Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perang Hari Ketiga

Selasa, 7 April 2015

KISUTA.com - Pada fajar hari ketiga, Bhisma mengatur pasukannya dengan formasi burung garuda. Ia sendiri berdiri paling depan. Duryudana berada di belakang untuk melindungi bagian ekor. Segala sesuatu diatur dengan sangat cermat sehingga para Kurawa yakin bahwa mereka tidak akan menelan kekalahan lagi.

Demikian pula dengan para Pandawa. Mereka mengatur pasukan dengan cermat. Dristadyumna dan Dananjaya mengatur pasukan dalam formasi bulan sabit untuk menghadapi formasi burung garuda yang digelar pasukan Kurawa. Di ujung kanan formasi berdiri Bima, di ujung kiri berdiri Arjuna. Masing-masing memimpin pasukan yang tangguh.

Pertempuran hari ketiga berlangsung sengit. Denting senjata beradu terdengar di sana sini dan darah membanjir di mana-mana. Derap kereta kuda, pasukan kuda, dan gajah membuat debu beterbangan menutup matahari. Dananjaya menyerang dengan dahsyat tapi musuh masih bisa bertahan.

Pasukan Kurawa menyerang balik. Serangan dipusatkan pada posisi Arjuna. Lembing dan tombak berdesingan di udara seperti kilat menyambar-nyambar di angkasa. Serangan serempak Kurawa tampak seperti awan hitam berarak menuju kereta Arjuna. Tetapi dengan ketangkasan yang mengagumkan, Arjuna mematahkan serangan itu dengan serangkaian desingan panah yang tiada henti dari busurnya yang masyhur.

Di titik yang lain, Sengkuni memimpin sejumlah besar pasukan menyerang Satyaki dan Abimanyu. Serangan Sengkuni membuat kereta Satyaki hancur berantakan. Terpaksa Satyaki melompat naik kereta Abimanyu. Kemudian mereka bersama-sama balas menyerang Sengkuni. Tidak lama kemudian, pasukan Sengkuni telah porak-poranda.

Durna dan Bhisma bersama-sama menyerang pasukan Dharmaputra. Nakula dan Sadewa segera datang membantu saudaranya.

Bima dan putranya Gatotkaca menyerang pasukan Duryudana. Dalam pertempuran itu, sang anak memperlihatkan keberanian yang lebih mengagumkan daripada sang ayah yang perkasa. Tombak Bima berhasil menghantam punggung Duryudana. Duryudana langsung terkapar tidak sadarkan diri. Karena takut semangat bertarung pasukan Kurawa akan ambruk jika melihat pimpinan mereka ambruk tidak sadarkan diri, sais kereta itu segera melarikan Duryudana mundur ke perkemahan Kurawa. Meskipun demikian, peristiwa itu membuat pasukan Kurawa kebingungan. Bima segera mengambil kesempatan itu dan mengamuk. Ia menerjang pasukan musuh yang berlarian menyelamatkan diri. Durna dan Bhisma yang melihat kebingungan dan kekacauan itu segera datang dan membangkitkan semangat tempur pasukan mereka kembali. Pasukan yang semula tercerai-berai dikumpulkan kembali dan Duryudana tampak memimpin mereka kembali.

Kata Duryudana kepada Bhisma: “Bagaimana mungkin kau membiarkan semua ini terjadi? Mengapa kau biarkan pasukan kita porak-poranda dan lari tunggang langgang? Aku khawatir jangan-jangan kau bersikap terlalu lunak pada para Pandawa. Mengapa kau tidak katakan terus terang? ‘Aku menyayangi Pandawa; Dristadyummna dan Satyaki adalah teman-temanku. Aku tidak bisa menyerang atau membunuh mereka.’ Engkau harus jelaskan sikapmu sejelas-jelasnya padaku. Jelas mereka bukan tandinganmu. Jika sepenuh hati, engkau pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Meskipun sekarang sudah terlambat sebaiknya engkau dan Durna jelaskan sikap kalian kepadaku.”

Rasa kecewa karena kekalahan yang dialami dan kesadaran bahwa kakeknya tidak suka dengan sikap-sikapnya membuat Duryudana bicara pedas. Tetapi Bhisma hanya tersenyum dan berkata: “Bukankah aku sudah memberikan nasihat kepadamu? Kau tidak mengindahkan nasihatku dan memutuskan untuk berperang. Aku berusaha menghindarkan perang. Tapi, semua sudah terjadi. Sekarang aku hanya menjalankan kewajibanku kepadamu dengan seluruh kemampuanku. Aku sudah tua dan aku sudah melakukan sebaik yang aku bisa.”

Setelah berkata demikian, Bhisma kembali ke medan laga. Menjelang siang keadaan menjadi terbalik. Giliran kubu Pandawa yang dilanda kecemasan. Mereka tidak menyangka Bhisma akan mengarahkan pasukan dan menyerang kembali. Karena tersengat oleh kata-kata Duryudana, ibarat api yang meremukkan semua yang dihadapi Bhisma mengamuk di medan perang. Ia kerahkan pasukan dan melancarkan serangan yang dahsyat seakan-akan ada seribu Bhisma tersebar di medan perang. Memang sore itu, Bhisma bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan amat tangkas. Semua yang menghadang di jalannya terpukul mundur dan tewas mengenaskan seperti laron yang mati ditelan lidah api.

Kini gantian pasukan Pandawa yang kacau balau dan kocar-kacir. Wasudewa, Srikandi, dan Partha berusaha keras menyusun dan membangkitkan semangat pasukan mereka tapi gagal. Kata Krishna: “Dananjaya, sekarang tiba saat yang menentukan. Laksanakan sumpahmu untuk tidak lari meninggalkan kewajibanmu menamatkan riwayat Bhisma, Durna, kerabat, para tetua, dan teman-teman lain di medan laga. Kau telah bersumpah dan kau harus melaksanakannya. Jika kau ingkari sumpahmu, pasukan kita akan kalah. Sekarang, kau harus menyerang Bhisma.”

Kata Arjuna: “Baiklah. Mari kita maju!”

Demikianlah, Krishna memacu kereta Arjuna ke arah Bhisma. Kesatria tua itu menyambut dengan melepaskan ratusan anak panah. Arjuna menangkis serangan itu dengan busurnya. Ia juga melepaskan panahnya ke arah Bhisma. Tiga anak panahnya berhasil mematahkan busur Bhisma. Hati Bhisma amat senang meloihat ketangkasan Arjuna dalam olah senjata.

Seru Bhisma: “Engkau mengagumkan, Kesatria perkasa.” Ia segera mengambil busur yang lain dan menghujani kereta Arjuna dengan hujan panah yang semuanya persis mengarah sasaran.

Krishna tidak puas dengan cara Arjuna menghadapi serangan Bhisma. Panah-panah sang kakek menerjang dengan ganas, tapi Arjuna menghadapi tidak dengan sepenuh hati. Ia sangat menghormati kakeknya.

Menurut Krishna jika Arjuna bersikap demikian, pasukan Pandawa yang saat itu mentalnya sedang kacau akan semakin hancur dan akhirnya hanya akan menuai kekalahan. Krishna mengendalikan kereta Arjuna dengan lihai. Meskipun demikian, beberaa kali kereta terkena sambaran panah Bhisma.

Krishna tidak sabar dan katanya: “Aku tidak sabar lagi. Aku akan bunuh Bhisma sendiri!” Ia berseru dan melepaskan tali kekang kudanya. Ia melompat turun dan mengambil ancang-ancang untuk melepaskan senjata cakram ke arah Bhisma.

Bhisma sama sekali tidak risau dengan tindakan Krishna. Sebaliknya wajahnya justru bersinar cerah. Katanya: “Seranglah aku wahai Mata Bunga Teratai! Aku menunduk hormat kepadamu. Madhawa, Dewa Penguasa Dunia, apakah engkau benar-benar akan turun dari kereta untuk menolong mengambil nyawaku. Silakan ambil nyawaku. Jika engkau tyang menamatkan riwayatku, aku akan mendapat kehormatan di ketiga dunia. Berikan aku anugerah besar itu. Ambillah nyawaku dan selamatkan hidupku untuk selama-lamanya.”

Arjuna terpana melihat Krishna. Ia segera melompat turun dari kereta dan mengejar Krishna. Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil mencapai Krishna. Ia minta Krishna untuk mundur kembali. Kata Arjuna: “Bersabarlah. Aku berjanji tidak akan lari dari kewajibanku.”

Ia bujuk Krishna untuk memegang tali kekang. Arjuna menyerang bala tentara Kurawa dengan ganas. Ribuan prajurit Kurawab menemui ajalnya karena amukan Arjuna. Sore itu Kurawa mengalami kekalahan telak. Ketika mereka kembali ke perkemahan, mereka berkata satu sama lain: “Siapa yang bisa menandingi Arjuna. Kemenangannya tidak mengejutkan sama sekali. Memang, hari ini Arjuna memperlihatkan ketangkasan yang amat luar biasa.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya