Perang Hari Pertama
KISUTA.com - Dursasana memimpin pasukan Kurawa. Sementara itu, Bima memimpin pasukan Pandawa. Gemuruh pertempuran membelah angkasa. Genderang ditabuh bertalu-talu, teromper tanduk dan kerang ditiup menderu-deru. Suaranya memenuhi angkasa. Kuda-kuda meringkik. Gajah-gajah melengking. Para prajurit bersorak sorai. Panah-panah beterbangan seperti hujan meteor. Ayah dan anak, paman dan kemenakan saling bunuh. Mereka melupakan hubungan kasih yang dulu terjalin dan hubungan darah. Ini adalah perang yang gila dan mengerikan.
Sebelum tengah hari, pasukan Pandawa banyak mengalami kekalahan. Setiap kali kereta Bhisma bergerak seperti terjadi tarian sang malaikat penghancur. Abimanyu tidak bisa berdiam diri. Ia segera menyerang kakeknya. Ketika tetua keluarga dan cucu termuda bertarung, para dewa turun untuk melihat pertempuran itu.
Panji-panji Abimanyu yang berlambang pohon karnikara keemasan berkibar-kibar dengan gagah. Kritawarma terkena satu panah Abimanyu dan Salya terkena lima kali. Bhisma sendiri sembilan kali tertusuk tombak Abimanyu. Sais kereta Durmaka terkena panah Abimanyu yang setajam pedang. Akibatnya kepalanya terpenggal dan jatuh terguling-guling di tanah. Satu panah Abimanyu mengenai busur Salya hingga patah menjadi dua. Ketangkasan Abimanyu membuat para dewa menjatuhkan hujan bunga. Bhisma dan para kesatria lain yang melihat sepak terjang Abimanyu berseru: "Dia memang pantas menjadi anak Dananjaya!"
Kemudian, para kesatria Kurawa bersama-sama menyerang Abimanyu. Tidak sedikit pun kesatria muda itu tampak gentar. Dengan tangkas ia tangkis semua tombak yang dilemparkan Bhisma kepadanya. Salah satu panah yang ia bidikkan berhasil menjatuhkan panji-panji pohon palem milik kakeknya. Melihat itu, Bimasena amat girang. Ia berseru lantang menyemangati kemenakannya. Suara Bima membuat Abimanyu kian bersemangat.
Bhisma amat senang melihat keberanian kesatria muda itu. Dengan berat hati, ia harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan cucunya itu. Wirata dan putranya, Dristadyumna, putra Drupada dan Bima segera datang membantu menyerang sang kakeik. Kemudian Bhismamengalihkan serangan kepada mereka. Uttara datang dengan menunggang gajah. Ia serang Salya habis-habisan hingga kereta kudanya hancur berantakan. Tetapi, secepat kilat, ia lemparkan tombaknya ke arah Uttara. Tombak itu melesat cepat dan tepat menembus dada Uttara. Uttara langsung tumbang dan tewas seketika. Tetapi gajah itu terus mengamuk. Ia terus menyerang sampai Salya memotong belalainya dan melukainya dengan sekian banyak panah. Akhirnya, gajah tunggangan Uttara itu pun ikut tumbang. Salya segera naik kereta Kritawarma.
Sweta melihat bagaimana Salya menghabisi Uttara, adiknya. Amarahnya langsung meledak. Ia segera memacu kudanya sekencang-kencangnya ke arah Salya. Tujuh kereta masing-masing bergabung untuk melindungi Salya. Mereka hujani Sweta dengan panah yang melesat bagaikan kilat. Tapi dengan tangkas, Sweta bisa menangkis semua serangan itu. Ia tangkis serangan tombak mereka dengan tombaknya dan patahkan setiap serangan yang diarahkan padanya. Para kesatria keduua kubu terkagum-kagum pada ketangkasan yang diperlihatkan Sweta. Tanpa membuang waktu, Duryudana segera mengirimkan bantuan untuk melindungi Salya. Perang berlangsung sangat sengit. Ribuan prajurit tewas dan banyak sekali kereta kuda yang rusak. banyak gajah dan kuda mati.
Sweta berhasil memukul mudur pasukan yang dikirim Duryudana dan terus merangsek maju menyerang Bhisma. Ia berhasil mematahkan satu panji Bhisma. Sebagai balasan, Bhisma berhasil membunuh sais kereta dan kuda Sweta. Bhisma dan Sweta beradu tombak. Sekuat tenaga Sweta lemparkan tombaknya ke arah kereta Bhisma. Lemparan itu tepat mengenai sasaran. Kereta Bhisma hancur berantakan. Tetapi sebelum lemparan itu mengenai keretanya, Bhisma melompat turun. Begitu kakinya menjejakkan tanah, ia lepaskan anak panah ke arah Sweta. Anak panah melesat cepat dan menembus dada Sweta. Seketika itu juga Sweta menemui ajal. Dursasana meniup terompet kerangnya dan menari-nari merayakan kemenangan Kurawa. Bhisma tidak berhenti sampai di situ. Ia terus menyerang pasukan Pandawa.
Pada hari pertama, pasukan Pandawa mengalami kekalahan besar. Yudhistira amat prihatin dengan kekalahan pihaknya. Sementara itu, Duryudana amat girang dengan kemenangannya. Para Pandawa meminta nasihat kepada Krishna.
Kata Krishna kepada Yudhistira: "Wahai pemimpin keturunan Bharata, jangan cemas. Hyang Widhi menganugerahkan kepadamu saudara-saudara yang perkasa. Tidak perlu ragu. Satyaki ada di pihak kita. Ada pula Wirata, Drupada, dan Dristadyumna. Apakah ada alasan untuk berkecil hati. Jangan lupa Srikandi sedang menunggu takdirnya untuk menamatkan riwayat Bhisma?" Demikianlah Krishna membakar semangat Yudhistira.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


