Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Saat-saat Menjelang Perang

Sabtu, 28 Maret 2015

KISUTA.com - Sehari sebelum perang besar itu, tetua keluarga yang mulia, yang diangkat menjadi mahasenapati Kurawa, bicara dengan Duryudana tentang semangat dan keriangan kisah kepahlawanan. Bhisma bicara tentang kekuatan, keahlian, dan keteramppilan para kesatria yang ada di kubu Kurawa. Semangat Duryudana pun tergugah. Mereka juga bicara tentang Karna.

Kata Bhisma: "Kau sangat menyayangi Karna. Tapi, aku tidak suka dengannya. Aku tidak suka dengan kebenciannya yang sedemikian besar kepada para Pandawa. Dia terlalu angkuh. Dia suka meremehkan orang. Aku tidak akan menempatkannya di antara kekuatan terbaik kita. Selain itu, dia telah memberikan senjata suci yang menyertai kelahirannya kepada orang lain. Karenanya, dia tidak akan banyak membantuku dalam perang ini. Apalagi dia juga dikutuk Parasurama, bahwa dia akan lupa pada mantra yang dia perlukan untuk memanggil senjata dewata pada saat-saat yang menentukan. Pertarungannya dengan Arjuna akan menamatkan riwayatnya."

Demikian kata Bhisma tanpa sela. Kata-kata itu jelas tidak sedap di telinga Duryudana dan Karna. Lebih buruk lagi, Durna tampak setuju dengan apa yang dikatakan Bhisma.

Katanya: "Karna amat angkuh dan terlalu percaya diri. Itu akan membuatnya melupakan hal-hal kecil yang sangat penting dalam strategi kita. Karena kecongkakannya, dia akan menjadi gegabah dan kurang hati-hati. Akibatnya, dia akan mengalami kekalahan."

Karna amat tersinggung dengan kata-kata Bhisma dan Durna. Dengan tatapan merah membara, ia berkata kepada Bhisma: “Kau selalu meremehkan aku karena benci dan iri padaku. Kau tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mempermalukanku. Aku terima penghinaan dan hujatanmu demi Duryudana. Kau katakan aku tidak akan banyak berguna dalam perang ini. Baiklah, aku katakan dengan tegas. Aku yakin, kaulah yang akan membawa para Kurawa kalah. Bukan aku! Mengapa tidak kau tunjukkan perasaanmu yang sebenarnya? Masalahnya adalah kau tidak benar-benar menyayangi Duryudana. Malangnya Duryudana tidak tahu itu. Karena rasa benci, kau berusaha memisahkan dan mempertentangkan aku dan Duryudana. Kau selalu berusaha meracuni pikiran Duryudana agar ia membenciku. Dan karena itu, kau selalu berusaha menyepelekan kesaktianku dan menghinaku serendah-rendahnya. Engkau sendirilah yang bertindak hina. Sikap yang tidak pantas untuk seorang kesatria. Umur bukan ukuran untuk menentukan kehormatan seseorang di kalangan kesatria, tapi kesaktian dan keperwiraan. Berhentilah meracuni persahabatanku dengan Duryudana.

Kemudian Karna menoleh kepada Duryudana dan katanya: “Kesatria perkasa, renungkan baik-baik. Demi kebaikanmu sendiri, jangan edengarkan kakek tua ini. Ia berusaha menyebarkan benih perpecahan di antara kita. Pendapatnya tentangku akan mengganggu perkaramu. Dengan menyepelekan kesaktianku, dia mencoba membunuh semangatku. Sebenarnya, dia sendirilah yang sudah karatan.Ia sudah berumur dan raganya sudah rapuh.Seperti yang diajarkan dalam kitab-kitab sastra, ada saatnya ketika umur membuat pikiran berkarat dan buah yang masak menjadi busuk. Engkau telah mengangkat Bhisma menjadi mahasenapati Kurawa. Selama ia memimpin bala tentara Kurawa, aku tidak akan mengangkat senjata. Aku hanya akan bertindak setelah ia tewas di medan perang.”

Orang yang angkuh tidak menyadari keangkuhannya. Ketika orang mengatakan keangkuhannya, ia akan menyerang balik dengan keangkuhan yang sama. Pikirannya tidak lagi jernih. Ia melihat setiap upaya membukakan kelemahannya sebagai serangan pada dirinya. Hal ini digambarkan dengan jelas pada bagian ini.

Sambil menahan amarah, Bhisma menjawab: “Putra Batara Surya, saat ini kita sedang dalam situasi yang pelik. Itu sebabnya kau sekarang masih hidup. Sebenarnya kaulah biang keladi keonaran di kalangan Kurawa!”

Duryudana sangat kecewa. Katanya: “Putra Dewi Gangga, aku membutuhkan bantuan kalian berdua. Aku yakin kalian akan melakukan tindakan-tindakan perwira. Setelah fajar, perang akan dimulai. Jangan sampai terjadi perselisihan di antara kita, apalagi musuh yang akan kita hadapi sangat kuat.”

Tetapi Karna bersikukuh tidak akan mengangkat senjata selama Bhisma memimpin bala tentara Kurawa. Akhirnya, Duryudana tidak bisa melunakkan hati Karna yang tetap bersikeras dengan sumpahnya. Selama sepuluh hari pertama perang, Karna sama sekali tidak ikut berperang.

Pada akhir hari kesepuluh, ketika Bhisma yang agung jatuh terkulai di tanah, seluruh badannya tertembus panah, Karrna pergi kepadanya. Ia menunduk dan menghaturkan hormat. Ia mohon maaf dan restu. Bhisma memaafkannya dan memberikan restu. Setelah kematian Bhisma, Karna mulai angkat senjata dan ia sendiri meminta Durna supaya diizinkan menggantikan Bhisma. Ketika Durna juga tewas, Karna mengambil alih kendali atas seluruh bala tentara Kurawa.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya