Pelajaran Krishna
KISUTA.com - Semua telah bersiap untuk perang. Masing-masing telah berkumpul di kubunya. Demi kehormatan dan kemuliaan kaum kesatria, mereka bertekad untuk memegang teguh aturan-aturan perang yang berlaku. Aturan dan cara perang setiap zaman berbeda-beda. Hanya dengan memahami aturan perang yang berlaku pada zaman itu, kita bisa memahami epos Mahabharata ini. Tanpa pemahaman aturan perang itu, kita akan menemui banyak kesulitan.
Dalam penjelasan berikut, pembaca akan memahami beberapa aturan perang yang berlaku dalam perang di medan Kurusetra. Menjelang matahari terbenam perang harus dihentikan. Kedua kubu yang berperang berbaur kembali seperti sahabat. Pertarungan satu lawan satu hanya boleh dilakukan jika kedua belah pihak seimbang. Orang tidak boleh berbuat sesuka hati di luar aturan-aturan dan norma yang telah ditetapkan dalam dharma. Dengan demikian, mereka yang meninggalkan medan perang atau menyerah tidak akan diserang lagi. Pasukan berkuda hanya boleh menyerang pasukan berkuda; demikian pula prajurit yang berkereta kuda dan penunggang gajah. Mereka yang menyerang tidak akan dibunuh. Tidak seorang pun membela kawan atau menyerang lawan yang sedang bertarung satu lawan satu.
Orang yang tidak bersenjata tidak boleh diserang dengan senjata. Tidak boleh menyerang kelompok bukan prajurit atau mereka yang memukul genderang dan peniup terompet. Demikian peraturan yang disepakati oleh Kurawa dan Pandawa dan diumumkan sebelum perang.
Waktu telah mengubah cara manusia menilai apa yang benar dan salah. Dalam perang modern, tidak ada yang tidak boleh diserang. Serangan tidak hanya ditujukan pada peralatan militer, tapi juga ternak seperti kuda, unta, keledai, dan peralatan medis, bahkan warga sipil tanpa rasa bersalah.
Kadang-kadang aturan yang berlaku dilanggar bahkan dalam perang Mahabharata. Kita bisa melihat dengan jelas kadang terjadi pelanggaran karena satu atau alasan lain. Namun demikian, secara keseluruhan aturan perang yang terhormat ditaati kedua belah pihak di padang Kurusetra dan setiap pelanggaran yang terjadi dianggap sebagai kesalahan dan tindakan yang memalukan.
Kata Bhisma kepada para kesatria yang berada di bawah komandonya: “Wahai para kesatria, di hadapan kalian menjelangg kesempatan yang gilang gemilang. Di hadapan kalian adalah pintu gerbang nirwana yang terbuka selebar-lebarnya. Kebahagian hidup bersama Batara Indra dan Brahma menanti kalian. Ikutilah jejak nenek moyang kalian dan ikutilah jalan dharma kesatria. Bertempurlah dengan gembira untuk mencapai kemuliaan dan kemasyhuran. Seorang kesatria tidak akan mau mati di ranjang karena sakit atau dimakan usia. Ia pasti akan memilih mati di medan laga.” Demikian kata-kata pembakar semangat yang diutarakan Bhisma dan disambut dengan sorak-sorai yang membahana.
Panji-panji yang bergambar pohon palem dan lima bintang milik Bhisma berkibar-kibar dan tampak seperti bersinar terang. Panji-panji Aswatama yang berlambang singa tampak garang. Panji-panji Durna yang berlambang mangku pandita dan busur panah warna kuning keemasan berkibar di angkasa. Panji-panji ular kobra milik Duryudana yang terkenal tampak melambai-lambai ditiup angin. Mahaguru Kripa membawa panji-panji berlambang banteng; sementara Jayadrata menggunakan panji-panji berlambang babi hutan. Demikian pula dengan yang lain. Padang Kurusetra menjadi ramai karena pawai panji-panji yang serba megah itu.
Mengetahui bahwa bala tentara Kurawa sudah membentuk formasi perang, Yudhistira segera memanggil Arjuna.
Katanya: “Kekuatan musuh sangat besar. Jumlah kita lebih sedikit. Kita harus memusatkan kekuatan dan bukan memecah-mecah pasukan. Karena cara itu hanya akan memperlemah pasukan kita. Aturlah pasukan dengan formasi jarum.”
Hati Arjuna menjadi sangat sedih, ketika menyaksikan kedua belah pihak telah saling berhadapan untuk saling bunuh. Krishna tidak membiarkan Arjuna dirundung keraguan dan kesedihan. Petuah-petuah yang diberikan Krishna kepada Arjuna pada saat itu adalah Bhagawat Gita yang kemudian terabadikan di hati jutaan manusia sebagai kata-kata Tuhan sendiri dan dipandang sebagai salah satu kekayaan sastra tertinggi dalam sejarah umat manusia.
Ajarannya, mulai dari pemujaan sampai kewajiban tanpa keterikatan atau kelekatan pada keinginan untuk mendapatkan imbalan, telah menunjukkan cara hidup bagi semua manusia, baik yang kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, menjadi terang untuk menghadapi kegelapan persoalan-persoalan.* C. Raajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


