Perang Hari Keempat
KISUTA.com - Setiap hari hampir tidak ada sesuatu yang baru. Kisah berputar-putar di sekitar pertarungan dan pembunuhan. Namun demikian, perang besar ini merupakan bagian sentral kisah Mahabharata. Jika melewati bagian ini, kita tidak akan bisa memahami kisah kepahlawanan ini secara utuh.
Ketika fajar membuka hari, Bhisma mengatur kembali pasukan Kurawa. Dikelilingi Durna, Duryudana, dan kesatria-kesatria besar lain membuat Bhisma tampak seperti Batara Indra yang agung, dengan senjata petir dan dikelilingi para dewa. Pasukan kereta kuda, gajah, dan pasukan berkuda yang disiagakan untuk memulai perang tampak seperti langit di tengah hujan badai yang disertai petir.
Bhisma memerintahkan pasukannya untuk menyerbu. Arjuna memperhatikan pergerakan musuh dari kereta kudanya. Panji-panji Hanoman di keretanya berkibar-kibar dengan gagah. Ia juga telah siap menyongsong perang. Perang pun dimulai. Aswatama, Burisrawa, Salya, Citrasena, dan putra Cala mengepung dan menyerang Abimanyu. Abimanyu tidak gentar. Ia bertarung seperti layaknya singa melawan lima gajah. Melihat putranya dikeroyok, Arjuna langsung datang membantu. Pertempuran bertambah sengit. Dristadyumna juga datang membantu dengan sejumlah besar pasukan. Putra Cala terbunuh. Kemudian Cala sendiri turun tangan dan bersama-sama Salya menyerang Dristadyumna. Salya berhasil mematahkan busur Dristadyumna. Melihat itu Abimanyu segera datang membantu dan melepaskan hujan panah ke arah Salya.
Ketika nyawa Salya terancam, Duryudana dan saudara-saudaranya datang dan menolong Salya. Tidak mau ketinggalan, Bimasena langsung terjun ke gelanggang. Ketika Bimasena mengangkat gadanya, saudara-saudara Duryudana gemetar ketakutan. Melihat itu, Duryudana amat marah. Ia segera kirimkan sejumlah besar pasukan gajah. Melihat pasukan gajah menyerbu ke arahnya, Bima segera turun dari kereta. Dengan gada di tangan, ia hantam mereka dengan keras hinggamlari ketakutan dan tercerai berai. Kita akan melihat bahwa bahkan dalam kisah Purana, pasukan gajah bisa merugikan diri sendiri seperti yang terjadi dalam perang bangsa Yunani dan Roma.
Bima menyerang pasukan gajah dengan gada berayun-ayun. Binatang-binatang raksasa yang terhantam gada, mati seketika dan bergelimpangan seperti bukit. Yang selamat lari terbirit-birit dan mengacaukan pasukan Kurawa. Banyak bala tentara Kurawa yang mati terinjak gajah yang lari ketakutan. Melihat itu, Duryudana memerintahkan pasukannya untuk menyerang Bima habis-habisan. Meskipun diserang sedemikian hebat, Bima tetap berdiri seperti batu. Bahkan, ia mulai mendekati Duryudana. Sejumlah panah Duryudana mengenai dada Bima. Bima segera naik keretanya kembali.
Kata Bima kepada saisnya: “Wisoka, sekarang adalah saat-saat yang telah lama kita nantikan. Aku melihat anak-anak Destarata di depan kita, siap diremukan, seperti menggoyang dahan pohon jambu agar buahnya berserakan di tanah. Kendalikan keretamu baik-baik dan mari kita serbu mereka. Akan aku kirim mereka ke pangkuan Batara Yama.”
Jika tidak mengenakan baju besi, Duryudana pasti sudah mati terkena panah Bima. Delapan saudara Duryudana tewas di tangan Bima. Duryudana terus bertarung dengan ganas. Busur Bima tersambar panah Duryudana dan patah jadi dua. Dengan tangkas Bima menyambar busur yang baru dan balas menyerang Duryudana. Busur Duryudana juga patah menjadi dua, tersambar panah Bima. Tak kalah tangkas, Duryudana langsung mengambil busur baru dan membidik Bima. Bima terkena dadanya. Tubuhnya tersentak dan jatuh terduduk. Melihat itu, para kesatria Pandawa langsung membalas dengan hujan anak panah ke arah Duryudana. Gatotkaca melihat ayahnya terkena panah dan terduduk setengah sadar. Ia amat marah dan langsung menyerang pasukan Kurawa. Pasukan Kurawa tidak berdaya menghadapi serangan Gatotkaca.
Kata Bhisma kepada Durna: “Kita tidak akan bisa menghadapi raksasa itu sekarang. Pasukan kita sudah kepayahan. Hari sudah sore dan semakin malam raksasa akan menjadi semakin sakti. Beok saja kita hadapi Gatotkaca.”
Bhisma segera perintahkan pasukannya untuk mundur dan istirahat. Sampai di perkemahan Duryudana duduk termangu-mangu. Air matanya menetes. Hari ini ia kehilangan delapan saudaranya.
Di tempat lain. Destarata berkata: “Sanjaya, setiap hari kau memberikan kabar vuruk. Kau selalu menceritakan kabar-kabar sedih –kekalahan dan kematian saudara-saudara kita yang terkasih. Aku tidak tahan lagi mendengar semua ini. Tipu daya apa yang bisa digunakan untuk menyelamatkan orang-orang kita? Bagaimana kita bisa memenangkan perang ini? Sunggguh, aku sangat takut. Tampaknya kita memang tidak bisa melawan takdir.”
Jawab Sanjaya: “Tuanku Raja, bukankah ini semua adalah buah dari kesalahan Paduka sendiri? Apa gunanya bersedih? Aku hanya menyampaikan apa yang kulihat dan kudengar. Paduka harus menerima semua ini dengan sabar.”
Kata raja buta itu dengan sedih: “Ah, memang benar apa yang dikatakan Widura.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


