Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Aji Gineng Anglingdarma

Senin, 6 April 2015

KISUTA.com - Senja hujan rintik-rintik di tlatah praja Malawapati. Sang Prabu Anglingdarma masih berburu di tengah hutan. Dia meninggalkan kuda dan pengawalnya, kakinya lincah menyeruak di antara semak-semak mencari binatang buruan. Tiba-tiba matanya terbelalak, di balik semak-semak dilihatnya Dewi Nagagini istri gurunya Sang Hyang Nagaraja, berselingkuh dengan seekor Ular Tambah...Bergolak hati sang raja muda, perasaan jijik dan marah membuat angannya lepas...Anglingdarma masih pengantin baru, perasaan cintanya yang begitu besar pada Setyowati, membuatnya membayangkan...'aaah seandainya Setyowati berprilaku sedeng seperti itu, di belakang punggungnya berasyik masyuk dengan laki-laki lain, mendesah, bermandi peluh, menikmati hubungan gelap, masihkah bisa dipercaya wujud cinta yang suci?

Muak mau muntah dan jijik Anglingdarma membayangkan kejalangan perempuan seperti itu...rasa hormatnya pada Sang Nagaraja guru yang disayanginya, membuatnya menarik anak panah dari gendewa saktinya...'Hmm, ular beludak itu harus diberi pelajaran, sungguh berani berselingkuh dengan Nagagini istri Bapa Nagaraja!' Berdesing suara anak panah menembus kesenyapan senja...suara pekik Ular Tampar dan Nagagini terdengar nyeri mengiris sukma. Ular Tampar itu tewas seketika dengan leher terbelah anak panah, sementara Nagagini merintih kesakitan karena ekornya luka terserempet anak panah.

Nagagini: Kurang ajar, siapa ksatria yang berani kurang ajar melukaiku...

Anglingdarma: Nagagini, buka matamu lebar-lebar..bagaimana engkau menjadi tidak awas karena nafsu maksiatmu? Ini aku Anglingdarma, siswa Bapa Nagaraja, yang memberikan pelajaran atas lakumu yang sedeng...sungguh tak patut patrapmu sebagai istri Sang Hyang Nagaraja...bagaimana kau layani ular rendahan merendahkan martabatmu sendiri...

Nagagini: Jagad Dewa Bathara! Anglingdarma! Lancang kamu mengurusi urusan orang lain...perbuatanku bukan urusanmu...awas Anglingdarma, engkau telah melukaiku...akan aku adukan perbuatanmu yang berani mengkurangajari aku...coba lihat bagaimana murka Sang Nagaraja, jika tahu istrinya dikurangajari dan dijamah muridnya!!

Nagagini melesat meninggalkan Anglingdarma yang terpana mendengar ancaman Nagagini. Wah gawat...sepertinya Nagagini akan memutarbalikkan fakta, Anglingdarma mengernyitkan dahinya...timbul kekhawatiran yang besar di hatinya...Bagaimana kalau Sang Nagaraja termakan omongan Nagagini? Anglingdarma tahu betapa besar rasa cinta sang Nagaraja pada istrinya...Nagagini walaupun berujud ular, namun karena dia seorang Bathari, pada saat menjelma menjadi manusia, Nagagini adalah wanita molek yang kecantikannya luarbiasa...kalau Nagagini memfitnahnya, masuk akal jika Nagaraja mempercayainya...Pikiran Anglingdarma kalut...segera dia mengemasi anak panahnya dan bergegas kembali ke Malawapati.

Di Kahyangan Sapta Pertala, Nagagini memeluk tubuh Nagaraja dengan tangisan yang memilukan, menggunakan kemolekan tubuhnya mulailah dia menjalankan siasatnya mengadu pada suaminya.

Nagagini: Duh Kanda...sakit rasanya hati ini, tadi aku ingin menikmati senja yang indah di sendang Malawapati...karena sepi, aku badar wujud sebagai ular, beralih dalam wujud kamanungsanku...aku puas-puaskan memanjakan tubuhku di beningnya air telaga...tak dinyana-tak di duga..Ooough...(terisak terguncang-guncang)

Nagaraja: Sudahlah Dinda, berhentilah dulu menangis...agar utuh ceritamu...apa yang terjadi? Mengapa ekormu luka...apa tersangkut akar pohon di telaga...mari Kanda obati...

Nagagini: Kanda...tidak sesederhana itu...aku luka karena ada yng mau kurang ajar dan memperkosaku!

Nagaraja: Apa?!" (Nagaraja terkesiap...mendidih darahnya ada yang berani menjamah istrinya)...Siapa mahluk kurang ajar itu...tidakkah dia tahu engkau garwa kinasihku....

Nagagini: Dia bukan orang lain Kanda...dia...dia...muridmu Anglingdarma, Raja Malawapati...Dinda luka karena berusaha melepaskan diri dari dekapannya...dinda berjuang mempertahankan kehormatan kita Kanda....Ooouh suamiku....balaskan sakit hatiku ini...

Sang Hyang Nagaraja, tak mampu membendung amarahnya yang meluap, sungguh tak dinyana murid yang dikasihinya bisa berbuat sehina itu. Tubuhnya melesat memarcapada, namun sebelum mengambil keputusan menghukum Anglingdarma, jiwa kadewatannya timbul...aah, dia tidak boleh menelan mentah-mentah pengaduan Nagagini...Nagaraja merubah dirinya menjadi rama-rama, dia terbang ke bilik peraduan Anglingdarma, menempel ke kelambu tempat tidur sang raja, dan menunggu Anglingdarma bersama Setyowati berangkat ke peraduan.

Syahdan, wajah Anglingdarma yang terus cemberut sejak pulang dari berburu, membuat permaisuri Setyowati bertanya-tanya dalam hatinya...apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang ditemui suaminya di perburuan...kecurigaan Setyowati, mulai menggoda pikirannya...saat berada di peraduan dengan suaminya, dengan merajuk Setyowati bertanya...

Setyowati: Kakaprabu...kok cemberut terus sih...sudah mulai bosan dengan Dinda ya? Eehmm...benarlah kekhawatiranku selama ini...

Anglingdarma: Dinda...ah jangan bersyak wasangka...tidak ada yang salah dengan perasaan Kanda pada Dinda...jangan kau tambah kerisauan hatiku Setyowati...

Setyowati: Kanda..dulu Dinda pernah berujar hanya mau dinikahi Kanda kalau tidak ada rahasia di antara kita...setelah pulang berburu, Kanda terus bermuram durja, tidak sepatah katapun Kanda bercerita apa yang merisaukan Kanda...bagaimana Dinda tidak penasaran dengan tingkah Kanda? Hilangkan syak wasangkaku Kanda..jujur, berceritalah enak ngga enak yang harus aku dengar...

Anglingdarma: Setyowati...tadi aku menemukan Dewi Nagagini istri guruku, berasyik masyuk berselingkuh dengan seekor ular tampar...rasa marah dan jijik atas patrap hina itu, membuatku membunuh ular tampar itu dengan anak panahku, yang ternyata juga melukai ekor Nagagini...sambil pergi menahan rasa sakitnya..Nagagini mengancamku, akan mengadu pada Nagaraja guruku bahwa aku telah berlaku kurang ajar menjamahnya...hingga dia luka karena membela diri...

Setyowati: Aah itu fitnah Kanda...keji sekali, fitnah itu...bagaimana kalau Hyang Nagaraja termakan fitnahan itu?

Anglingdarma: Itulah yang membuat Kakanda masgul Dinda...

Sang Nagaraja yang mendengar penuturan Anglingdarma pada Setyowati, percaya pada cerita Raja Muda itu. Diam-diam Nagaraja memang meragukan pengaduan istrinya...jarak usianya yang jauh dari Nagagini, membuatnya sadar...istrinya itu memiliki kegenitan dan keangkuhan akibat kemudaan, wajah dan bentuk tubuhnya...walaupun fasilitas sudah diberikannya pada sang istri, Nagagini tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya. Godaannya pada kaum pria membuatnya beranggapan hal yang lumrah berhubungan badan dengan pria manapun asal suka sama suka...tidak takut akan azab dan doa, yang penting aman, ngga ketahuan....Nagaraja menghela nafas panjang betapa sedihnya, memiliki pasangan hidup yang akhlak dan moralnya rendah. Untunglah Anglingdarma membantunya mengembalikan kehormatan Sapta Pertala.

Rama-rama jelmaan Nagaraja terbang ke taman istana, dengan ilmu bathinnya di panggilnya Anglingdarma.

Panggilan bathin itu membuat Anglingdarma meninggalkan istrinya yang sudah tertidur. Perlahan-lahan beringsut dari peraduan menuju taman menemui Hyang Nagaraja.

Nagaraja: Kaki Anglingdarma...tahukah engkau mengapa aku panggil kemari?

Anglingdarma: (Menghormat ke Nagaraja, dan memandang wajah gurunya itu...tampak sinar kebijaksanaan dari sang Brahmana Dewa, wajah yang demikian teduh dan tegar...tak tampak murka di wajah itu) ya Bapa...ampuni Ananda kalau tadi panah Ananda menyerempet ekor ibu Nagagini...semoga Bapa memakluni apa yang sebenarnya terjadi.

Nagaraja: Ya, kaki Anglingdarma...hampir saja aku salah langkah mendengar pengaduan istriku...untunglah Hyang Widi Wasa memberiku kawaskitan, untuk mengusut dulu apa yang sebenarnya terjadi...dan tidak serta merta mempercayai apa yang disampaikan istriku...

Anglingdarma: Ya Bapa Guru...

Nagaraja (menghela nafas panjang meredakan amuk di dadanya): Menyedihkan Kaki, betapa rendahnya martabat makhluk yang berzina menebar maksiat, bukannya menyadari kesalahannya bertobat dan menyesali perbuatan menjijikan itu sepanjang hidup, agar jadi alat mencegah perbuatan khianat itu berulang...eh malah melempar dusta, menggunakan topeng untuk kenyamanannya sendiri, dan memfitnah orang lain...terkutuklah mereka yang bertahan belum bertobat untuk prilaku biadab ini. Kaki Anglingdarma....sebagai perwujudan rasa terima kasihku, atas pembelaanmu pada kehormatanku, akan aku berikan Aji Gineng kepadamu...aji ini warisan dari Kanjeng Nabi Sulaiman. Yang akan membuatmu mampu memahami semua bahasa binatang. Namun, bersumpahlah Kaki, aji ini tidak boleh kau wariskan pada siapapun. Karena saat aji ini berpindah tangan maka pemilik aji ini akan Moksa...gugur sowan ke kasedan jati.

Anglingdarma menerima warisan Aji Gineng dan bersumpah untuk menjaga ilmu itu dengan sebaik-baiknya. Setelah mewariskan Aji Gineng, Nagaraja pun Moksa di hadapan Anglingdarma.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya