Perang Panjalu-Jenggala
KISUTA.com - Sri Aji Jayabaya didampingi permaisurinya yang jelita Dyah Hayu Sarsmeshwari, memerintah Mamenang dengan ibukota Widarba dengan segala kebesarannya. Setelah putra putrinya dewasa, beliau memusatkan pemerintahannya di Panjalu, dan sebagian wilayahnya di serahkan pada Dharmarungga keturunan Sudarsana dari Yawastina, yang dinikahkannya dengan putri sulungnya Dewi Prameshti. Sesuai saran Hanoman, untuk mengumpulkan 'balung pisah' menjaga kesatuan dan kerukunan keluarga besar keturunan Pandawa.
Pada suatu hari Sang Dyah Prameshti bangun dari peraduannya dengan badan terasa seperti dilolosi, tulang-tulangnya ngilu semua, saat itu di luar peraduan sang dewi alam masih gelap gulita, subuh belum lagi menjelang...namun sang dewi merasa ada sinar samar membentuk bayangan wajah tampan di pinggir peraduannya...
Prameshti: Aa...a..siapa jengandika...? Manusia ataukah jin...? Jangan menakut-nakuti aku.
Hyang Wisnu: Prameshti,...akulah Hyang Wisnu...ketahuilah, di rahimmu saat ini tumbuh jabang bayi titisanku sendiri..yang akan menjadi raja besar di tanah Jawa ini...
Prameshti: Aaah...bagaimana mungkin...aku belum lulut dengan suamiku, sampai saat ini tidur kami masih terpisah...aah..bagaimana kalau dia meragukan ceritaku...
Hyang Wisnu: Prameshti..lakon ini harus kamu jalani...antara karunia dan nestapa, adalah hidup selaras yang tinggal kamu ikuti...besarkan bayimu kelak dengan kasih sayang dan kebesaran seorang calon raja...
(Bayangan itu hilang lenyap meninggalkan bau kembang tujuh rupa yang memenuhi kamar Dyah Prameshti)
Syahdan di setiap hari Kamis minggu ke dua tiap bulan, raja besar Panjalu Sri Aji Jayabaya selalu menyelenggarakan pasowanan agung untuk membahas keadaan kerajaan. Saat itu Sang prabu sedang bersabda tentang rencananya mengangkat Pangeran Jaya Amijaya sebagai putra Mahkota yang akan ditempatkannya di Kediri. Belum selesai Sri Baginda bersabda, perbincangan pun terganggu oleh keributan di luar sitinggil, yang ternyata adalah datangnya putri sulung Sri Baginda, prameswari Raja Janggala, yang bernama Dyah Pramesthi.
Sang putri menghadap ayahanda baginda sambil menangis tersedu-sedu. Betapa terkejutnya Sri Baginda menerima kedatangan putri sulungnya, pulang ke Panjalu tanpa pengawal dalam keadaan yang lemah lunglai lusuh membiaskan kesusahan yang sangat mendalam, sebab diusir oleh suaminya dituduh sebagai wanita jalang yang hamil di luar hubungan resmi dengan suaminya.
Mendidih darah Sri Aji Jayabaya, sebagai raja yang sakti beliau melihat kejujuran putrinya saat mengisahkan pertemuannya dengan sukma Hyang Wisnu...Jayabaya menyayangkan menantunya Dharmattungga yang tidak mau menggunakan kewaskitaannya dengan olah bathin untuk membuktikan ucapan Prameshti....tetapi secara kasar dan menghina telah mengusir istrinya yang sedang hamil tanpa pengawalan.
Akhirnya keluarlah perintahnya, untuk mempersiapkan perang melawan Jenggala.
Di praja Jenggala, Sri Narpati Darmatungga telah mendengar bahwa mertuanya tidak menerima perlakuannya terhadap Dyah Pramesthi, maka Sri Darmatungga mempersiapkan pasukan untuk menghadapi ‘singa’ dari Panjalu.
Pertempuran dahsyat pun tak terhindarkan di Bulak Hantang. Kedua pasukan telah bermandikan keringat dibakar matahari yang sedang bertengger di puncak langit. Debu membuncah menempel lekat di tubuh para prajurit yang bersimbah darah. Gelung rambut terurai awut-awutan, yang nampak bukan lagi manusia yang beradab melainkan jin setan yang gentayangan mencari mangsa. Sri Aji Jayabaya benar- benar seorang maha jurit yang pantas disebut sebagai titisan Wishnu. Meloncat menyerang barisan lawan, bagai harimau kelaparan menyergap, mangsanya. Barisan Jenggala hancur berantakan diterjang oleh sang ‘singa’ Jayabaya.
Bangkai musuh pun berserakan bagai glagah yang diamuk gajah. Pada akhirnya, kedua narpati yang sedang bertikai itu pun telah berhadap-hadapan, antara mertua dan menantu, masing-masing menempatkan diri sebagai senopati agung.
Jayabaya: Dharmattungga...patrapmu sungguh hina dan kejam...engkau usir anakku...istrimu saat sedang hamil dalam kehinaan seorang wanita...ke mana tata kramamu sebagai raja agung...
Dhamatungga: Prabu Jayabaya...jangan mau benarnya sendiri...aku perlakukan anakmu Prameshti seperti itu...karena kelakuan anakmu juga tidak pantas...sejak kami menikah, di sentuhpun dia ogah-ogahan, pongah dengan kecantikannya dan memilih menyendiri di kamarnya sendiri...sekarang dia hamil...nah kehinaan seperti apa yang sanggup dihadirkan wanita jalan yang hamil tanpa suami???
Jayabaya: Kurang Ajar!!! Engkau bukan manusia biasa, seharusnya bisa kau gunakan kemampuan telenging bathinmu untuk melihat kebenaran dari cerita anakku....Dia hamil titisan Wisnu! Dasar manusia yang dibutakan oleh kecemburuan...kalau anakku tidak mau kau sentuh tidakkah kau lihat apa sebabnya??? Kau berjanji menikahi anakku dalam keagungan dan melepaskan selir-selirmu yang menjadikanmu menjijikan di mata anakku karena kegemaranmu pesta maksiat...
Dharmatungga: Sudahlah Prabu Jayabaya...mungkin aku tidak memenuhi janjiku pada Prameshti...itu haknya untuk menolak aku...seperti sekarang akupun punya hak untuk mengusirnya dari kerajaanku...karena sudah tidak ada gunanya lagi...buat apa punya istri cantik, tapi di rahimnya tumbuh jabang bayi yang bukan keturunanku sendiri....hmm...aku tidak mau membesarkan ank haram di prajaku..
Jayabaya: Baiklah Dharmatungga...sepertimu sampai disini saja lelakonmu...kamu tidak bisa diajak baik-baik...untuk kehormatan anakku Prameshti...hari ini juga aku tumpas Jenggala beserta rajanya.
Ternyatalah Sri Aji Darmatungga bukan tandingan Sri Aji Jayabaya. Dalam pertarungan yang singkat tangan Sri Jayabaya sempat menyentuh dada Sri Darmatungga, menimbulkan suara gemeretak, dadanya pecah, Sri Darmatungga gugur di medan laga.
Pasukan Panjalu pun bersorak gegap gempita, menyaksikan junjungannya unggul dalam perang tanding. Jenggala telah takluk dan sepenuhnya dikuasai oleh Panjalu. Sri Jayabaya dengan pasukannya segera pulang ke Panjalu, di gerbang kota mereka dijemput oleh para kawula yang mengelu-elukan para pahlawannya.
Perang Panjalu-Jenggala, menyisakan rasa sesak di hati Sri Aji Jayabaya. Beliau teringat perang Baratayudha kisah leluhurnya yang merupakan kisah perang saudara. Sesampainya di istana, diambilnya buku Baratayudha karya Resi Wyasa> Dipanggilnya Mpu Sedah, seorang brahmana yang ahli berbahasa Sanskerta, dimintanya Mpu Sedah menterjemahkan isi kitab Baratayudha tersebut, dalam versi jawa, dengan memasukkan unsur perang saudara yang baru saja di selesaikannya. Sri Aji Jayabaya berharap jika Baratayudha berhasil disadur oleh Mpu Sedah, mungkin masyarakat akan bisa belajar tentang perang antara kebhatilan melawan kebajikan...dan bukannya bergunjing tentang pertikaian sedarah.
Mpu Sedah menerima titah sang Prabu, dan meminta waktu untuk menyepi di sanggar pamujan memulai karyanya menulis Kakawin Baratayudha.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


