kami bisa menerima sikap yang demikian? Hanya engkau yang bisa memberikan nasihat. Hanya engkau yang bisa menunjukkan apa yang mesti kami lakukan saat ini dan membimbing kami di jalan yang diberkati dharma.”

Jawab Krishna: “Demi kebaikan kalian semua, sebaiknya aku pergi ke Hastinapura. Aku akan mencoba menuntut hak kalian tanpa harus berperang. Jika usahaku berhasil, itu berarti kebaikahn dunia.”

Kata Yudhistira: “Krishna jangan pergi ke Hastinapura. Ap0a gunanya pergi ke sarang musuh? Duryudana yang jahat akan tetap bersikeras dengan kedunguannya. Kami tidak bisa membiarkanmu membahayakan diri. Kurawa yang nekad dan licik bisa berbuat apa saja.”

Jawab Krishna: “Dharmaputra, aku tahu Duryudana memang jahat. Tetapi kita tetap harus mengupayakan penyelesaian masalah secara damai agar rakyat tidak menuduh kita tidak berusaha menghindari peperangan. Apa pun caranya, perdamaian harus ditegakkan. Jangan khawatirkan keselamatanku. Jika mereka berani mengancam atau melukaiku, yang adalah utusan pembawa pesan perdamaian, aku akan remukkan mereka jadi debu.”

Kata Yudhistira: “Engkau tahu segala dan semua. Engkau tahu hati kami dan hati mereka. Memang, engkaulah utusan yang paling tepat dan paling baik.”

Krishna menjawab: “Ya, aku tahu hati kalian semua. Kau selalu berpegang teguh pada kebenaran. Mereka selalu diliputi kebencian, kedengkian, dan permusuhan. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar apa yang kau harapkan tercapai, yaitu penyelesaian tanpa perang. Memang, kemungkinan itu sangat kecil dan situasi saat ini mengarah pada firasat buruk. Tetapi tetap wajib mengupayakan perdamaian.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya