Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Keluhuran Budi Dewi Setiowati

Senin, 16 Maret 2015

KISUTA.com - Hujan yang terus menerus mengguyur kerajaan Hastinapura, membawa suasana sendu di taman keputren, Permaisuri Dewi Setiowati bermuram durja. Pernikahannya dengan Prabu Udrayana tak juga membawa hasil munculnya seorang putra. Di taman istana ditemani Limbuk dan Cangik, Setiowati mencurahkan perasaannya.

Setiowati: Biyung Limbuk...bagaimana ini? Sudah sekian lama aku melayani Sang Prabu dengan segenap jiwa ragaku...mengapa aku tak juga hamil? Sementara adik-adik Sang Prabu, Udrayaka yang sekarang menjadi Raja di Banyutinalang, sudah memiliki putri dari permaisurinya Dewi Suhsetya...Udrasangsana Adipati Madukoro juga sudah berputra dari prameswarinya Dewi Sarani...Duh Jagad Dewa Bathara...Biyung...(sang permaisuri mulai terisak)

Limbuk: Sudahlah Sang Dewi....maaf kalau saya kurang sopan mengeluarkan pendapat...tapi yakinkah sang Dewi bahwa cinta kasih sang Dewi memang tercurah pada Prabu Udrayana? Karena saya sering melihat betapa diam-diam lirikan paduka begitu sendu saat adipati Madukoro datang menghadap rakandanya...

Setiowati: Aah Biyung...(terkejut)...a...a..apa maksudmu...engkau menuduhku berbuat hina pada yayi Udrayana? Tidak Biyung...bagaimanapun bergolak perasaanku...aku tidak akan mengulangi hinanya perbuatan eyang putri Banowati, yang berselingkuh dengan eyang Arjuna sekujur hidupnya..duh Biyung...itu menjijikkan, hina dan jauh dari martabat orang terhormat...(sang permaisuri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil makin terisak)

Cangik: (sambil batuk batuk)..U..huk..u..huk.... Duku dinampan di atas meja, di atas piring kue pulungan. Rindu disimpan hati merana, alhasil kering kerontang kandungan...wahai Permaisuri...dendam rindu paduka pada orang yang salah, telah membuat paduka gering dan merana..itulah sebabnya jabang bayi tidak juga singgah....ikhlaskan...lepaskan..curahkan segenap perasaanmu pada Sang Prabu...

Setiowati: Biyung Cangik dan Limbuk...jangan korek-korek luka hatiku dengan tuduhanmu...kisah masa laluku dengan adimas Udrasangsana telah aku kubur dalam-dalam di hatiku...sekuatnya aku tidak akan mengkhianati suamiku...guru lakiku...aku punya kehormatan...ini bukan suratan takdir, menerima Prabu Udrayana sebagai suamiku adalah pilihanku...pilihanku juga untuk menjadi istri yang setia, tidak tergoda maksiat dan khianat....sekarang...apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan waris praja Hastinapura...karena uwa Patih Danurwenda dan patih Jayasena, sudah mengingatkan aku agar ikhlas melepaskan suamiku menikah lagi, agar ada keturunan Raja Hastinapura (terisak)

Cangik: Sang Permaisuri...sungguh luhur budimu, bertahan pada martabat dan kehormatan seorang isteri setia....marilah paduka renungkan...jika segala upaya dan usaha paduka mendapatkan keturunan tak juga berhasil...apakah paduka ikhlas mengikuti saran para patih....?

Senyap mendadak mengantarkan angin yang berhembus lembut menggigilkan tulang...Sang Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya...tetapi sejenak nuraninya menggenggam erat raganya..kalau pengorbanannya yang pertama mematikan cinta sejatinya dan mengalihkan kasihnya pada sang Prabu berhasil dia lakukan selama ini...haruskah sekarang dia bertahan, memikirkan kemuliaannya sendiri, sementara raganya tak sanggup mempersembahkan seorang putra pewaris tahta Raja Agung Hastinapura?

Setiowati: Biyung berdua, siapkan boreh lulur dan mangir dengan minyak kesturi, bantu aku menghias diri, malam ini aku ingin sowan ke rakanda Prabu Udrayana...

Malam itu, dengan tubuh wangi memikat, pembawaan anggun bak bidadari Swargaloka..sang Dewi Setiowati, melayani suaminya dengan segenap perasaannya...Prabu Udrayana tergolek tak berdaya pada pesona permaisurinya. Cintanya yang begitu besar pada sang istri, membuatnya tak mau memikirkan putra mahkota yang tak kunjung hadir. Sekeras apapun usulan dari para patihnya untuk mengambil selir, tak dihiraukannya. Cintanya pada Setiowati menumbuhkan rasa hormat pada wanita ini yang tidak akan dilukainya dengan berpaling pada wanita lain.

Setiowati: Kakaprabu,...ijinkan adinda mengutarakan pendapat, semoga paduka bersedia mengikuti anjuran dinda...

Udrayana: Duhai kekasih belahan jiwaku...utarakan dinda, tak ada satupun pendapatmu yang tidak akan kanda penuhi...

Setiowati: Kanda..kita telah sekian lama berumah tangga, Paduka Raja gung binatara,..namun..mungkin memang sudah nasibku menjadi wanita mandul seperti Eyang Setyowati Garwa padmi eyang Abhimanyu...karena itu kanda...supaya kakanda tidak berselingkuh dan berdusta padaku..sebagaimana dusta yang membawa kutukan pada eyang Abimanyu ketika menikah dengan eyang Utari tanpa sepengetahuan eyang Setyowati...aku mengusulkan paduka menikah lagi dengan seorang putri yang tidak mandul, Kanda...

(Prabu Udrayana terlonjak dari pembaringannya...tidak disangkanya ucapan itu akan keluar dari bibir mungil Setiowati)

Udrayana: Duhai istriku...tidak yayi, tidak perlu seperti itu..aku tidak akan mengkhianatimu. Cukup engkau saja menjadi pendamping hidupku...jangan risaukan soal putra mahkota yayi...(direngkuh dan dipeluknya istrinya erat-erat, dibelainya dengan tulus rambut sang Dewi) Setiowati...jangan ragukan cintaku, aku tidak bisa melakukan kemesraan seperti ini dengan wanita lain, bayang paras wajahmu dan ketulusanmu mendampingiku, akan menampar nuraniku...betapa kejinya aku jika menyia-nyiakan kepercayaanmu yayi...

Setiowati: Ya kanda...keji dan terkutuklah suami yang bisa menikmati kemesraan dengan wanita lain, di luar istri yang dengan setia menunggunya di rumah...keji, kejam dan tidak beradab, jika itu dilakukan di luar sepengetahuan istrinya...diam-diam berselimut dusta...namun kanda..kisah kita berbeda..akulah istrimu yang menyadari kekuranganku...aku mandul kanda...tidak akan aku jerat sang Raja Agung dalam kesenyapan...aku ikhlas kanda...agar ada penerus Prabu Udrayana dalam tahta agung praja Hastinapura...

Kesenyapan di bilik peraduan prabu Udrayana tiba-tiba dihiasi wangi bunga kemuning dan suara cengkerik yang merdu seakan suara dan wangi surgawi menyambut keputusan luarbiasa putri Setiowati untuk suaminya tercinta. Akhirnya Prabu Udrayana bersedia menikah lagi, dengan syarat putri yang akan dinikahinya adalah pilihan Setiowati, dan istri keduanya itu harus menghormati Setiowati sama persis sebagaimana istri keduanya itu menghormati dirinya sebagai Raja Hastinapura.

Kebijaksanaan Setiowati terbukti sekali lagi ketika putri yang dipilih adalah Dewi Gendrawati dari kerajaan Gandara putri Prabu Gendraprawa, cucu patih Sangkuni. Dengan perkawinan agung ini, putuslah dendam kesumat yang ada antara Hastinapura dan Gandara. Prabu Udrayana mengikuti kemauan istrinya dan iapun berjanji, jika 4 purnama Dewi Gendrawati tak juga hamil, maka itu berarti Sang Prabu juga mandul, maka akan dikembalikannya Dewi Gendrawati ke kerajaan Gandara dan ia akan hidup sebagai pertapa sehidup semati dengan Setiowati, menyerahkan kerajaannya pada adiknya Udrasangsana.

Setiowati adalah wanita luhur jarang ada tandingannya...ucapan suaminya ini dibalasnya dengan perhatian penuh pada madunya, setiap saat dijaganya makanan Gendrwati dengan pilihan makanan bermutu, yang bisa menyuburkan kandungan. Sampai akhirnya Gendrawati hamil, dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Gendrayana. Sebagai rasa syukur atas pengorbanan permaisurinya, Prabu Udrayana mengijinkan Dewi Setiowati mengambil putra angkat yang akan disejajarkan derajat dan martabatnya dengan Raden Gendrayana....Dewi Setiowati memilih putra Adipati Udrasangsana, dan diberi nama Raden Sudarsana.

Raden Gendrayana dan Raden Sudarsana tumbuh sebagai pangeran-pangeran tampan kerajaan Hastinapura yang sangat dibanggakan Prabu Udrayana. Saat Sang Prabu mulai tua, beliau memutuskan menjadi brahmana raja hidup di pertapaan di puncak gunung Tikbrasara, bekas pertapaan Arjuna bersama Dewi Setiowati, kerajaan di serahkannya kepada Prabu Gendrayana putranya yang didampingi ibu suri Gendrawati, dan pangeran muda Sudarsana.

Pada masa pemerintahan raja baru Gendrayana, lingkungan kerajaan semakin membaik dan mulai ada perubahan yang lebih sejahtera. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya rakyat yang mengalami kelaparan dan kemiskinan. Namun, masa kepemimpinan Gendrayana tidak terlalu lama karena dia menghukum adiknya sendiri yang bernama Sudarsana dengan dasar kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

Mendengar berita itu, Hanoman yang sudah sangat tua datang ke kerajaan Yawastita nama baru kerajaan Hastinapura pada masa Prabu Gendrayana, untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukumannya, Gendrayana dibuang ke hutan seberang Samudra oleh Hanoman. Sedangkan adiknya Sudarsana dijadikan sebagai pengganti Gendrayana menjadi raja di Yawastina. Gendrayana mengajak beberapa pengikut setianya dan ibu Suri untuk hidup bersamanya dan membuat kerajaan baru dengan nama Kerajaan Mamenang.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya