Petaka Kakawin Bharatayuda
KISUTA.com - Di Padepokan Wukir Padang, sisi timur Sungai Brantas kaki gunung Kelud, ditingkah suara gemericik air, dengan aroma pinus yang menyejukkan...Suasana hati Mpu Sedah terasa tak nyaman, jari jemarinya memainkan lontar, matanya terus menatap nanar kitab Barathayudha karya Resi Wyasa. "Ah Jagad Dewa Bathara, sudah kucoba menyepi, menghapuskan bayang-bayang rasa dan wajah Prabarini yang menggoda, mengapa sekarang tugas ini tersampir di pundakku." Tanpa sadar bisikan keluh itu menyeruak di sela-sela keinginannya menyelesaikan tugas dari Sri Aji Jayabaya.
Sekian masa lalu, Dewi Prabarini adalah putri Brahmana Naiyayikadarsana, guru olah bathinnya. Kecantikan Prabarini sebagai putri pertapa demikian sempurna, hingga terdengar oleh raja muda Panjalu, dan akhirnya Prabarini dipersunting oleh Sri Aji Jayabaya menjadi permaisurinya dengan gelar Sri Sarameshwari. Pupuslah harapan dan kidung cinta saudara seperguruan yang sempat merona di pertapaan tepi kali Brantas itu. Berkali-kali Mpu Sedah menghela nafas panjang, bathinnya bergolak, setan berbisik memancing kerinduan ragawinya pada sang kesuma ayu.
Mpu Sedah bekerja keras seorang diri menterjemahkan Bharatayuda dalam bentuk Kakawin Bharatayuda dengan cepat. Sang Raja mulai menyukainya karena kecerdasannya itu.
Akhirnya sampailah ia pada bagian Salyaparwa yang menceritakan kecantikan Dewi Setyawati istri Salya. Mpu Sedah melaporkan kepada Baginda bahwa ia tak mampu melukiskan kecantikan luar biasa Setyawati iapun meminta ijin baginda meminta seorang wanita sesungguhnya dengan kecantikan luar biasa sebagai contohnya. Baginda menitahkan kepada Sedah untuk memilih wanita yang dibutuhkannya dan pilihannya jatuh pada Prabarini atau Sang Dyah Prameswari Sarameshwari, Baginda membenarkan pilihan itu.
Maka terjadilah pertemuan yang telah lama diimpikan itu.
Sri Aji Jayabaya, bukanlah raja biasa, sebagai titisan Wisnu, kesaktiannya jauh di atas manusia lumrah, walaupun Mpu Sedah berusaha menyembunyikan gelora asmaranya, cukup dengan kepuasan memandang dan berdekatan dengan sang juwita yang membuatnya gundah gulana, Sang Prabu waskita dengan apa yang sebenarnya terjadi... "Hem, tidak aku sangka sedemikian hebat amuk asmara merontokkan pertahanan bathin Sedah yang sudah menjalani hidup brahmana. Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut, bisikan iblis bisa saja membuat istriku ikut jatuh ke jurang kehinaan. Padahal dia telah menjadi Ibu anak-anakku..Ooo Gusti Kang Maha Wikang, sekali ini, biarlah aku bertindak tidak sesuai dengan harapan para bajik...karena kehormatanku terancam, anak keturunanku bisa ternoda oleh dengusan nafas iblis serong...Hemm...baiklah Sedah, jika tidak mampu kau kendalikan nafsumu..sampai di sinilah kisahmu mengabdi Jayabaya."
Pagi itu, tanpa dinyana-nyana, Sri Aji Jayabaya dengan diiringi segelintir pengawal singgah ke padepokan Wukir Padang, untuk menjenguk hasil kerja Mpu Sedah. Dalam kesempatan itu Mpu Sedah dengan jelas menyampaikan cerita Bharatayuda yang sebagian telah diselesaikannya. Pada bagian awalnya, nampak Sri baginda sangat berkenan di hati. Namun demikian, setelah sampai pada kisah Prabu Salya dengan dewi Pujawati, serta merta Sri baginda murka. Mpu Sedah dituduh telah mencemooh dan menyinggung perkawinan Sri Jayabaya dengan prameswari Retnayu Sarameshwari, putri maha pendeta Mpu ‘ Naiyayikadarsana. (Jayabaya sengaja mengedepankan alasan kemurkaannya seperti itu, untuk melindungi nama dan kehormatan istrinya di mata para pengawal pengiringnya. Raja Agung ini, menyimpan alasan sesungguhnya untuk dirinya sendiri, krena kecintaan pada istri dan anak-anaknya).
Tiba-tiba sang Prabu berteriak murka. "Kurang ajar engkau Sedah, kau sindir perkawinanku dengan Sri Sarameshwari dan kematian Bapa Mpu Naiyayikadarsana, seakan aku menantu yang kurang hormat pada mertuaku. Tatap pusakaku Pulanggeni ini, jika tatapmu menggerakkan pusakaku, di situlah keadilan dijalankan. Tidak akan ada kesaktian setinggi apapun yang mampu menghalangi Pulanggeni sebagai pemangku keadilan."
Mpu Sedah berjingkat kaget, tanpa sadar matanya tertuju pada Pulanggeni yang sudah ditarik dari warangkanya oleh sang Prabu. Keris pusaka Pulanggeni, bergetar hebat di tangan baginda, bagai didorong oleh kekuatan yang tak kasat mata bagai kilat keris itu pun menyambar menghujam dada Mpu Sedah tembus belikat. Mpu Sedah menjerit roboh seketika. Geger di Wukir Padang, para cantrik berlarian menyingkir takut pada Sri baginda yang sedang murka. Mayat Mpu Sedah segera disempurnakan melalui upacara sesuai dengan tuntunan agama. Sri baginda pun pulang ke Panjalu.
Kisah tragis kematian Mpu Sedah, menggoncangkan perasaan Sang Dyah Sarameshwari, prameswari ini sadar suaminya yang sakti mandraguna tentu waskita apa yang sebenarnya terjadi. Kepedihan hatinya menggerakkan langkahnya menghadap suaminya di tengah malam gulita...
Sarameshwari: Kanda Prabu...maafkan dinda meminta kejujuranmu...kematian Sedah...apakah itu akibat amuk cemburumu Kanda? Tidak percayakah Kanda bahwa dinda mampu menjaga diri?
Jayabaya: Hem...Sarameshwari permaisuriku...dalam tataranku sekarang tak cukup hanya kecemburuan menjadi dasar tindakanku...jauh lebih besar dari itu, martabat dan kehormatan keluarga ini telah dipertaruhkan oleh bergolaknya nafsu terlarang yang mendengus melalui nafas Sedah...
Sarameshwari: Tapi Kanda..itu kisah masa lalu, yang sudah hampir layu...aku sudah menjadi permaisurimu. Dari rahimku sudah kupersembahkan para pangeran dan putri penerus darahmu...tak cukupkah itu menjadi bukti..sudah aku tutup gairah masa laluku?
Jayabaya (tersenyum maklum, disentuhnya pundak istrinya dengan lembut): Sarameshwari...ayolah, jangan kau pancing aku dengan keluguanmu, tanpa memperhitungkan kemungkinan datangnya kerinduanmu? Hemm..Sarameshwari...sebuah perbuatan khianat, kadang dimulai karena adanya kesempatan..aku membuka kesempatan itu, saat mengijinkan Sedah menjadikan dirimu sebagai contoh kecantikan Pujawati atau Setyawati istri Prabu Salya. Untunglah aku segera sadar dengan kekeliruanku..Sang Widi Wasa memperingatkanku dalam sapa wangsit di mimpiku...bahwa gelora asmara masa muda kalian telah mengancam dan mengundang iblis-iblis maksiat yang siap-siap menerkam kelemahan kalian...sadarkah engkau...kita telah berangkat tua, tindakanku tidak sekadar kecemburuan laki-laki yang merasa istrinya dicumbui lelaki lain...lebih dari itu...tindakanku adalah memutus kisah yang akan mencemari martabat dan kehormatan kerajaanku yang bisa berhembus dari keluargaku...Yayi, ingatlah tidak ada martabat dan kehormatan yang bisa dijaga kesuciannya dari perbuatan khianat dan maksiat...
Sarameshwari (menangis tersedu, badannya lunglai bersimpuh mencium kaki Sri Jayabaya): Aduh...kanda prabu...ampuni dinda yang lemah...sungguh, pikiranku lemah dan sempit..aku tidak memperhitungkan sebesar itu akibat yang akan terjadi...kebanggaan akan kecantikan dan keagunganku..kadang memunculkan kerinduan akan pemujaan semu..aku lupa bersyukur bahwa sesungguhnya pencapaianku telah sempurna dengan menjadi pendampingmu kanda."
Penyesalan Sri Sarameshwari, dan permohonan maafnya yang tulus pada Sang Baginda, dilanjutkan dengan prilakunya sehari-hari yang makin mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa. Sarameshwari menyelipkan doa-doa tobatnya setiap kali ada waktu di sanggar pemujaannya, dia sadar kelengahan akan membuat setan mengintip untuk menghancurkan darmanya.
Sikap dan perubahan prilaku permaisurinya itu membuat Sri Aji Jayabaya mengambil kebijaksanaan untuk meredam dendam. Dijodohkannya putra mahkotanya Sri Aji Jaya Amijaya dengan Dewi Sulastri, cucu Mpu Sedah dari putranya Anjar Subrata.
Kakawin Bharatayuda yang baru separo jalan, diteruskan oleh pujangga istana lainnya Mpu Panuluh, langsung di bawah bimbingan Sri Aji Jayabaya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


