Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perang Bharatayuda Hari Keenam

Rabu, 15 April 2015

KISUTA.com - Pada hari keenam sesuai perintah Yudhistira, Dristadyumna menyusun bala tentara Pandawa dalam formasi makara (ikan raksasa dengan kepala bertanduk). Sementara itu, pasukan Kurawa disusun dalam formasi krauncha (burung bangau). Kita tahu bagaimana nama-nama diberikan pada bentuk-bentuk latihan fisik dan sikap badan tertentu. Wyuha adalah istilah umum untuk menyebut formasi perang. Pemilihan wyuha disesuaikan dengan situasi, tergantung pada persyaratan penyerbuan atau pertahanan yang akan digunakan hari itu. Bagaimana kekuatan digelar dan pasukan disusun serta posisi mereka ditentukan berdasarkan situasi yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Hari keenam ditandai dengan tewasnya lebih banyak prajurit di kedua belah pihak, bahkan ketika hari masih pagi. Sais kereta Durna tewas dan Durna terpaksa mengemudikan sendiri keretanya sambil terus menggempur pasukan Pandawa. Serangan Durna banyak memakan korban. Ia bergerak persis seperti api membakar tumpukan kapas. Formasi kedua pasukan hanya bertahan sebentar dan tercerai berai. Pertempuran bertambah sengit. Darah membanjir dan padang Kurusetra penuh dengan mayat-mayat prajurit, gajah, dan kuda serta puing-puing kereta kuda.

Bimasena memorak-porandakan barisan pasukan musuh. Ia berusaha mencari saudara-saudara Duryudana. Sementara itu, mereka juga tidak ingin menunggu. Mereka serentak menyongsong serbuan Bima dari berbagai penjuru. Bima dikeroyok Dursasana, Durwisaha, Durmata, Jaya, Jayasina, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Carucitra, Suwarma, Duskarna, dan yang lainnya. Bimasena yang tidak mengenal kata takut terus menerjang dan menggempur mereka. Mereka ingin menangkap Bima hidup-hidup. Sementara itu, Bima ingin membunuh mereka semua. Seperti biasa, ketika marah Bima sering kehilangan kendali. Ia meloncat turun dari kereta. Dengan mengayun-ayunkan gadanya, ia berlari ke arah anak-anak Destarata.

Ketika tidak melihat kereta Bimasena di tengah kerumunan musuh, Dristadyumna menjadi cemas. Ia segera memacu keretanya untuk membantu Bima. Ketika tiba di kereta Bima, ia hanya mendapati sais kereta. Dengan air mata membasah, ia bertanya kepada sais kereta itu: “Wisoka, di manakah Bima?” Dristadyumna mengira Bima gugur.

Wisoka menghaturkan sembah dan berkata kepada putra Drupada: “Putra Pandu memintaku untuk menunggu di atas kereta. Tanpa menanti jawabanku, ia segera meloncat turun menyerbu pasukan musuh.” Karena takut Bima kalah dan terbunuh, Dristadyumna menerjang pasukan musuh untuk mencari Bima. Laju keretanya terhalang tumpukan mayat para prajurit dan bangkai gajah. Ketika menemukan Bima, Dristadyumna melihat Bima dikepung para musuh dari kereta kuda mereka. Dengan gada di tangan, Bima menghadapi mereka. Badan Bima berlumur darah. Dristadyumna segera mengarahkan keretanya mendekat dan secepat kilat menyambar serta menaikkan Bima ke keretanya. Ia lepaskan panah-panah yang menancap di tubuh kesatria perkasa itu.

Duryudana segera memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Bimasena dan Dristadyumna. Tanpa buang waktu mereka langsung menyerang kedua kesatria itu. Bima dan Dristadyumna segera membalas serangan itu. Dristadyumna memiliki senjata sakti pemberian Mahaguru Durna, ketika ia berguru kepadanya. Dengan senjata itu, Dristadyumna menyerang pasukan Kurawa. Seketika itu pasukan penyerangnya bertumbangan pingsan. Melihat itu, Duryudana segera turun ke kancah perang dan melepaskan senjata untuk melawan senjata Dristadyumna yang membuat pasukannya pingsan. Tidak berapa lama kemudian, pasukan bantuan yang dikirim Yudhistira datang membantu mereka. Pasukan bantuan itu terdiri dari dua belas kereta kuda yang dipimpin Abimanyu. Dristadyumna amat lega melihat bala bantuan datang. Sementara itu, Bima sudah pulih kekuatannya dan siap untuk bertarung kembali. Ia segera naik kereta Kekaya dan mengambil posisi.

Hari itu, Durna bertempur dengan ganas. Ia berhasil membunuh sais, kuda, dan kereta Dristadyumna. Dristadyumna terpaksa menumpang di kereta Abimanyu. Melihat itu pasukan Pandawa terguncang. Pasukan Kurawa mengelu-elukan kehebatan Durna.

Hari itu ditandai dengan pertarungan massal yang tidak pandang bulu. Banyak korban bergelimpangan di kedua belah pihak. Bimasedna berhadapan langsung dengan Duryudana. Kedua musuh bebuyutan itu saling caci dan dilanjutkan dengan pertarungan yang sengit. Duryudana terkena pukulan Bima dan jatuh pingsan. Dengan tangkas Kripa menyambar tubuh Duryudana dan membawanya pergi dengan keretanya. Kemudian datanglah Bhisma menggempur dan membuat berantakan pasukan Pandawa. Meskipun matahari sudah tenggelam pertempuran masih terus berlangsung hingga satu jam. Pertempuran berlangsung sangat sengit dan banyak korban berjatuhan.

Ketika pertempuran berhenti, Yudhistira amat lega melihat Dristadyumna dan Bima kembali ke perkemahan dengan selamat.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya