Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perang Hari Kedua

Minggu, 5 April 2015

KISUTA.com - Setelah mengalami kekalahan besar pada hari pertama, pasukan Pandawa dengan pimpinan Dristadyumna menyusun siasat baru supaya kekalahan itu tidak terulang kembali. Pada hari kedua, pasukan disusun dengan lebih cermat dan semuanya dipersiapkan sebaik-baiknya untuk memompa kepercayaan diri pasukan.

Duryudana sangat senang dengan kemenangan Kurawa pada hari pertama. Ia berdiri di tengah-tengah pasukannya dan berkata dengan lantang: "Wahai para pahlawan, kemenangan sudah di depan mata. Teruslah bertempur tanpa hiraukan nyawa."

Arjuna berkata kepada Krishna yang menjadi sais keretanya: "Jika kita biarkan keadaan ini berlarut-larut, tidak lama lagi pasukan kita akan dihabisi oleh Kakek Bhisma. Jika Bhisma tidak dibunuh, aku khawatir kita akan kalah."

Jawab Krishna: "Jika demikian, bersiaplah. Kita hancurkan kereta Bhisma!" Sambil melecut keretanya ke arah Bhisma.

Kereta mereka melesat cepat. Dari jauh Bhisma melihat kereta Arjuna. Dengan cepat ia lemparkan tombak-tombaknya untuk menyambut tantangan Arjuna. Duryudana memerintahkan orang-orangnya untuk melindungi Bhisma dari pasukan musuh. Seperti yang diperintahkan, para kesatria segera memosisikan diri untuk melindungi Bhisma. Mereka segera menyerang Arjuna yang tampaknya sama sekali tidak gentar.

Semua tahu hanya Bhisma, Durna, dan Karna yang bisa menandingi Arjuna. Dengan mudah, Arjuna memorak-porandakan bala bantuan yang dikirim Duryudana. Ketangkasan Arjuna menggunakan busurnya yang besar membuat kagum para lawan dan kawan. Kereta Arjuna melesat bagai petir menyambar-nyambar para musuh –saking sepatnya mata akan sakit jika mengikutinya.

Hati Duryudana tergetar melihat pertarungan itu. Kepercayaannya kepada Bhisma mulai goyah. Kata Duryudana: “Putra Gangga, meskipun engkau dan Durna masih hidup tampaknya kita tidak akan bisa mengalahkan pasangan Arjuna dan Krishna. Demi kau, aku mengabaikan pengabdian dan kesetiaan Karna. Aku khawatir kalian menipuku. Kalian hanya diam saja. Tidak segera menghancurkan Palguna (Arjuna).”

Para dewa turun dari kahyangan untuk menyaksikan pertarungan antara Arjuna dan Bhisma. Keduanya adalah kesatria terbesar di muka bumi. Kereta kedua kesatria itu ditarik oleh kuda putih. Tak terhitung banyaknya anak panah yang mereka lepaskan. Kadang anak panah Bhisma mengenai Arjuna dan Madhawa (Krishna). Darah yang mengucur membuat Madhawa tampak semakin agung seperti pohon palasa yang bunganya bermekaran. Amarah Arjuna meledak ketika melihat sais keretanya terkena panah dan ia bidikkan panah ke arah Bhisma. Pertempuran itu tampak seimbang dan berlangsung sengit selama beberapa saat. Kereta mereka bergerak sangat cepat hingga sangat sulit untuk menentukan yang mana Arjuna dan yang mana Bhisma. Yang tampak jelas hanya panji-panji mereka.

Sementara Arjuna dan Bhisma bertarung, di ujung padang yang lain terjadi pertarungan sengit antara Durna dan Dristadyumna, putra Raja Panchala dan kaka Drupadi. Durna menyerang Dristadyumna dengan hebat dan mahasenapati Pandawa itu mengalami luka berat. Tapi Dristadyumna membalas dengan sama hebatnya dan dengan kebencian yang membara ia luncurkan panah dan senjata-senjata lain ke arah Durna. Dengan tangkas, Durna melindungi diri. Ia tangkis anak panah dan pedang yang menderu ke arahnya dengan panah dan meremukkannya jauh sebelum sampai kepadanya. Berulang kali busur Dristadyumna patah terkena panah Durna. Salah satu panah Durna berhasil membunuh sais kereta Dristadyumna. Dristadyumna segera melompat turun dari kereta. Ia sambar gada dan menyerbu Durna. Durna melepaskan anak panah dan berhasil menjatuhkan gada Dristadyumna. Kemudian, Dristadyumna menghunus pedang dan sekali lagi menyerbu Durna. Tetapi sekali lagi, Durna berhasil melumpuhkan serangan Dristadyumna. Pada saat yang kritis itu, Bima melepaskan hujan panah ke arah Durna seranya menyambar Dristadyumna dan membawanya ke tempat yang aman.

Duryudana yang melihat Bima menyerang Durna segera mengirimkan pasukan Kalinga. Bima mengamuk dan membunuh sejumlah besar pasukan Kalinga. Seperti dewa kematian, ia mengamuk di antara pasukan musuh dan menewaskan banyak orang. Bima mengamuk seperti banteng terluka hingga seluruh pasukan tergetar ketakutan.

Ketika melihat itu, Bhisma segera datang membantu pasukan Kalinga. Satyaki, Abimanyu, para kesatria Pandawa lain segera membantu Bima. Serangan tombak berhasil menewaskan sais kereta Bhisma. Akibatnya, kereta Bhisma menjadi lepas kendali dan berlari liar meninggalkan medan pertempuran. Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya pasukan Pandawa. Mereka menyerang pasukan Kurawa sehabis-habisnya. Akibat serangan Arjuna tidak terhitung kehilangan yang dialami pasukan Kurawa. Melihat hal ini para pemimpin pasukan Kurawa menjadi risau. Semangat yang membara karena kemenangan pada hari pertama menguap habis. Mereka tidak sabar menunggu datangnya senja hari saat perang akan dihentikan.

Ketika matahari tenggelam di barat, Bhisma berkata kepada Durna: “Sebaiknya sekarang kita hentikan perang. Nyali bala tentara kita sudah ciut dan mereka sudah kelelahan.”

Di kubu Pandawa, Dananjaya dan yang lain kembali dengan hati gembira. Pada hari kedua, giliran Kurawa mengalami suasana hati yang dialami Pandawa pada hari pertama.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya