Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Ikatan Darah dan Kewajiban

Selasa, 17 Maret 2015

KISUTA.com - Sinar harapan perdamaian yang dibawa Krishna ketika pergi ke Hastinapura padam sudah. Krishna segera pulang dan menceritakan apa yang terjadi. Rupanya perang tidak terelakkan lagi. Kunti sangat sedih.

Kunti tidak tahu bagaimana ia harus mengatakan apa yang ia rasakan. Hatinya bertanya-tanya: "Bagaimana mungkin aku mengatakan isi hatiku kepada para putra-putraku? Apakah aku harus berkata: 'Pikullah segala penghinaan. Sebaiknya kita tidak usah meminta bagian pembagian kerajaan dan hindari perang.' Tapi bagaimana muingkin putra-putraku bisa menerima pilihan yang bertentangan dengan tradisi kesatria? Tetapi, sebaliknya apa gunanya saling bunuh di medan perang dan kebahagiaan macam apakah yang bisa diperoleh setelah menghancurkan saudara-saudara sendiri. Bagaimana aku harus menghadapi pilihan ini?" Hati Kunti terbelah ke dalam dua pilihan, di satu sisi kehancuran total dan di sisi lain, kehormatan kesatria.

“Bagaimana mungkin putra-putraku bisa mengalahkan kombinasi tiga kekuatan kesatria, Bhisma, Durna, dan Karna? Mereka adalah senapati-senapati perang yang tidak terkalahkan. Ketika membayangkan mereka, hatiku bergetar pedih. Aku tidak mengkhawatirkan yang lain. Hanya tiga orang itulah yang punya kekuatan mengalahkan Pandawa. Durna kiranya tidak akan sampai hati membunuh putra-putraku, karena rasa cinta atau keengganan bertarung dengan salah satu murid kesayangannya. Kakek Bhisma jelas tidak akan membunuh mereka. Tapi, Karna adalah musuh utama anak-anakku. Ia akan membunuh putra-putraku hanya untuk sekadar menyenangkan hati Duryudana. Karna adalah prajurit yang tangguh. Ketika membayangkan Karna bertarung dengan saudara-saudaranya hatiku pedih sekali. Sepertinya sudah waktunya aku menemui Karna dan mengatakan kepadanya siapa sebenarnya dia. Kuharap setelah tahu asal-usulnya ia mau meninggalkan Duryudana.”

Karena tersiksanya dengan kekhawatiran-kekhawatiran itu, ia pergi ke Sungai Gangga, tempat Karna biasa melakukan pemujaan kepada dewata.

Karna sedang bersemedi menghadap ke timur. Kedua tangannya tertangkup dengan sikap memnyembah. Dia,-diam Kunti berdiri di belakangnya. Menunggu Karna selesai berdoa. Karna amat khusyuk berdoa hingga tidak merasa sinar matahari membakar punggungnya.

Setelah selesai semedi, Karna melihat ke belakang. Ia melihat Dewi Kunti menunggu di belakangnya. Segera ia lepas bajunya untuk melindungi kepala Dewi Kunti dari sengatan sinar matahari. Tentunya, permaisuri Pandu dan ibu para Pandawa itu sudah cukup lama menunggunya bersemedi. Ia heran dan bertanya-tanya apa maksud kedatangan ibu Pandawa itu.

Sesuia dengan adat kebiasaan, Karna bertanya: “Anak Rada dan sais kereta Adirata menghaturkan sembah hormat. Hamba siap menerima perintah Yang Mulia Permaisuri.”

Kata Dewi Kunti: “Karna, sebenarnya kau bukan anak Rada dan Adirata. Jangan berpikir bahwa kau adalah keturunan sais kereta. Sebenarnya kau adalah putra Batara Surya, Dewa Matahari. Engkau lahir dari rahim Pritha, seorang putri raja yang dikenal sebagai Dewi Kunti. Semoga sengkau diberkati keselamatan dan kesejahteraan!”

Kemudian Kunti menceritakan cerita kelahiran Karna: “Kau dilahirkan lengkap dengan senjata suci dan anting-anting emas. Karena engkau tidak tahu Pandawa adalah saudara-saudaramu, engkau menggantungkan hidupmu pada Destarata. Bergabunglah dengan Arjuna dan kau akan menjadi raja di dunia ini. Semoga kau dan Arjuna bisa menhancurkan kejahatan. Dunia akan menghormati kalian. Kalian akan dikenal di seluruh dunia, seperti dua bersaudara Krishna dan Balarama. Dikelilingi kelima saudaramu, kau akan tampak seperti Batara Brahma yang agung di antara para dewa. Dalam situasi yang tidak menentu seperti ini, orang harus menurut nasihat orang tua yang mencintainya. Itulah dharma paling mulia menurut kitab-kitab suci kita.”

Ketika ibunya bicara tentang asal-usul kelahirannya, Karna merasakan sesuatu di hatinya: Dewa Matahari membenarkan kata-kata Dewi Kunti. Namun demikian, Karna berusaha mengendalikan diri dan menganggap semua itu sebagai ujian dari Batara Surya terhadap kesetiaan dan keteguhan hatinya. Ia bertekad untuk tidak menunjukkan kelemahannya.

Dengan keteguhan hati, ia berusaha tidak tergoda untuk mengikuti kepentingan diri sendiri dan membalas cinta ibunya. Katanya dengan sedih tapi teguh: “Ibu, yang egkau katakan berlawanan dengan dharma. Jika meninggalkan kewajibanku, aku akan menyakiti diriku lebih parah daripada apa yang bisa dilakukan seorang musuh padaku di medan perang. Ibu telah merenggut semua hakku sebagai kesatria dengan membuangku, seorang bayi yang tidak berdaya, ke sungai. Mengapa Ibu sekarang bicara padaku tentang kewajiban seorang kesatria?Ibu tidak pernah memberikan cinta Ibu yang adalah hak setiap makhluk hidup yang terlahir di dunia, dan sekarang karena mencemaskan nasib anak-anakmu yang lain, Ibu menceritakan asal-usul kelahiranku.

“Jika aku bergabungdengan Pandawa, apakah dunia nanti tidak akan mengutukku sebagai seorang pengecut? Aku dihidupi asam garam putra-putra Destarata. Mereka percaya kepadaku sebagai sekutu setia. Aku berutang budi kepada mereka. Mereka memberiku perhatian dan kebaikan hati. Sekarang, setelah perang menjelang, engkau menghendakiku meninggalkan Kurawa dan bergabung dengan Pandawa. Ibu, mengapa engkau memintaku untuk menghianati asam garam yang telah aku makan?

“Putra-putra Destarata mengandalkanku sebagai jamian untuk meraih kemenangan. Aku sendiri yang mendorong mereka untuk menempuh jalan perng. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka? Adakah yang lebih hina daripada orang yang mengkhianati orang yang telah menolongnya? Ibu terkasih, aku harus membayar utangku, jika perlu dengan nyawaku. Jika tidak, aku akan menjadi tidak lebh seorang pencuri yang makan hasil curian selama bertahun-tahun ini. Tentu, aku akan menggunakan segenap kekuatan untuk melawan putra-putra Ibu di medan perang. Aku tidak bisa membohongi Ibu. Mohon maafkan aku.”

Lanjutnya: “Namun demikian, aku tidak akan menolak sepenuhnya permintaan ibuku. Soalnya adalah aku dan Qarjuna. Dia atau aku yang harus mati di medan laga nanti. Aku tidak akan membunuh anak-anak ibu yang lain, apa pun yang mereka lakukan kepadaku. Ibu para kesatria perkasa, engkau tidak akan kehilangan putra. Putramu akan tetap lima. Salah satu dari kami, aku atau Arjuna, akan tetap hidup setelah perang ini.”

Mendengar kata-kata putra sulungnya yang teguh dan sesuai dengan norma-norma kesatria, hati Kunti semakin sedih. Pikirannya campur aduk tidak keruan. Ia tidak kuasa berkata-kata lagi. Segera dipeluknya Karna dan pergi.

Pikir Kunti: “Siapa yang bisa menentang suratan takdir? Setidaknya dia berjanji tidak akan membunuh keempat anakku yang lain. Itu sudah cukup. Semoga Dewata memberkatinya.” Dan Kunti pun kembali menuju kediamannya.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya