Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perutusan Krishna

Minggu, 15 Maret 2015

KISUTA.com - Satyaki menemani Govinda (Krishna) ke Hastinapura. Sebelum berangkat, sekali lagi Krishna mengajak Pandawa berunding. Bahkan Bima yang perkasa, secara agak mengejutkan memilih jalan damai. Katanya: "Janganlah kita memusnahkan bangsa kita sendiri. Bagaimanapun juga, kita harus mengupayakan perdamaian."

Begawan Wiyasa membuat Bima bicara demikian untuk menunjukkan bahwa mengupayakan perdamaian bukanlah tanda rasa takut.

Tetapi Drupadi tidak bisa melupakan penghinaan yang pernah ia alami. Sambil mengusap-usap rambutnya yang panjang, dengan suara gemetar karena kesedihan yang mendalam, ia berkata: "Madusudana, lihatlah rambut yang menyimpan bekas-bekas penghinaan ini. Belalah kehormatan sebagaimana mestinya. Tidak akan ada kehormatan tanpa kehormatan. Bahkan, jika Arjuna dan Bima menolak berperang, ayahku meskipun sudah tua, akan pergi berperang. Anak-anakku dipimpin putra Subadra, Abimanyu akan bertempur melawan Kurawa. Selama tiga belas tahun, demi Dharmaputra aku memendam api kebencianku pada Kurawa. Tapi, kini aku tidak bisa menahan diri lagi." Dan ia pun menangis, mengingat penderitaan yang dulu ia alami.

Hati Krishna pun tersentuh dan katanya: "Jangan menangis. Anak-anak Destarata tidak akan mendengarkan usul perdamaian ini. Mereka akan mengalami kejatuhan dan mayat mereka akan jadi santapan serigala dan anjing-anjing hutan. Kau akan menyaksikan kemenangan kita dan penghinaan yang kau alami akan terbayar lunas." Drupadi puas dengan kata-kata Krishna.

Madhawa (Krishna) berhenti selama semalam di dekat kota Kusashala. Ketika mendengar kedatangan Krishna, warga kota menyambut dengan penuh suka cita. Destarata memerintahkan supaya Hastinapura dihias dengan semarak dan upacara penyambutan dipersiapkan sebaik-baiknya. Destarata memerintahkan kediaman Dursasana, yang lebih indah dan lebih besar daripada kediaman Duryudana, dipersiapkan untuk tempat peristirahatan Krishna dan rombongan.

Destarata minta nasihat Widura. Katanya: "Sebaiknya kita persiapkan kereta kuda dan gajah sebagai hadiah untuk Krishna. Kalau perlu hadiah-hadiah yang lain diberikan." Tapi, kata Widura: "Govinda tidak mungkin bisa dibujuk dengan hadiah-hadiah. Berikan apa yang ia kehendaki. Bukankah ia datang ke mari untuk menyelesaikan masalah secara damai. Oleh karena itu, kita penuhi saja harapannya. Ia akan puas jika kedatangannya membuahkan perdamaian."

Ketika Govinda tiba di Hastinapura, penduduk berjejal di pinggir jalan mengelu-elukannya. Saking padatnya jalanan, mereka nyaris tidak bisa bergerak. Pertama, ia pergi ke istana Destarata dan kemudian ke kediaman Widura. Di sana ia bertemu Dewi Kunti. Mengingat penderitaan yang dialami putra-putranya dan tak kuasa menahan kesedihan, ia menangis. Krishna menghiburnya.

Dari kediaman Widura, ia menuju istana Duryudana. Duryudana menyambut Krishna dengan tangan terbuka dan mengundangnya untuk makan, tapi kata Krishna sambil tersenyum: "Baru setelah urusannya selesai, seorang utusan boleh makan. Kau boleh mengadakan pesta setelah semua urusan selesai." Setelah berkata demikian, ia kembali ke kediaman Widura dan beristirahat di sana.

Krishna berunding dengan Widura. Widura menjelaskan kepada Krishna bahwa keangkuhan Duryudana disebabkan keyakinan tidak akan ada yang bisa mengalahkannya selama Durna dan Bhisma ada di pihaknya. Memang, kedua mahaguru itu memiliki kewajiban moral untuk mendukung Duryudana. Widura mengatakan bahwa sebaiknya Krishna tidak masuk ke ruang perundingan. Semua yang mengenal Duryudana dan saudara-saudaranya tahu mereka pasti merencanakan jebakan untuk membunuh Krishna.

Kata Krishna: "Apa yang engkau katakan tentang Duryudana memang benar. Aku tidak berharap bisa merundingkan penyelesaian secara damai. Aku tidak ingin dikutuk dunia. Jangan mengkhawatirkan keselamatanku."

Paginya, Duryudana dan Sengkuni menemui Krishna dan mengatakan bahwa Destarata telah menunggu kehadirannya. Govinda segera pergi ke tempat perundingan bersama Widura.

Ketika Wasudewa memasuki ruangan, semua yang hadir serentak berdiri dan memberikan salam hormat dengan mengatupkan kedua tangan. Kemudian Krishna dipersilakan duduk. Setelah upacara penyambutan selesai, Govinda berdiri dan bicara kepada Destarata. Ia jelaskan maksud kedatangannya. Ia menjelaskan apa yang menjadi keinginan Pandawa.

Katanya: "Paduka Raja, janganlah bawa rakyat Paduka ke jurang kehancuran. Paduka menganggap yang jahat sebagai baik dan yang baik sebagai jahat. Tugas Paduka adalah menuntun putra-putra Paduka. Pandawa siap berperang tapi mereka lebih memilih perdamaian. Mereka ingin hidup bahagia di bawah pimpinanmu. Perlakukan mereka sebagai anak-anakmu dan berikan penyelesaian masalah yang terhormat. Dunia pasti akan menghormati Paduka."

Destarata berkata: "Sahabat-sahabatku tahu aku tidak bersalah. Yang aku inginkan persis sama seperti yang dikatakan Madhawa tapi aku tidak berdaya. Putra-putraku yang jahat tidak mau mendengarkanku. Krishna, cobalah nasihati Duryudana."

Krishna menoleh kepada Duryudana dan katanya: "Engkau adalah keturunan keluarga yang mulia. Berjalanlah di jalan dharma. Tinggalkan pikiran-pikiran jahatmu. Pikiran semacam itu hanya pantas untuk orang-orang yang berbudi rendah. Karena engkau, garis keturunan dan keluarga ini di ambang kehancuran. Jika engkau mau mendengarkan akal sehat dan rasa keadilan, para Pandawa sendiri, akan menerima ayahmu sebagai raja dan kau sebagai putra mahkota. Berdamailah dengan mereka dan berikan separuh kerajaan ini kepada mereka."

Bhisma dan Durna juga mendesak Duryudana supaya mendengarkan kata-kata Krishna. Tetapi hati Duryudana tetap tidak bisa dilunakkan.

Kata Widura: "Aku merasa kasihan kepada Destarata dan Dewi Gandari. Karena keserakahan anaknya mereka berduka tidak bahagia."

Sekali lagi, Destarata berkata kepada putranya: "Jika engkau menutup telinga pada kata-kata Krishna, bangsamu akan musnah."

Durna dan Bhisma juga berulang kali mencoba menasihati Duryudana agar tidak menempuh jalan yang sesat.

Duryudana sangat kesal karena setiap orang memojokkannya untuk menyetujui penyelesaian secara damai. Kekesalan dan amarahnya meledak.

Katanya: "Madusudana, engkau menyalahkanku karena kau memihak Pandawa. Yang lain juga menyalahkanku, tapi aku yakin aku tidak bersalah. Karena kemauan sendiri, Pandawa mempertaruhkan kerajaan mereka. Mereka kalah dan kehilangan kerajaan. Bagaimana mungkin aku dianggap bersalah? Karena kalah taruhan, mereka harus mengasingkan diri di hutan, sesuai dengan perjanjian yang terhormat. Apa salahku sehingga mereka mengajak berperang dan ingin membunuh kami? Aku tidak gentar menghadapi ancaman apa pun!

Ketika aku masih bocah, para tetua melakukan kesalahan yang sangat menyedihkan, memberikan separuh kerajaan kepada para Pandawa yang sama sekali tidak berhak. Aku tidak tahu apa alasannya. Aku terima keputusan itu. Tetapi bukankah mereka telah mempertaruhkan kerajaan dan mereka kalah? Aku menolak untuk mengembalikan kerajaan mereka. Aku sama sekali tidak bersalah. Sejengkal pun tidak akan kuberikan kerajaanku kepada Pandawa!"

Ketika Duryudana mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah, Govinda hanya tertawa dan katanya: "Bukankah engkau telah mempersiapkan permainan itu dengan licik? Bersama Sengkuni, engkau memperdayakan Pandawa. Setelah itu, kau mempermalukan Drupadi di depan orang banyak. Tanpa malu kau bersikeras bahwa kau sama sekali tidak bersalah." Krishna juga menyebutkan sejumlah kejahatan yang dilakukan Duryudana kepada Pandawa.

Melihat bahwa Bhisma dan tetua yang lain menyetujui tuduhan yang dilemparkan Krishna kepada Duryudana, Dursasana berkata: "Saudaraku, rupanya orang-orang ini telah menyiapkan rencana jahat terhadap dirimu. Mereka hendak mengikat tangan dan kakimu dengan tipu muslihat dan menyerahkan dirimu kepada Pandawa. Ayo, kita pergi saja dari sini." Duryudana bersama saudara-saudaranya segera pergi meninggalkan tempat perundingan.

Govinda meneruskan pembicaraan dengan hadirin. Katanya: "Tuan-tuan yang mulia, bangsa Yadawa dan Wrisni sekarang hidup damai dan bahagia setelah Sisupala dan Kamsa mati. Demi menyelamatkan seluruh rakyat, kadang-ladang kita harus mengorbankan satu orang. Bukankah sering terjadi sebuah desa dikorbankan untuk menyelamatkan seluruh negeri? Aku khawatir mungkin kita harus mengorbankan Duryudana jika Tuan-tuan hendak menyelamatkan bangsa ini. Inilah satu-satunya jalan."

Destarata menyuruh Widura memanggil Dewi Gandari. Katanya: "Siapa tahu Duryudana mau mendengarkan nasihat ibunya." Tetapi Duryudana berkata dengan mata merah penuh amarah, "Tidak, tidak." Lalu pergi meninggalkan tempat perundingan.

Bersama teman-temannya, ia menyusun rencana untuk menculik dan membunuh Krishna. Tetapi kabar itu segera sampai ke tempat pertemuan. Govinda, yang telah memperkirakan rencana busuk itu, tertawa dan memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.

Destarata yang buta, berkat Krishna, untuk beberapa saat bisa melihat dan melihat Krishna dalam wujud Wiswarupa.

Kata Destarata: "Pundarikaksa (Krishna) setelah melihat wujudmu, aku tidak ingin melihat apa-apa lagi. Biarkan aku kembali buta." Dan ia pun menjadi buta kembali.

Kata Destarata kepada Govinda: "Semua upaya yang kita lakukan telah gagal. Duryudana memang keras kepala."

Dan Krishna segera berdiri, bersama Satyaki dan Widura keluar meninggalkan ruang perundingan.

Krishna langsung menemui Dewi Kunti. Ia katakan kepadanya apa yang terjadi. Kunti minta Krishna untuk menyampaikan restu kepada putra-putranya. Katanya: "Waktunya telah tiba untuk menunjukkan untuk apa seorang ibu membesarkan putra-putranya sehingga menjadi kesatria. Semoga engkau bisa menuntun mereka dalam pertempuran."

Ibu seorang kesatria membesarkan anak-anaknya supaya dikorbankan dalam perang. Purushottama segera naik ke atas kereta kudanya dan melesat menuju Upaplawya. Perang tinggal menunggu waktu.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya