Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Perang Bharatayuda Hari Ketujuh

Jumat, 17 April 2015

KISUTA.com - Duryudana, dengan luka di sekujur tubuh dan sakit merajam tubuh, pergi kepada Bhisma dan berkata: "Perang makin hari makin tidak menguntungkan kita. Kita selalu kalah. Tak terhituntg prajurit kita yang gugur. Tampaknya engkau hanya melihat dan tidak berbuat apa-apa."

Dengan sabar Bhisma menghibur Duryudana dengan kata-kata yang menyejukkan: "Jangan biarkan hatimu risau. Lihatlah kami semua, Durna, Salya, Kritawarma, Aswatama, Wikarna, Bhogadetta, Sengkuni, dua bersaudara dari negeri Awanti, Raja Trigata, Maharaja Magada, dan Mahaguru Kripa siap mempertaruhkan hidup untukmu. Mengapa risau?"

Setelah berkata demikian, ia segera membeberkan rencana perang untuk hari itu.

Kata Bhisma: "Lihatlah beribu-ribu kereta kuda, pasukan berkuda, pasukan gajah dan pasukan jalan kaki dari berbagai negara semuanya siap bertempur untukmu. Dengan pasukan yang sedemikian besar, kau bahkan bisa mengalahkan para dewa. Jangan takut."

Setelah membakar semangat Duryudana, Bhisma memberi minyak penyembuh untuk luka-luka Duryudana. Duryudana segera mengusapkan minyak itu ke bagian tubuhnya yang terluka. Setelah merasa lebih baik, Duryudana segera menuju medan laga. Tampaknya kata-kata Bhisma berhasil membesarkan hatinya. Hari itu bala tentara Kurawa disusun dengan formasi melingkar-lingkar. Setiap lingkaran dilengkapi pasukan gajah dan tujuh kereta. Setiap kereta kuda dibantu tujuh pasukan kuda. Setiap pasukan kuda dilindungi sepuluh prajurit penangkis serangan. Semuanya bersenjata lengkap.

Duryudana berdiri gagah, seperti Batara Indra di tengah-tengah pasukan dewa.

Yudhistira menyusun pasukan Pandawa dalam formasi wajrawuyha atau formasi halilintar. Hari itu pertarunghan berlangsung amat sengit di berbagai sektor. Bhisma menghadang serangan Arjuna, Aswatama dan Srikandi bertarung seru, Nakula dan Sadewa menyerang paman mereka Salya. Para pangeran dari Awanti bertarung merlawan Yudhamanyu. Sementara itu, Bimasena dikeroyok Kritawarma, Citrasena, Wikarna, dan Durmasa. Gatotkaca bertarung melawan Bhogadetta. Alambasa melawan Satyaki. Burisrawa melawan Dristaketu. Yudhistira melawan Srutayu dan Chekitana melawan Kripa.

Wirata mendapat serangan yang bertubi-tubi dari Durna hingga keretanya hancur berantakan dan saisnya tewas. Wirata terpaksa meloncat naik kereta putranya, Sanga. Putra-putra Wirata, Uttara dan Sweta gugur pada hari pertama. Pada hari ketujuh, Sanga juga tewas sesaat setelah Wirata melompat ke keretanya. Srikandi, putra Drupada, dikalahkan Aswatama. Keretanya hancur dan terpaksa meloncat turun. Dengan pedang dan tameng, ia menyerang Aswatama. Putra Durna itu melemparkan tombaknya tepat mengenai pedang Srikandi. Pedang buntung itu diayun-ayunkan dan dilemparkan sekuat tenaga ke arah Aswatama. Tapi Aswatama bisa mematahkan serangan i9tu dengan panahnya. Srikandi yang terdesak hebat terpaksa lari menghindar dan melompat ke kereta Satyaki. Saat itu Satyaki sedang bertarung melawan Alambasa. Semula Alambasa bisa menyulitkan Satyaki tapi kemudia ia terdesak hebat dan terpaksa melarikan diri.

Dalam pertempuran antara Dristadyumna dan Duryudana, kereta putra mahkota Kurawa dapat dihancurkan. Duryudana terpaksa meloncat darim kereta. Tapi, ia terus melawan dengan pedang di tangan. Tidak lama kemudian, Sengkuni datang dan membawanya pergi dengan keretanya. Kritawarma menyerang Bima dengan hebat tapi justru terdesak oleh serangan Bima. Karena kehilangan kereta dan kuda, ia terpaksa melompat ke kereta Sengkuni. Sekujur tubuhnya penuh dengan anak panah yang dilepaskan Bima. Dari jauh ia tampak seperti seekor landak yang lari terbirit-birit masuk hutan.

Winda dan Anuwinda dikalahkan Yudhamanyu. Pasukannya hancur lebur. Bhogadetta menyerang Gatotkaca dan pasukannya dengan hebat. Pasukan Gatotkaca terpaksa mundur. Meskipun demikian, Gatotkaca terus melawan dengan gagah berani. Tetapi pada akhirnya, ia pun terpaksa mundur menyelamatkan diri. Kemenangan ini disambut dengan sorak-sorai oleh pasukan Kurawa.

Salya menyerang kedua kemenakannya. Kereta Nakula dapat dihancurkan Salya. Nakula terpaksa melompat ke kereta Sadewa. Kemudian, mereka bersama-sama menggempur Salya. Salya terkena panah Sadewa dan jatuh pingsan. Dengan cekatan, sais keretanya membawa Salya pergi dan menyelamatkan nyawanya.

Melihat raja Madra mundur dari gelanggang, pasukan Duryudana kehilangan semangat tempur. Kedua saudara kembar itu meniup terompet keong mereka untuk mengatakan kemenangan mereka. Mereka tidak melepaskan kesempatan untuk menyerang pasukan Salya.

Tengah hari, Yudhistira memimpin serangan pada Srutayu. Panah Srutayu tepat mengenai senjata yang dilancarkan Dharmaputra. Baju perang Yudhistira rusak parah dan ia terluka. Yudhistira menjadi marah dan membidikkan anak panahnya ke arah Srutayu. Baju perang Srutayu pun hancur berantakan. Hari itu, Yudhistira memang tidak seperti biasanya. Ia terbakar marah. Srutayu terpaksa kehilangan kuda dan sais keretanya. Karena keretanya juga hancur berantakan, Srutayu terpaksa melarikan diri meninggalkan gelanggang. Kekalahan ini semakin menenggelamkan semangat tempur pasukan Duryudana.

Ketika menyerang Kripa, Chekitana kehilangan kereta kuda dan sais. Tetapi ia terus menyerang dengan hebat. Ia berhasil membunuh kuda dan sais kereta Kripa. Mahaguru tua itu terpaksa turun. Ia segera lepaskan panah. Chekitana terluka karena panah itu. Chekitana tidak mau menyerah begitu saja. Ia terus menyerang dengan gadanya. Kripa berhasil menjatuhkan gada Chekitana dengan panahnya. Kemudian mereka bertarung dengan pedang. Pertarungan itu berlangsung sangat sengit. Keduanya terluka parah dan jatuh ke tanah. Bima segera menyambar Chekitana dan menyelamatkannya. Demikian pula dengan Sengkuni yang segera datang menyelamatkan Kripa.

Sembilan puluh enam panah yang dilepaskan Dristaketu tertancap di tubuh Burisrawa. Kesatria perkasa itu tetap berdiri tegak dan memasncarkan cahaya seperti matahari. Semua panah yang menancap persis di pelindung dada itu memantulkan cahaya di sekitar wajahnya yang bersinar-sinar. Meskipun terluka parah, Burisrawa berhasil memaksa Dristaketu mundur dari gelanggang.

Tiga saudara Duryudana menyerang Abimanyu. Tetapi dengan mudah mereka dikalahkan. Meskipun demikian, Abimanyu membiarkan mereka tetap hidup, karena Bima telah bersumpah akan menghabisi mereka. Pada saat itu, datanglah Bhisma. Ia segera menyerang Abimanyu.

Arjuna melihat serangan itu. Ia segera meminta Krishna untuk membantu anaknya. Katanya: “Krishna, ayo kita serang Bhisma.”

Saat itu, para Pandawa yang lain juga bergabuing dan bersama-sama menyerang Bhisma. Tetapi kakek tua itu bisa menahan serangan mereka berlima sampai matahari terbenam dan perang dihentikan. Bala tentara kedua belah pihak, yang sudah kelelahan dan terluka, kembali ke perkemahan untuk istirahat dan merawat luka-luka mereka.

Setelah itu, para prajurit dihibur dengan hiburan musik selama satu jam supaya opikiran mereka tenang. Ketika hiburan musik disajikan, kata sang begawan, tidak terdengar pembicaraan tentang perang atau kebencian. Pemandangan satu jam ini amat menyenangkan dan membahagiakan. Di sini, pembaca bisa melihat pelajaran penting yang bisa dipetik dari Mahabharata.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya