Senapati Agung Pandawa
KISUTA.com - Govinda tiba di Upaplawya dan segera menyampaikan hasil pertemuannya dengan para tokoh penting di istana Hastinapura.
"Aku sudah bicara mendesakkan apa yang benar dan baik bagi mereka. Tapi, semuanya sia-sia. Tidak ada jalan keluar lain, kecuali peperangan. Si Dungu Duryudana tidak mau mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan para tetua di perundingan. Kita harus segera mempersiapkan diri untuk perang. Pembantaian besar-besaran akan terjadi di Kurusetra."
Kata Yudhistira kepada saudara-saudaranya: "Tidak ada lagi harapan untuk perdamaian." Ia perintahkan mereka untuk segera menyusun kekuatan.
Mereka membagi pasukan perang menjadi tujuh divisi. Masing-masing divisi dipimpin oleh Drupada, Wirata, Dristadyumna, Srikandi, Satyaki, Chekidana, dan Bimasena. Kemudian mereka merundingkan siapa yang paling pantas menjadi Senapati Agung.
Sambil memandang Sadewa, Yudhistira berkata: "Kita harus memilih salah satu di antara kita untuk menjadi Senapati Agung. Ia harus mampu menghadapi Bhisma, yang bisa meluluhlantakkan musuh. Ia juga harus mumpuni dalam memimpin pasukan kita, setiap saat dan setiap keadaan. Menurutmu siapakah yang paling pantas memikul tanggung jawab ini?"
Zaman dulu, orang yang lebih muda mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan pendapat, sebelum orang-orang yang lebih tua. Kebiasaan ini membangun rasa percaya diri dan semangat bagi kaum muda. Jika yang tua diberikan kesempatan untuk bicara lebih dulu, kaum muda akan merasa tidak bebas lagi untuk menyampaikan pendapat. Kalaupun berani ada kemungkinan akan ditanggapi secara salah karena perbedaan penafsiran. Yang jujur bisa dicemooh dan yang benar bisa dihina.
Kata Sadewa: "Sebaiknya kita lantik Wirata yang menjadi Senapati Agung kita. Dialah yang menolong kita selama hidup dalam penyamaran. Berkat bantuannya kita tergugah untuk merebut kembali kerajaan kita."
Kata Nakula: "Menurutku yang paling tepat untuk menjadi Senapati Agung adalah Drupada. Dilihat dari segi usia, kebijaksanaan, keberanian, garis keturunan, dan kekuatan, dialah yang paling menonjol. Drupada telah belajar ilmu perang dari Bharadwaja. Ia sudah lama menantikan kesempatan untuk bertempur melawan Durna. Ia sangat dihormati dan disegani para raja. Ia juga membantu kita seperti layaknya putra-putranya sendiri. Sudah selayaknya Drupada memimpin pasukan kita untuk melawan Bhisma dan Durna."
Kemudian, Dharmaputra bertanya kepada Dananjaya.
Jawab Arjuna: "Menurutku Dristadyumna yang harus memimpin pasukan kita di medan perang. Ia adalah kesatria yang bisa mengendalikan perasaan dan pikiran dan dia terlahir untuk menamatkan Durna. Hanya Dristadyumna yang sanggup menghadapi serangan panah Bhisma, Yang keahliannya dalam ilmu perang bisa memukul siapa saja, bahkan Parasurama. Menurutku dialah yang paling tepat untuk memimpin pasukan kita. Tidak ada yang lain."
Kata Bimasena: "Apa yang dikatakan Arjuna benar. Tapi menurut para resi dan tetua, Srikandi ditakdirkan untuk menamatkan riwayat Bhisma. Menurut pendapatku, Srikandilah yang pantas memimpin bala tentara kita. Wajah Srikandi yang cerah mengingatkan kita pada Parasurama. Aku kira tidak ada yang bisa mengalahkan Bhisma selain Srikandi."
Pada akhirnya, Yudhistira meminta pendapat Kesawa.
Jawab Krishna: "Semua kesatria yang tadi disebut pantas dipilih. Mereka semua bisa membuat bala tentara Kurawa ketakutan. Tetapi setelah memperhatikan segala sesuatunya, aku mendukung pendapat Arjuna. Aku setuju menobatkan Dristadyumna sebagai Senapati Agung bala tentara Pandawa."
Akhirnya dengan suaru bulat mereka memilih Dristadyumna, Putra Raja Drupada inilah yang dulu memimpin sayembara untuk mencarikan suami bagi Drupadi, adiknya. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh Arjuna. Selama tiga belas tahun Dristadyumna menahan diri untuk tidak membalaskan penghinaan yang dilakukan Duryudana atas adiknya, Drupadi. Ia memang menunggu saat yang tepat untuk membalaskan dendam adiknya.
Sorak-sorai bala tentara, terompet kerang, dan sangkakala terdengar membelah angkasa. pasukan Pandawa berbaris melangkah maju dengan mantap menuju padang Kurusetra.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


