Pengembaraan Prabu Anglingdarma
KISUTA.com - Sejak memiliki Aji Gineng warisan Sang Nagaraja, Prabu Anglingdarma menjadi penyayang binatang. Setiap kali berburu ada saja binatang yang disisihkan untuk menjadi peliharaannya. Taman istana Malawapati sudah menyerupai kebun binatang yang indah. Pada saat-saat tertentu sang raja sering berasyik masyuk dengan binatang-binatang peliharaannya sehingga membuat permaisuri Setyowati merasa terabaikan. Hubungan yang sebelumnya selalu mesra antara kedua suami istri ini mulai terganggu benih-benih kecurigaan. Setyowati yang sejak awal pernikahan sudah memiliki kekhawatiran terhadap perbedaan derajad dan kasta...mulai merasa, Anglingdarma tak lagi mencintainya.
Malam yang sunyi, desir angin yang mengusap dedaunan membawa suasana romantis menembus bilik-bilik istana Malawapati. Malam itu Sang Prabu Anglingdarma sudah berada di peraduan. Tangannya yang kokoh sedang membelai lembut istrinya nan jelita.
Tiba-tiba sang raja memalingkan mukanya menatap dinding, dan melihat tiga ekor cecak sedang berkejaran sambil berbincang-bincang. Anglingdarma yang bisa berbahasa binatang, segera mendengarkan perbincangan itu dengan seksama.
Cecak Jantan pertama: Ck..ck..ck..ce..mince..pelan-pelanlah kamu bergerak, kenapa sih menghindari aku? ayo kita bercinta seperti raja dan ratu...
Cecak betina: Huh...ngga mau aku...sudah aku katakan aku ini sudah punya pasangan...sana cari saja cecak betina yang lain...
Cecak jantan pertama: Ck..ck..ck..halah lagumu ce, mince...kamu ini cuma cecak, seekor binatang...kok sok setia kaya manusia...mana ada aturan hanya boleh dengan pasangan sendiri di dunia binatang...ayo, ke sinilah...aku ngebet sama kamu...melihat prabu Anglingdarma membelai istrinya, aku ngga tahan ingin membelaimu juga...
Cecak betina: Ngga mau..ih, ngeyel !...biarpun binatang, aku ini punya harga diri..aku akan setia pada cecak jantan pasanganku sendiri. Sama seperti Dewi Setyowati setia pada prabu Anglingdharma...
Cecak jantan kedua: Ck..ck..ck..hooiii Johny...pergi kau, ngapain kau kejar-kejar mince yang jelas-jelas ngga mau sama kamu...mince itu pasanganku yang setia, jangan genit kamu...sana cari pasangan yang lain...
Cecak jantan pertama: Ck..ck..ck...kacau nih..kalian binatang berlagak kaya manusia, sok setia, sok pakai aturan..sedangkan yang manusia saja menggunakan nafsu syahwatnya kaya binatang..tanpa norma, ngga pakai rem...kalau lagi ngebet, embat saja sana sini...ngga peduli istri orang...ngga peduli suami orang, yang penting ngga ketahuan...sudah kebolak balik nih zamannya...ck...ck..ck
Cecak jantan kedua: Bagus dong kalau gitu...biar manusia belajar sama binatang seperti kita...setia sama pasangannya seperti Prabu Anglingdarma dan Dewi Setyowati...
Mendengar percakapan tiga cecak itu, Anglingdarma tidak dapat menahan tertawanya, tanpa sadar belaiannya pada sang Permaisuri tertahan, dan sang raja tertawa geli. Dewi Setyowati melepaskan diri dari pelukan sang raja. Mulutnya cemberut sorot matanya penuh syak wasangka...
Setyowati: Kanda...mengapa menertawakan Dinda? Sudah sedemikian parahkah kekuranganku di matamu? Hingga layak ditertawakan?
Anglingdarma (terkejut): Aaa..apa..Oooh, jangan salah sangka Dinda, Kanda tidak menertawakan Adinda...Kanda tertawa mendengarkan percakapan ketiga cecak itu...
Setyowati (menatap tajam tidak percaya): Hhmmm...Kanda mulai pandai berbohong...jangan cari alasan, jujurlah pada Dinda. Bukankah di awal pernikahan kita, Kanda sudah berjanji tidak ada rahasia di antara kita. Mana mungkin manusia bisa mengetahui arti bahasa binatang...
Anglingdarma (berusaha meraih tangan Setyowati untuk meredakan amarah istrinya): Aduuuh istriku sayang, percayalah...Kanda sangat mencintaimu...ini kejujuran Kanda. Benar kanda bisa memahami bahasa binatang. Namanya Aji Gineng, warisan dari Hyang Nagaraja. Beliau berikan sebagai rasa terima kasih karena Kanda telah menjaga kehormatannya, dengan membongkar perselingkuhan Nagagini. Setelah memberikan Aji Gineng itu, Hyang Nagaraja moksa...karena itulah rahasia dan syaratnya. Aji Gineng hanya boleh dimiliki oleh seorang manusia. Jika diwariskan maka pemilik sebelumnya akan moksa atau mangkat Dinda...
Setyowati (mengernyitkan keningnya): Kanda...penjelasan Kanda sungguh sulit bertemu nalar...Dinda baru bisa mempercayainya, kalau Dinda juga bisa memahami bahasa binatang itu...jadi Dinda yakin bahwa Kanda tertawa karena percakapan mereka...bukan lagi karena menertawakan Dinda.
Anglingdarma: Aah...itu tidak mungkin istriku...bukankah sudah aku jelaskan, Aji Gineng ini hanya bisa dimiliki oleh seorang manusia pada satu masa...kalau diajarkan atau diwariskan, maka pemilik awalnya akan mati...
Anglingdarma menolak mengajarkan Aji Gineng pada Setyowati. Hal itu membuat Setyowati bertambah marah, diamuk perasaan curiga ada hal lain yang dirahasiakan Anglingdarma. Setyowati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi oleh Anglingdarma. Anglingdarma berjanji lebih baik menemani Setyowati mati, daripada harus membocorkan rahasia ilmunya.
Pagi itu, Upacara Pati Obong dipersiapkan di alun-alun Istana. Batik Madrim pepatih kerajaan dan segenap pemuka kerajaan menatap cemas ke atas panggung...tampak di panggung permaisuri Setyowati dan Prabu Anglingdarma memakai baju putih-putih untuk persiapan pati obong.
Di bawah panggung sepasang kambing bercakap-cakap terdengar oleh Anglingdarma, sang kambing betina yang hamil muda merajuk pada suaminya...
Kambing betina: Kakang Mbek...janur penghias panggung sang raja itu terlihat hijau muda segar-segar...aduuuh...ambilkan kakang, biarlah menjadi pelengkap nyidamku...
Kambing jantan: Itu tidak mungkin istriku...sama saja aku bunuh diri...kalau tidak ditangkap hulubalang raja...aku bisa mati terpanggang api yang menyala-nyala...mintalah yang mampu aku berikan...jangan berlebihan...
Kambing betina: Aah...Kakang memang tidak sepenuhnya menyayangiku...benar kata permaisuri Setyowati...daripada tanggung tidak sepenuhnya disayangi suami, lebih baik aku ikuti pati obong bersama permaisuri Setyowati.
Bersamaan dengan kalimat itu, si kambing betina menerjunkan diri berbarengan dengan permaisuri Setyowati yang sudah melompat ke api yang membara.
Kambing jantan: Hadiew...manja benar kamu ini dinda Mbek...ah..aku tidak akan mati konyol menuruti kemanjaanmu...aku mencintaimu, dan tidak pernah berpaling ke kambing betina lain... tapi aku tidak senaif prabu Anglingdarma..yang membabi buta menuruti tuntutan cinta yang tidak berdasar nalar....hhmm...mungkin memang hanya sampai di sini jodoh kita...
Anglingdarma yang sudah bersiap terjun ke api yang sudah menghanguskan tubuh istrinya...seketika nanar mendengar kata-kata kambing jantan, sanubarinya bergolak...tumbuh kesadarannya sebagai raja ksatria, pepunden dan pengageng kraton, dia punya tanggung jawab yang besar, untuk sekadar diperbandingkan dengan sentimentalnya dendam asmara...Sang Prabu mengurungkan niatnya Pati Obong, mulutnya melantunkan doa mengiringi kematian istrinya. Di bawah panggung, Batik Madrim menatap keraguan sang raja dengan berbagai perasaan bergejolak di hatinya...kesedihan karena kehilangan adik tercintanya secara tragis, mulai menggoyahkan rasa hormat dan kagumnya pada Sang Raja.
Masa berkabung Prabu Anglingdarma, penuh goda dan ujian...dalam kesunyiannya ditinggalkan Setyowati, Sang Raja seringkali merasa kesepian, kenangan mesranya pada kejelitaan sang istri, membuat sang raja mulai goyah, suatu hari Anglingdarma berjumpa dengan wanita yang kecantikannya menyerupai Dewi Setyowati...
Anglingdarma: Duhai wanita cantik, siapakah andika...?
Wanita cantik: Saya Dewi Murni sang Prabu...istri Demang Kahuripan...
Anglingdarma: Aah, dengan kecantikan seperti itu, engkau hanya menjadi istri Demang?
Wanita cantik: Apa salahnya? Walaupun tua dan jelek, suamiku itu baik hati dan setia...aku bahagia menjadi istrinya...
Anglingdarma: Dewi Murni...engkau akan kujamin lebih berbahagia menjadi istriku, menggantikan permaisuriku Setyowati...tinggalkan suamimu, hiduplah bersamaku menjadi pendampingku...
Wanita cantik: Ooo..raja gung binatara, tak salahkah pendengaranku...belum 40 hari istrimu mangkat...sudah kau rayu aku yang istri Demang ini? Sadarlah sang Prabu, tidak patut patrap seperti itu dilakukan oleh raja besar sepertimu...
Anglingdarma: Aku tidak peduli...kerinduanku pada Setyowati, membuat mataku nanar menatap kemolekanmu yang menyerupai istriku...duhai juwita..penuhilah hasratku, jadilah istriku...
Tiba-tiba, wujud Dewi Murni badar...sinar kemilau menyelimuti tubuhnya, wajah cantik itu bertambah semakin cantik dengan keanggunan bidadari...Dewi Murni telah berubah wujud menjadi Dewi Uma, dan Demang suaminya berubah wujud menjadi Hyang Jagatnata....maka berujarlah Hyang Jagadnata...
"Anglingdarma...ternyata engkau belum mampu mengendalikan nafsumu sebagai syarat seorang pemimpin negeri...ada benarnya persangkaan istrimu, bahwa kasih sayang dan cinta kasihmu, lebih banyak diselimuti hawa nafsu syahwat yang terbungkus sikap wibawamu...Ngger anglingdarma, engkau harus belajar mencari cinta kasih sejati...Aku hukum engkau, dengan harus meninggalkan kerajaanmu selama 12 tahun. Carilah jodohmu dalam perantauanmu...pelajarilah kemurnian kasih sayang, kembangkan sikap ksatriamu dan jangan pongah dengan asal usulmu....Kalau engkau bisa lulus dalam 12 tahun pengembaraanmu...semogalah kebahagiaan yang langgeng akan menggapaimu kaki."
Prabu Anglingdarma terpekur dalam penyesalan...Sabda sang Rajadewa telah terucap...Anglingdharma meresapi dan mengikuti bulir-bulir penyesalan yang menyeruak ke lubuk hatinya. Ternyata masih banyak kelemahannya...perasaan bahwa dia raja yang hebat, laki-laki pilihan, suami yang setia...tiba-tiba hancur dibuka oleh godaan Bathari Uma dan Hyang Jagatnata.
Mengikuti hukuman atas ketidakmampuannya menjaga moralnya, Anglingdarma, menitipkan kerajaannya pada Batik Madrim Patih dan Iparnya. Dan segera memulai pengembaraannya selama 12 tahun.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


