Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Anglingdharma dan Tiga Siluman Betina

Selasa, 14 April 2015

KISUTA.com - Pengembaraan Prabu Anglingdharma sampai di kaki Gunung Lawu, sambil melepas lelah di tepi telaga, sang prabu yang telah melepas busana keprabonnya, dan mengenakan baju sebagaimana rakyat jelata, mencoba merenung. Sekilas, teringat pesan almarhum Eyang Putrinya Dewi Sarameshwari, permaisuri raja agung Jayabaya:

"Ngger, engkau itu turun ratu gung binathara, hati-hatilah dalam bertindak. Apa yang akan terjadi dalam lakon hidupmu kelak...sebenarnya merupakan hasil dari perbuatanmu sebelumnya. Berbuat dan bertindaklah yang baik-baik, hindari menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, mengkhianati janji, dan menyalahgunakan kekuasaanmu. Ingat Ngger...Ngunduh Wohing Pakarti...setiap orang akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya."

Anglingdharma tersenyum pasrah, ya...dia telah mendapat balasan atas ketidaksetiaannya pada Setyowati, belum genap 40 hari istrinya mati tragis, dia telah tergoda tubuh molek istri orang lain, bahkan dia gunakan kekuasaannya sebagai raja untuk coba merebut istri Demang. Anglingdharma menghela nafas panjang...dia harus jalani lelaku 12 tahun ini secara hati-hati..tekadnya akan membuka mata dan pikirannya, agar makin matang kebijaksanaannya sebagai raja besar.

Suara kecipak air telaga dan celoteh gadis-gadis yang tertawa riang, membuat Anglingdharma mengedarkan pandangan matanya untuk melihat asal suara itu. Di pinggir telaga, dilihatnya tiga orang gadis cantik sedang bergurau sambil bermain-main air telaga. Ketika mereka melihat Anglingdharma, mereka berhenti bermain dan menghampiri tempat Anglingdharma duduk berteduh.

Widata: Kisanak, siapa jengandika ini? Wajahmu yang tampan dan dedeg piadegmu yang pideksa, tampaknya bukan orang dusun di lereng gunung ini...

Anglingdharma: Ya nimas...namaku Anglingdharma asalku dari Malawapati. Aku sedang menjalani lelakuku untuk mematangkan ilmuku tentang kehidupan. Siapakah kalian bertiga ini?

Widati: Kami tiga bersaudara, Widata, Widati dan Widaningsih...kami penguasa lereng Lawu ini...

Widaningsih: Wahai ksatria tampan...kami bertiga masih lajang...kalau engkau juga belum beristri, ikutlah bersama kami...akan kami muliakan engkau sebagai suami kami bertiga....(ketiganya terkekeh genit)...engkau bisa membantu kami memimpin padepokan dan memberi pelajaran pada para cantrik kami...

Seusai kalimat dari Widaningsih, para putri itu mulai berani menyentuh dan menggoda Anglingdharma dengan belaian dan kerlingan manja.

Sebagai laki-laki muda normal, berdesir darah Anglingdharma terkena godaan hebat itu. Namun kesadarannya segera timbul, nuraninya menjadi rem ampuh untuk menyingkir menjauh dari godaan itu...

Anglingdharma: Wahai para putri jelita..hentikan rayuanmu, sayang kecantikan kalian kalau kalian umbar dalam patrap murahan seperti ini. Ketahuilah, aku baru saja kehilangan istriku yang pati obong karena kesalahpahaman di antara kami...

Widata: Ooh duda ya...wah kebetulan sekali...

Anglingdharma: Tunggu dulu...kalian tidak boleh mendesakku seperti itu...pengalaman hidupku mengajarkan aku untuk tidak gegabah..kalian harus mengerti...

Widati: Baiklah sinatria, kalau kamu masih butuh waktu untuk berduka...ikutlah saja dengan kami, cepat atau lambat engkau pasti akan jatuh cinta pada kami bertiga...dan bersedia menjadi suami kami.

Anglingdharma bersedia menerima tawaran mengikuti ketiga putri itu ke padepokan mereka. Di satu sisi, Anglingdharma memang memerlukan tempat istirahat yang layak untuk tidur dan makan, di sisi lain dia merasa bisa membagi ilmunya untuk para cantrik di padepokan.

Sejak tinggal bersama ketiga gadis tersebut, Anglingdharma merasakan keanehan yang mencekam. Para cantrik di padepokan itu begitu dingin, seakan tidak punya perasaan...wajah mereka pucat-pucat tanpa ekspresi, sangat bertolak belakang dengan majikan mereka ketiga gadis yang selalu ceria, selalu bersenang-senang memanjakan diri bersolek dan bersenda gurau dari pagi sampai senja. Jika malam menjelang ketiga gadis itu menghilang dari padepokan. Mereka baru kembali saat subuh menjelang.

Karena kecurigaannya, Anglingdharma bertekad menyelidiki keanehan tersebut. Pada malam harinya, saat ketiga gadis tersebut keluar rumah. Anglingdharma merubah dirinya menjadi seekor burung gagak untuk mengikuti ke mana ketiga gadis itu pergi. Rupanya, Widata, Widati dan Widaningsih adalah tiga putri siluman yang suka makan daging manusia. Setiap malam mereka turun mencari mangsa ke dusun-dusun sekitar, kalau sudah dapat mereka mencacah manusia hidup-hidup dan memangsanya di tengah hutan sampai meninggalkan kerangka dan isi jeroan perut korbannya, saat kembali ke padepokannya.

Dalam wujud sebagai burung gagak, Anglingdharma bergidik menyaksikan kekejaman ketiga gadis siluman itu. Anglingdharma bertekad membongkar rahasia busuk itu. Saat para gadis siluman itu meninggalkan sisa-sisa kekejamannya, burung gagak jelmaan Anglingdharma, mematuk usus bekas santapan ketiga gadis itu, dibawanya terbang ke padepokan dan dengan hati-hati di taruhnya di dalam cupu bedak gadis siluman itu.

Keesokan harinya, padepokan itu geger...Widata, Widati dan Widaningsih menjerit-jerit histeris, karena bedaknya berbau amis dan anyir dicampur dengan sisa usus manusia yang semalam mereka santap. Mereka mengamuk dan membabi buta menghajar cantrik yang berdekatan dengan mereka.

Widata: Babo..babo...iblis laknat pada gegojegan...polah siapa ini? Kurang ajar! Berani benar menantang kami bertiga.

Widati: Benar kang mbok...orang yang berani berulah seperti ini tentu punya maksud untuk menantang kita.

Widaningsih: Aku malah curiga dengan tamu kita...si tampan itu, tingkahnya seperti bukan laki-laki normal...mana ada laki-laki yang tidak terangsang melihat kemolekan kita. Tapi tamu kita ini malah selalu menghindar setiap kita dekati, matanya juga jelalatan seakan penasaran pengin tahu segalanya tentang kita...ggrrhhhh...

Anglingdharma: Sudahlah...pelaku perbuatan yang menaruh usus ke bedak kalian itu memang aku. Kalian siluman betina yang menjijikkan..hadapilah aku Prabu Anglingdharma...biar aku musnahkan kalian pageblug di lereng Lawu ini..mungkin memang ini lelabuhan yang harus aku amalkan di pengembaraanku...

Widati: Bangsat engkau Anglingdharma..laki-laki tak tahu diuntung, sudah diberi tempat tinggal, makan, tidur...kamu berani campur tangan urusan kami...

Anglingdharma: Ooo Widati aku berterima kasih untuk tempat tinggal sementara ini..tapi, ternyata ada maksudnya Hyang Widi Wasa menempatkan aku di sini, agar berhentilah kekejaman kalian, mataku dibuka bahwa di balik keindahan..di balik kecantikan..bisa tersembunyi kebusukan dan kekejaman yang sedemikian hebat...heemmm kita memang tidak bisa terlena oleh wajah dan penampilan..tapi semua ada waktunya, dan sekaranglah waktunya rahasia busuk kalian terbongkar...mari kita selesaikan urusanmu di dunia ini...

Terjadilah pertempuran dahsyat antara Anglingdharma dengan ketiga siluman betina itu. Tubuh Anglingdharma melenting ke sana ke mari dengan lincahnya membagikan tamparan dan tendangan yang membuat para siluman itu menjerit kesakitan. Pada suatu saat Widata menepi merapal mantra, sementara kedua saudarinya berusaha merepotkan Anglingdharma dengan peningkatan serangan-serangan dahsyatnya. Melihat gelagat ini Anglingdharma sadar ada bahaya mengancam dirinya, segera ditamparnya Widati dan Widaningsih dengan tamparan bayu seketi...terdengar bunyi kepala pecah yang menandai kedua siluman itu mati seketika...Widata yang sedang merapal mantra menjerit histeris menyaksikan kematian adik-adiknya, tangannya yang bersinar kebiruan ditamparkannya ke pelipis Anglingdharma, bersamaan dengan tendangan Anglingdharma dengan aji gelap ngampar yang menghancurkan pinggangnya dan membuatnya sekarat...terbata-bata Widata mengucapkan kata-kata terakhirnya...

"Aaamm..aah..Anglingdharma...sebentar lagi aku menyusul adik-adikku..ketahuilah, tamparanku itu adalah kutukan untukmu yang usil mengurusi urusan kami...kamu akan menjadi burung belibis...tapi karena rapalku belum selesai, di tahun-2 akhir pengembaraanmu...burung belibis itu bisa menjadi manusia hanya di malam hari saja...dan kamu bisa kembali menjadi manusia utuh, kalau kamu berhasil memiliki keturungan dari gadis yang masih suci...dan gadis itu mencabut bulu jambul di kepalamu...Aaaarghhhhh...

Widata mati menyusul kematian adik-adiknya....

Saat menjadi burung belibis, kepercayaan diri Anglingdharma hampir terkikis habis.Walaupun berhasil membasmi para siluman itu, dia merasa sudah dikalahkan oleh wanita.

Dia terbang hingga sampai ke Wilayah Kerajaan Bojonegoro. Saat melihat seorang anak lelaki angon kebo tertidur nyenyak di bawah pohon randu, burung belibis jelmaan Anglingdharma menggoda anak polos itu...

Belibis: Thole,...kebomu dicuri orang kalau kamu ngorok saja...

Jaka Geduk: Wuiih...kamu burung belibis kok bisa ngomong...

Belibis: Ya..aku bisa ngomong karena aku piaraan dewata...siapa kamu? Kalau kamu beruntung, mungkin aku bisa ikut kamu...

Jaka Geduk: Ah benarkah...wuah bapaku akan senang sekali kalau aku bisa memelihara kamu...namaku Jaka Geduk, anak Demang Klungsu...

Belibis: Hemm..Jaka Geduk, dengarlah ..Yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani....tahukah kamu makna di balik nasehatku ini...

Jaka Geduk: Wuiii uuedian iq...kamu bisa juga memberi nasehat seperti simbokku saja..wah aku ngga ngerti apa itu maksudnya...

Belibis: Ya Jaka Geduk..itu artinya..Kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan sok berani...

Jaka Geduk: Ooo wis mudeng aku..jadi orang itu harus jelas gitu to? Kalau merasa berani ya jangan tanggung-tanggung..jangan ragu-ragu...wis tandangi wae...tapi kalau takut, yo wis nyingkrih wae jangan sok nantang...kita harus tahu kemampuan kita sebelum berbuat...bener ora?

Belibis (tersenyum, ternyata pinter juga anak ini di balik tampang lugunya): Pinter kamu...sekarang apa artinya...Kendel ngringkel, dhadag ora godhag...

Jaka Geduk: Waduh...kamu ini burung kok bahasamu tinggi banget sih...ra mudeng aku..apa itu artinya...

Belibis: Jaka Geduk makna dari ungkapanku itu adalah...Mengaku berani dan pandai tetapi sesungguhnya penakut dan bodoh...

Jaka Geduk: Ooo..ho.oh...ho..oh...aku ngertim itu..di desaku pak carik nya kaya gitu, sok wani wani angas..suka ngomong tinggi, pamer pamer sok hebat...tapi kalau nanti ditenani, ada yang berani...dia langsung ciut...hihihi, langsung mengkeret...jian jelehi tenan...

Belibis dan Jaka Geduk tertawa terbahak-bahak bersama, terasalah ikatan bathin mulai terjalin di antara mereka...akhirnya, Belibis itu bersedia mengikuti dan menjadi peliharaan Jaka Geduk, dibawa diam-diam ke dusun Klungsu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya