Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Batu Sakura

Batu Langka di Jepang yang Mirip Bunga Sakura

Senin, 16 Maret 2015

KISUTA.com - Jepang identik dengan bunga sakura. Bunga sakura memang bunga nasional bangsa Jepang.

Di negeri “Matahari Terbit” ini, sakura tak sekadar bunga, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Bagi orrang Jepang, bunga sakura merupakan simbol penting yang kerap kali dihubungkan dengan perempuan, kehidupan bahkan kematian.

Bunga sakura tak sekadar indah, tapi daun dan bunganya pun mempunyai banyak manfaat. Daun dan bunga sakura jika direndam dalam air garam, dapat digunakan sebagai pembungkus dan pengharum makanan karena wanginya yang harum. Daun bunga sakura juga bisa menjadi pembungkus kue moci.

Bunga sakura juga dapat dijadikan bahan pewangi es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Selain itu, warga Jepang menggunakan bunga sakura sebagai teh sakura yang hanya diminum pada momen istimewa,seperti acara pernikahan. Masih ada lagi manfaatnya, yaitu ranting dan kuncup bunga sakura dapat dijadikan sebagai bahan pewarna alami.

Selain bunga Sakura, di Jepang juga ada batu yang bernama sakura. Dinamakan batu sakura, karena bentuknya mirip sekali dengan bunga sakura. Batu Sakura adalah batu subhexagonal kecil, masuk ke dalam jenis batuan metamorf yang disebut hornfels. Ketika batu tersebut terbuka atau retak, maka bagian atas dari batu tersebut membentuk pola yang mirip dengan bunga sakura.

Batu Sakura sangat dilindungi di Jepang, karena merupakan batu langka. Batu ini hanya dapat ditemukan di Kameoka, yang terletak tepat di atas pegunungan barat Kota Kyoto. Proses pembentukan batu ini sangat panjang, yaitu sekitar 100 juta tahun di bawah tanah. Batu ini terbentuk oleh panas intens dari lava cair.

Batu sakura sangat halus dan mudah sekali hancur atau rusak. Untuk menjaga keindahan batu sakura, penduduk di Jepang melapisi batu sakura dengan larutan lem kayu yang diencerkan dengan air.

Batu bunga sakura yang menjalani penggantian lengkap mineral internal mereka selama hidup geologi mereka, bagian dalam mereka begitu halus sehingga mereka dapat dengan mudah patah di tengah atau hancur antara jari seseorang. Untuk menjaga keindahan pola muka halus mereka, penduduk setempat melapisi mereka dengan larutan lem kayu dicampur dengan air untuk menjaga keutuhannya.* Uma – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya