Anglingdarma dan Setyowati
KISUTA.com - Anglingdarma remaja tumbuh sebagai jejaka tampan yang gesit dan cerdas. Di bawah bimbingan Ibusuri Sarameshwari dan Ibunya Dewi Pramesthi, Anglingdarma dididik sebagai teruna yang berbudi luhur, penuh cinta kasih pada sesamanya, menjauhkan diri dari kesombongan, dan tanggap pada setiap kejadian yang melibatkan kepentingan rakyat dan warga di bawah bimbingannya.
Prabu Sri Aji Jaya Amijaya, mengarahkan Anglingdarma untuk berguru olah kanuragan dan kebathinan pada Sang Nagaraja, Dewa Ular yang bisa menjelma menjadi seorang begawan.
Suatu hari Anglingdarma dan beberapa pengawalnya, berburu binatang di hutan. Ketangkasan sang pangeran muda selalu membawa kebanggaan bagi para punggawanya, jiwanya yang dermawan membuatnya dekat dengan para prajurit. Di tengah-tengah perburuannya, Anglingdarma mendengar sayup-sayup jeritan seorang gadis dan auman harimau. Bergegas Anglingdarma memacu kudanya ke arah suara tersebut. Ternyata seorang gadis cantik sedang tersudut di ujung bukit, di depannya seekor harimau yang buas sedang bersiap-siap menerkam nya...tanpa menunggu lebih lanjut, berdesing anak panah di tangan sang teruna, harimau itu tertembus di leher dan jantungnya terkena sekaligus 2 anak panah yang tepat mengenai sasaran diluncurkan dari tangan sakti Anglingdarma. Pecah sorak sorai hulubalang melihat ketangkasan pangeran muda ini. Anglingdarma segera menolong gadis cantik yang pucat pasi ketakutan itu...
Anglingdarma: Nimas ayu...siapakah engkau yang dikejar harimau di tengah belantara seperti ini...?
Setyowati: Aa..a..aku..Se..Setyowati..anak Begawan Maniksutra...mmm, tadi aku sedang mengambil air di sendang..harimau itu mengejarku...
Anglingdarma: Kasihan sekali gadis secantik engkau, sendirian saja mencari air...apakah tidak ada cantrik ayahmu yang mengawalmu...
Setyowati: Biasanya rakandaku Batik Madrim menemaniku...tapi tadi kakang Madrim sedang menghadap Rama...aku merasa bisa mengambil air sendiri...aah..apakah harimau itu sudah mati? Bagaimana kalau ada gerombolannya?
(mata Setyowati yang indah, jelalatan ketakutan melirik ke semak-semak di belakang punggung Anglingdarma. Berdesir darah muda sang pangeran...gadis ini cantik sekali, matanya begitu indah berbinar-binar, mata yang penuh semangat hidup...andai gadis seperti ini yang menjadi pendamping hidupnya...Anglingdarma, menghela nafasnya)
Anglingdarma: Setyowati, jangan khawatir...aku akan mengantarkanmu kembali ke pertapaan ayahmu. Mari aku antarkan kamu.
Dengan tubuh masih dingin menggigil, Setyowati dibimbing Anglingdarma naik ke atas punggung Turangga Seta, kuda tunggangannya. Goncangan lari Turangga Seta yang kadang membuat tubuh Setyowati bersentuhan dengan tubuh Anglingdarma di atas punggung kuda itu, makin mengharu biru darah muda sang pangeran.
Sesampainya di pertapaan, setelah Setyowati menceritakan kejadian mengapa dia diantarkan Anglingdarma, sang pangeran muda ini mengutarakan niatnya mempersunting sang dewi di hadapan ayahandanya.
Maniksutra: Pangeran Anglingdarma, anakku hanya dua, Batik Madrim dan Setyowati...kalau engkau menghendaki Setyowati sebagai sisihanmu...aku harus menanyakan kesediaan mereka berdua. Karena dalam keluarga kami semua mendapat hak yang sama untuk mengutarakan pendapat. Madrim, engkau sebagai anakku tertua, bagaimana tanggapanmu mendengar adikmu dipinang?
Batik Madrim: Rama Begawan, aku sangat menyayangi yayi Setyowati. Selama ini akulah yang menjadi pelindung adikku. Kalau ada laki-laki yang meminta adikku baik-baik...aku akan ikhlas menyerahkan jika laki-laki itu mampu mengalahkanku baik dalam jaya kawijayan maupun olah bathin. Karena di tangannyalah nanti aku serahkan keselamatan Setyowati.
Maniksutra: Hhhmmm...baik Madrim aku rasa itu permintaan yang wajar..nanti Anglingdarma harus menghadapimu sebagai laki-laki...sekarang bagaimana dengan engkau Setyowati...apa yg ingin kau sampaikan berkaitan dengan pinangan Anglingdarma...?
(Mata Setyowati, mengerling tajam menyapu wajah Anglingdarma...menyeruak pandangan hatinya, wajah tampan ini tentu akan banyak digilai gadis-gadis muda, apalagi dia seorang bangsawan tinggi, tidak sebanding dengan dirinya yang hanya gadis dusun anak seorang brahmana...sejenak Setyowati bergulat dengan bathinnya...panah asmara sudah menyentuh lubuk hatinya, namun harga diri dan benteng pertahanan martabatnya bergolak akhirnya muncul dalam bentuk keputusan)
Setyowati: Kanjeng Rama..aku mencontoh indahnya perkawinan Rama dan kanjeng Ibu...yang langgeng hingga kaken-kaken ninen-ninen, beralaskan kesetiaan, kejujuran tanpa ada keraguan karena masing-masing tahu diri menjaga perasaan pasangannya. Rama, pangeran Anglingdarma adalah bangsawan tinggi, sedangkan aku cuma gadis dusun, kalau pangeran Anglingdarma tidak menempatkan aku sejajar dengan dirinya, percuma saja pinangan ini. Sejajar itu Rama, artinya jiwa dan raga kami adalah satu, manunggal, tidak akan terpisahkan...jika niat Pangeran Anglingdarma tulus pada Ananda...maka tidak boleh ada rahasia di antara kami berdua, agar tidak ada kecurigaan, persangkaan atau dusta yang tersembunyi...kalau permintaan Ananda berupa sumpah dan janji ini bisa dipenuhi, Ananda mau menjadi istrinya. Namun, jika sumpah itu dilanggar, Rama...lebih baik Ananda pati obong meninggalkan guru laki yang tidak bisa menjaga sumpahnya.
Petir menggelegar, angin tiba-tiba bertiup menyeruak diantara dedaunan, hening sesaat, Sang Begawan menarik nafas panjang mewaspadai tanda-tanda alam ini...seakan waskita bahwa tekad dan kemauan Setyowati, akan mendatangkan petaka yang dahsyat.
Sesuai dengan permintaan Batik Madrim, maka terjadilah pertandingan antara kakak Setyowati itu dengan Anglingdarma yang dimenangkan oleh Anglingdarma. Setelah itu, Anglingdarma memboyong Setyowati ke kadipaten Malwapati diiringi oleh Batik Madrim.
Mendengar keponakannya telah menemukan jodohnya, Sri Aji Jaya Amijaya, mengeluarkan keputusan bijaksana, menyerahkan seperempat kerajaannya, dan meningkatkan status Malwapati, dari kadipaten menjadi kerajaan dengan nama Praja Malawapati dan mewisuda Anglingdarma sebagai Raja di kerajaan itu didampingi Batik Madrim sebagai patihnya, dan Begawan Maniksutra sebagai Guru Besar Kerajaan Malawapati.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


