Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perang Hari Kelima

Sabtu, 11 April 2015

KISUTA.com - Kata Destarata: "Aku seperti awak kapal yang tenggelam dan berjuang menyelamatkan hidup di tengah lautan yang membadai. Aku pasti tenggelam dalam lautan kedukaan."

Demikian setiap kali Sanjaya mengabarkan perang yang terjadi, Destarata akan meratap, tidak sanggup menahan kesedihan hatinya.

Katanya: “Bima pasti akan membunuh anak-anakku. Aku tidak yakin ada orang yang sanggup melinndungi anak-anakku dari kematian. Apakah Bhisma, Durna, Kripa, dan Aswatama tampak tidak peduli ketika bala tentara kita lari tunggang langgang. Apa sebenarnya rencana mereka? Kapan dan bagaimana mereka akan membant Duryudana? Bagaimana anak-anakku bisa menyelamatkan diri dari kematian?”

Setelah berkata demikian raja buta itu menangis.

Kata Sanjaya: “Paduka, tenanglah. Para Pandawa mendasarkan diri pada keadilan. Maka, mereka akan menang. Putra-putra Paduka memang pemberani tapi mereka jahat. Karena itu, keberuntungan tidak memihak mereka. Mereka telah bersikap tidak adil kepada para Pandawa. Sekarang mereka memetik buah kejahatan mereka. Para Pandawa bisa menang bukan karena pesona atau mantra-mantra sakti. Mereka berjuang mengikuti kehormatan kaum kesatria. Karena memperjuangkan kebenaran, mereka menjadi kuat. Para sahabat memberi Paduka nasihat, tapi Paduka tidak mengindahkan. Widura, Bhisma, Durna, dan aku berusaha menghentikan Paduka untuk melangkah di jalan yang tidak sesuai dengan dharma. Tapi, Paduka tidak mengindahkan dan bersikeras dengan jalan yang salah. Seperti orang sakit yang bodoh menolak minum obat yang pahit, dengan keras kepala Paduka menolak nasihat kami. Jika Padukan mau mendengarkan kami, rakyat Paduka tidak akan mengalami kehancuran. Alih-alih mendengarkan kami, Paduka justru menurut pada keinginan putra-putra Paduka yang jahat. Sekarang, Paduka berduka. Kemarin malam, Duryudana menanyakan pertanyaan yang sama kepada Bhisma. Dan Bhisma memberikan jawaban yang sama dengan yang aku berikan pada Paduka.”

Ketika perang hari keempat berhenti. Duryudana pergi sendirian ke kemah Bhisma. Ia menghaturkan hormat dan berkata:

Kakek, dunia tahu engkau adalah kesatria yang tidakmengenalkata takut. Demikian pula dengan Durna, Kripa, Aswatama, Kritawarma, Sudaksin,Burisrawa, Wikarna, dan Bhogadetta. Bagi mereka kemnatian bukanlah hal yang menakutkan. Tidak ada yang sangsi mereka sakti tiada tara, seperti engkau sendiri. Bahkan jika kalian mau seluruh Pandawa tidak akan sanggup mengalahkan kalian. Lalu apakah yang menyebabkan kita terus menelan kekalahan setiap hari di tangan anak-anak Kunti?”

Jawab Bhisma: “Pangran, dengarkan aku. Setiap saat aku telah memberimu nasihat. Tapi engkau tidak pernah mengindahkan apa yang dikatakan para tetua. Sekali lagi, aku katakan kepadamu sebaiknya kau berdamai dengan anak-anak Pandu. Tidak hanya untuk kebaikanmu tapi juga untuk kebaikan seluruh dunia. Itulah jalan yang mesti kita tempuh. Karena kalian berasal dari satu keturunan yang sama, kalian bisa menikmati seluruh kerajaan yang sedemikian luas bersama-sama. Itu nasihatku kepadamu. Jika tidak mau mengindahkan nasihat dan terus berbuat tidak adil kepada para Pandawa kau akan menuai buah tindakanmu seperti sekarang ini. Pandawa dilindungi oleh Krishna sendiri. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kemenangan? Bahkan, sekarang belum terlambat untuk berdamai dan memerintah kerajaanmu dengan sebagaimana mestinya, yaitu menjadikan Pandawa sebagai saudara, sekutu yang kuat, dan bukan musuh. Kehancuran akan menyongsongmu jika kau menghina Dananjaya dan Krishna, yang tak lain dan tak bukan Nara dan Narayana.”

Duryudana meninggalkan Bhisma dan kembali ke kemahnya. Malam itu ia tidak bisa tidur.

Esok paginya perang dilanjutkan. Bhisma mengatur pasukannya dalam formasi yang kokoh. Demikian pula Dristadyumna di pihak Pandawa. Seperti biasanya, Bima berdiri di ujung depan, Srikandi, Satyaki, dan Dristadyumna berturut-turut menyusul di belakangnya untuk menjaga pusat formasi. Dharmaputra dan kedua saudara kembarnya, Nakula dan Sadewa, menjaga di ujung belakang. Bhisma merentangkan busurnya dan melepaskan panah-panahnya. Pasukan Pandawa terpukul mundur karena serangan itu. Melihat pasukannya dipukul mundur, Dananjaya segera membidikkan panahnya ke arah Bhisma. Duryudana kecewa dan mengeluh kepada Durna. Durna memarahi Duryudana dengan keras. Katanya: “Pangeran yang keras kepala, engkau bicara ngawur. Selama ini kau meremehkan Pandawa. Kita telah bertempur dengan sebaik-baiknya.”

Serangan Durna yang dahsyat terlalu kuat bagi Satyaki yang menghadangnya. Bima yang melihat segera membantu menyerang Durna. Perang menjadi semakin sengit. Durna, Bhisma, dan Salya bersama-sama menyerang Bima. Srikandi datang membantu dan menghujani Bhisma dengan panah. Ketika Srikandi maju, Bhisma segera undur diri, karena Srikandi terlahir sebagai perempuan.Bhisma berprinsip tidak akan pernah menyerang perempuan. Pada akhirnya, prinsip inilah yang mengantarkan Bhisma pada ajalnya. Melihat Bhisma mundur, Durna segera menyerang dan memaksa Srikandi mundur.

Demikianlah, pertempuran pada hari kelima berlangsung tanpa mengindahkan aturan perang. Pembunuhan kejam terjadi di seluruh medan laga. Menjelang sore, Duryudana mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Satyaki. Tetapi dengan mudah, Satyaki menghancurkan mereka semua. Burisrawa yang merupakan musuh yang sangat tangguh memaksa pasukan Satyaki bertahan dan bahkan memaksa Satyaki bertahan mati-matian. Kesepuluh anak Satyaki yang melihat ayah mereka terdesak datang membantu. Serentak mereka maju dan melancarkan serangan balasan. Tapi Burisrawa sama sekali tidak gentar. Ia hadapi mereka dengan garang. Panah-panah Burisrawa berhasil menjatuhkan senjata anak-anak Satyaki. Anak-anak Satyaki Satyaki bertumbangan seperti pohon pohon-pohon yang disambar petir.

Melihat anak-anaknya terbunuh, Satyaki mengamuk dan menyerang Burisrawa. Kereta kuda kedua kesatria itu bertabrakan dan hancur berkeping-keping. Keduanya berhadapan, bertarung satu lawan satu dengan pedang dan perisai di tangan. Kemudian, Bima datang sambil menyambar Satyaki dan membawanya dengan kereta. Bima tahu Burisrawa amat tangkas bermain pedang. Kepandaiannya sulit dicari padanannya. Ia tidak ingin Satyaki mati karena pedang Burisrawa.

Sore itu, Arjuna membantai ratusan prajurit Kurawa yang dikirimkan Duryudana untuk menghadangnya. Mereka tewas seperti laron yang menghampiri api. Ketika matahari mulai turun, Bhisma memerintahkan supaya perang berhenti. Para pangeran di kubu Pandawa mengelilingi Arjuna dan memberikan pujian atas kehebatannya hari itu. Bala tentara kedua belah pihak kembali ke kemah bersama dengan gajah dan kuda mereka yang tampak sudah kepayahan.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya