Rukmini
KISUTA.com - Bhismaka, raja Kerajaan Widarba, mempunyai lima putra dan satu putri, Rukmini. Rukmini adalah seorang putri yang kecantikannya sulit dicari padanannya. Dia amat menarik dan mempunyai kepribadian yang kuat. Setelah mendengar tentang Krishna dan kemasyhurannya, Rukmini ingin menikah dengan Krishna dan setiap hari cintanya kepada Krishna semakin besar.
Semua saudara dan kerabat setuju dengan keuinginan itu, kecuali Rukma, kakak sulungnya. Memang, sudah sejak lama Rukma tidak menyukai Krishna. Rukma mendesak ayahnya untuk menikahkan Rukmini dengan Raja Chedi, Sisupala. Karena raja sudah tua, banyak keputusan ditentukan oleh Rukma. Dan tampaknya Rukmini akan dijodohkan dengan Sisupala.
Rukmini, yang seluruh hatinya telah tertambat pada Krishna --karena ia adalah inkarnasi Dewi Laksmi-- amat sedih. Ia khawatir ayahnya tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk menentang keinginan Rukma yang suka memaksakan keinginannya. Ia takut ayahnya tidak kuasa menolak keinginan kakaknya untuk menikahkannya dengan Sisupala. Rukmini berpikir keras untuk mencari jalan keluar bagi persoalan yang ia hadapi. Ia minta nasihat pada seorang brahmana. Kemudian brahmana itu pergi kepada Krishna dan menceritakan persoalan yang dihadapi Rukmini dan mohon supaya ditolong.
Brahmana itu segera pergi ke Dwaraka dan menyampaikan kisah sedih dan permohonan Rukmini kepada Krishna. Ia berikan surat Rukmini kepada Krishna. Demikian bunyi surat itu:
"Hatiku telah memilihmu sebagai raja dan tuan hidupku. Oleh karena itu, aku mohon bantuanmu untuk datang dan membawaku pergi sebelum Sisupala memaksa memboyongku. Persoalan ini sangat mendesak, dengan demikian, engkau harus sudah berada di Widarba besok. Bala tentara Sisupala dan Jarasanda akan menghalangimu. Engkau harus mengalahkan mereka terlebih dahulu sebelum bisa mengambilku. Semoga engkau bisa mengalahkan mereka dan membawaku pergi. Kakakku telah memutuskan untuk menikahkanku dengan Sisupala. Dan dalam salah satu bagian dari upacara pernikahan, aku akan pergi ke kuil bersama denghan rombonganku untuk melaksanakan upacara persembahan kepada Dewi Parwati. Itulah saat yang terbaik untuk membawa dan menyelamatkanku. Jika engkau tidak menolongku, aku akan mengakhiri hidupku sehingga sekurang-kurangnya aku akan bertemu denganmu di kehidupan yang akan datang."
Krishna membaca surat itu dan segera menghela kereta kudanya sekencang-kencangnya menuju Widarba.
Istana raja di Kundiapura, ibu kota Widarba, dihias dengan semarak dan persiapan pernikahan sang putri dengan Sisupala sudah selesai. Calon pengantin laki-laki dan sekutunya, yang semuanya adalah musuh bebuyutan Krishna sudah berada di ibu kota.
Akhirnya Balarama mengetahui kepergian Krishna yang tiba-tiba dan serba rahasia. Ia menduga kepergian Krishna yang sendirian ini berhubungan dengan putri kerajaan Widarba. Balarama khawatir Krishna akan dikepung para musuh yang sangat menginginkan kematiannya. Ia segera kumpulkan pasukan dan bergerak menuju Kundiapura.
Setelah meninggalkan biliknya, Rukmini, yang ditemani rombongan, menuju kuil tempat upacara suci dilangsungkan.
Rukmini memohon: “Oh Dewi, lihatlah aku yang sudah tidak berdaya ini. Mohon supaya Krishna mau membawaku pergi dari sini.”
Ketika melangkah meninggalkan kuil, Rukmini melihat kereta kuda Krishna. Seperti jarum yang tertarik medan magnet, ia segera berhambur sekencang-kencangnya ke arah Krishna dan naik ke atas kereta. Kemudian, Krishna segera memacu keretanya secepat angin.
Para pelayan berlarian pada Rukma, sang putra mahkota, dan menceritakan apa yang terjadi. Rukma bersumpah: “Aku tidak akan kembali sebelum membunuh Janardana.” Lalu ia kerahkan sejumlah pasukan untuk mengejar Krishna.
Tetapi saat itu Balarama bersama pasukannya tiba. Pertempuran antara kedua pasukan itu tiidak terelakkan. Bala tentara Rukma dibuat tunggang langgang. Balarama dan Krishna pulang dengan membawa kemenangan. Pernikahan Rukmini dan Krishna dilangsungkan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
Rukma yang terpaksa menerima pil pahit kekalahan merasa malu untuk kembali ke Kandinapura. Akhirnya ia membangun kota di tempat ia dan pihak Krishna bertempur. Kota itu dinamai Bhojakata dan ia menobatkan diri menjadi raja.
Mendengar perang di medan Kurusetra, Rukma segera pergi bersama sejumlah besar pasukan. Karena ingin mendapatkan simpati Wasudewa, ia menawarkan diri untuk membantu Pandawa.
Katanya: “Pandawa, kekuatan musuh sangat besar. Aku datang untuk membantumu. Katakan padaku dan aku akan menyerang sektor musuh yang kau percayakan kepadaku. Aku memiliki kekuatan yang cukup untuk menyerang Durna, Kripa, atau bahkan Bhisma. Aku akan kalahkan mereka semua. Kau hanya perlu memberi tahu apa yang harus kulakukan.”
Setelah menoleh kepada Wasudewa, Dananjaya tertawa. Kata Arjuna: “Kami tidak takut dengan kekuatan musuh yang sangat besar. Kami tidak butuh dan menginginkan bantuanmu. Kau boleh pergi atau tetap tinggal di sini, sesukamu.”
Mendengar jawaban itu, Rukma marah besar dan merasa dipermalukan. Ia segera pergi ke kubu Duryudana.
Katanya kepada Duryudana: “Pandawa telah menolak tawaran bantuanku. Sekarang, pasukanku menunggu perintahmu.”
Cetus Duryudana: “Bukabkah karena ditolak para Pandawa, engkau datang ke mari? Aku tidak butuh bantuanmu. Silakan tinggalkan kami.”
Rukma, yang dibuat malu oleh kedua kubu, kembali ke kerajaannya dan tidak ikut campur dalam peperangan itu.
Ada berbagai macam ketidakberpihakan dalam perang. Ada yang berasal dari pilihan sadar untuk menolak perang. Tapi, ada pula yang karena alasan kepentingan diri sendiri atau kesombongan. Ada pula yang diam saja karena takut atau tidak peduli. Balarama memilih tidak berpihak karena ia cinta perdamaian. Di sisi lain, Rukma tidak memihak karena kesombongannya. Alih-alih bertindak berdasarkan dharma, ia justru memikirkan kejayaan diri sendiri dan oleh karena itu, ia ditolak oleh kedua belah pihak.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


