Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Senapati Agung Kurawa

Minggu, 22 Maret 2015

KISUTA.com - Bhisma berdiri paling depan memimpin bala tentara Kurawa. Dengan bersujud, Duryudana memberikan hormat kepada Bhisma.

Katanya: "Semoga engkau tidak berkeberatan memimpin dan membawa kami meraih kemenangan seperti Katikeya memimpin dewata. Kami akan menuruti perintahmu seperti sapi-sapi menuruti penggembalanya."

Kata Bhisma: “Baiklah, aku terima permintaanmu. Tapi engkau harus mengerti pendirianku. Aku tidak pernah ragu. Bagiku, putra-putra Pandu sama dengan kalian, putra-putra Destarata. Untuk memenuhi janjiku, aku akan melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya. Setiap hari ribuan musuh akan menjelang ajal karena panah-panahku di medan perang.

Tapi, aku tidak bisa membunuh putra-putra Pandu. Aku tidak menyetujui perang ini. Jika dipaksa untuk membunuh putra-putra Pandu, aku akan tanggalkan semua kewajibanku dalam perang ini. Selain itu, satu hal harus kau ingat. Karna, putra Batara Surya yang sangat kau kasihi, selalu menentang dan tidak suka dengan pendapatku. Seandainya kau keberatan dengan apa yang kukatakan, mintalah dia untuk memimpin bala tentara Kurawa. Lantiklah ia sebagai Senapati Agung. Aku tidak keberatan.”

Bhisma tidak suka Karna dan sikap-sikapnya.

Karna pernah berkata: “Aku tidak akan ikut campur dalam perang selama Bhisma masih hidup. Setelah ia mati, aku akan ikut berperang, menghadapi Arjuna dan membunuhnya.” Zaman dulu, di kalangan para pemuka juga terdapat kecemburuan dan iri hati.

Duryudana menerima syarat-syarat yang diajukan Bhisma dan menunjuknya sebagai Senapati Agung bala tentara Kurawa yang membanjiri padang Kurusetra seperti air bah.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya