Yudhistira Mohon Restu
KISUTA.com - Masing-masing telah siap untuk saling bunuh. Pada saat-saat yang menegangkan itu, tanpa diduga Yudhistira, putra Kunti yang tabah dan pemberani, melepaskan baju perang dan senjatanya. Ia turun dari kereta dan berjalan kaki menuju Senapati Agung Kurawa. Semua yang melihat Yudhistira tercengang, bingung, dan bertanya-tanya dalam hati: "Apa gerangan yang akan dilakukan Yudhistira?"
Arjuna pun sangat terkejut dan segera turun dari keretanya lalu mengejar Yudhistira. Saudara-saudaranya yang lain dan Krishna pun melakukan hal yang sama. Mereka khawatir jika Yudhistira hendak menyerah tanpa perlawanan, demi tercapainya perdamaian.
Kata Arjuna kepada Dharmaputra: "Tuanku Raja, mengapa engkau berlaku seaneh ini? Tanpa memberitahukan kami, kau pergi ke tempat musuh, tanpa senjata, tanpa pengawal, dan dengan berjalan kaki. Katakan apa maksudmu?"
Tetapi Yudhistira tidak menjawab. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri dan terus berjalan menuju ke tempat musuh. Kemudian, Wasudewa, yang bisa membaca hati manusia, tersenyum dan katanya: "Ia pergi kepada para tetua untuk mohon restu sebelum memulai perang yang mengerikan ini. Ia pikir tidak semestinya memulai perang dahsyat ini tanpa restu dan izin dari para tetua. Ia pergi kepada kakeknya, Bhisma, dan mahagurunya, Durna. Oleh karena itu, ia berjalan tanpa senjata. Apa yang ia lakukan memang benar. Ia melakukan apa yang diminta tradisi. Setelah itu barulah kemudian, kita akan berperang."
Keika melihat Yudhistira melangkah maju dengan sikap tangan mengatup tunduk menyembah, pasukan Duryudana berpikir: “Yudhistira datang untuk mencari penyelesaian secara damai. Ia ketakutan setelah melihat kekuatan kita. Orang ini sungguh membuat malu kaum kesatria. Mengapa pengecut seperti ini bisa terlahir di kalangan kesatria?” Mereka bicara berbisik-bisik mencemooh Yudhistira meskipun hati mereka lega melihat kubu mereka bisa memenangkan perang tanpa harus menumpahkan darah.
Yudhistira terus berjalan, menembus barisan pasukan Kurawa yang rapi lengkap dengan senjata mereka. Ia terus berjalan menuju tempat Bhisma. Ia menundukkan badan dan mencium kaki kakeknya. Katanya: “Kakek yang mulia, mohon perkenankan kami untuk memulai peperangan. Kami memberanikan diri untuk menantang Kakek, yang tidak terkalahkan dan tidak ada tandingannya. Kami mohon restu sebelum memulai perang.”
Jawab sang kakek: “Cucuku, engkau terlahir sebagai keturunan Bharata. Engkau telah bertindak mulia, sesuai dengan tatakrama kesatria. Aku amat gembira kau bertindak seperti ini. Bertempurlah dan engkau akan mendapatkan kemenangan. Aku bukan prajurit yang bebas. Karena terikat dengan kewajibanku terhadap Destarata, aku harus bertempur untuk kubu Kurawa. Bertempurlah dan kemenangan akan menjadi milik kalian.”
Setelah mendapatkan izin dan restu dari kakeknya, Yudhistira pergi kepada Durna dan sujud menyembah sesuai dengan adat. Durna juga memberikan restu. Katanya:
“Bharmaputra, aku tidak mungkin mengingkari kewajibanku kepada para Kurawa. Kepentingan pribadi telah memperbudak dan menjadi majikan kami. Karena itu, aku terikat dengan kewajiban kepada para Kurawa. Aku harus bertempur untuk pihak mereka. Tapi kalian akan meraih kemenangan.”
Dengan cara yang sama Yudhistira mendekati dan memohon restu dari mahaguru Kripa dan Raja Salya, pamannya. Setelah itu, ia kembali ke bala tentara Pandawa.
Demikianlah perang besar Bharatayudha dimulai dengan pertarungan satu lawan satu. Bhisma melawan Arjuna, Krittawarma melawan Satyaki, Abimanyu melawan Brihatbala, Salya melawan Yudhistira, Duryudana melawan Bima, dan Dristadyumna melawan Durna. Demikian pula, ribuan pasukan yang lain saling bertempur sesuai dengan aturan perang yang disepakati.
Di samping pertempuran satu lawan satu antara para kesatria pilih tanding, juga terjadi perang bebas, yaitu antara pasukan jalan kaki kedua belah pihak. Pertempuran bebas ini disebut sankula yudha.
Demikianlah padang Kurusetra menjadi saksi pertempuran bebas yang tak terhitung jumlahnya. Mereka saling bunuh dengan garang, tanpa belas kasihan. Mereka tidak memperdulikan apa pun, yang penting musuh terpenggal lehernya. Di padang itu, mayat-mayat pasukan, sais kereta, penunggang gajah, dan kuda bergelimpangan hingga kereta kuda kesulitan untuk bergerak. Di perang modern, tidak ada lagi perang satu lawan satu ini.
Bala tentara Kurawa dipimpin Bhisma selama sepuluh hari. Setelah Bhisma, Durna menjadi mahasenapati. Ketika Durna tewas, Karna mengambil alih kendali bala tentara Kurawa. Karna akhirnya menemui ajal pada akhir hari ketujuh belas. Pada hari yang kedelapan belas dan hari terakhir, Raja Salya memimpin pasukan Kurawa.
Pada hari-hari yang lebih kemudian, banyak terjadi tindakan-tindakan yang biadab dan tidak menunjukkan sikap perwira. Keperwiraan dan aturan perang tetap ditegakkan karena manusia memiliki martabat. Tetapi situasi yang pelik dan godaan-godaan terus muncul hingga sulit ditolak apalgi ketika benih-benih kebencian telah membiak dan bermandikan darah. Bahkan, orang-orang besar pun melakukan kecurangan dan hal itu menjadi contoh yang buruk bagi yang lain. Semakin hari dharma semakin ditinggalkan dengan mudah dan sering. Maka, terjadilah kekejaman demi kekejaman dan memunculkan adharma dan dunia pun terseret ke dalam kegelapan kejahatan.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


