Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Balarama

Selasa, 24 Maret 2015

KISUTA.com - Balarama, saudara Krishna yang termasyhur itu, mengunjungi perkemahan Pandawa. Ketika Halayuda (nama lain Balarama karena ia menggunakan bajak sebagai senjata), yang mengenakan pakaian sutra biru masuk dengan agung seperti seekor singa, Yudhistira, Krishna, dan yang lain menyambutnya dengan gembira. Setelah menundukkan badan pada Drupada dan Wirata, sang tamu mengambil tempat duduk di samping Dharmaputra.

Katanya: "Aku telah melihat Kurusetra. Aku melihat keturunan Bharata membiarkan diri dikuasai keserakahan, amarah, dan kebencian. Perundingan damai telah menemui jalan buntu dan genderang perang telah ditabuh."

Tidak kuasa menahan perasaannya, ia diam beberapa saat dan kemudian melanjutkan: "Dharmaputra, kehancuran yang mengerikan sudah di depan mata. Bumi akan menjadi lautan darah dan mayat-mayat bergelimpangan di atasnya. Perang ini adalah kegilaan yang menggelapkan mata para kesatria hingga mereka mau menemui kehancuran. Berulang kali aku katakan kepada Krishna: "Bagi kita, Duryudana itu sama berartinya dengan Pandawa. Sebaiknya kita tidak memihak salah satu dari mereka dalam pertikaian yang bodoh ini.' Tapi ia tidak mau mendengarkanku. Kasihnya yang sedemikian besar kepada Dananjaya telah membelokkan pikirannya.

"Sekarang, ia berada di pihak kalian dalam perang yang ia restui. Aku tidak mungkin bergabung dengan kubu musuh Krishna. Karena Bima dan Duryudana, keduanya adalah murid-muridku, aku memperlakukan mereka dengan sikap hormat dan cinta yang sama. Bagaimana mungkin aku mendukung yang satu dan melawan yang lain? Aku juga tidak bisa melihat Kurawa menemui kehancuran. Oleh karena itu, aku tidak akan ikut campur dalam perang, bencana besar yang akan menghancurkan semuanya ini. Tragedi ini membuatku muak pada dunia dan karena itu aku akan pergi berziarah di tempat-tempat suci."

Setelah bicara menentang perang itu, saudara Krishna itu pergi. Hatinya amat sedih dan ia berusaha mencari penghiburan dari para dewa.

Episode Balarama menolak ikut campur dalam perang Mahabharata ini menggambarkan situasi sulit yang sering dihadapi orang-orang baik dan jujur dalam hidup. Dipaksa memilih dua jalan yang sama-sama benar, tapi saling bedrtentangan, sering kali membuat orang berhadapan dengan buah simalakama.

Hanya orang jujur yang menghadapi persoalan semacam ini. Orang yang tidak jujur tidak akan menemui persoalan semacam ini karena mereka pasti dikendalikan kelekatan atau hasrat pribadi, yakni kepentingan diri. Tidaklah demikian yang terjadi dengan orang-orang besar yang dikisahkan dalam Mahabharata. Lihatlah ujian-ujian berat yang harus dihadapi Bhisma, Widura, Yudhistira, dan Karna. Dalam epos ini, kita melihat mereka memecahkan persoalan-persoalan besar yang mereka hadapi. Jalan pemecahan yang mereka ambil tidak mengikuti satu tindakan moral yang sama, melainkan mencerminkan kekhasan pribadi masing-masing. Tindakan yangmereka ambil merupakan reaksi kepribadian dan watak pada situasi yang terjadi.

Pra kritikus dan pengamat modern kadang melupakan faktor penting yang mendasar ini dan memukul rata begitu saja. Ini jelas merupakan kesalahan. Kita bisa memperoleh manfaat pendekatan ini ketika melihat reaksi Dasarata, Kumbakarna, Maricha, Bharata, dan Lesmana dalam Ramayana pada persoalan yang mereka hadapi.

Demikian pula dengan pilihan Balarama untuk tidak memihak siapa pun. Pilihan ini memiliki nilainya sendiri. Hanya ada dua pangeran yang tidak ikut dalam peperangan. Yang pertama adalah Balarama dan kedua Rukma, Raja Bhojakata. Rukma adalah kakak dari Rukmini yang diperistri Krishna, yang akan diceritakan selanjutnya.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya