Mliwis Putih Jaka Geduk
KISUTA.com - Sejak memiliki burung belibis putih (Mliwis Putih) Jaka Geduk jadi suka bermalas-malasnya. Setiap ada kesempatan hari-harinya dipakai untuk bergurau, bercanda dengan Mliwis Putih. Jaka Geduk sangat menyayangi burung peliharaannya yang cerdas dan asyik diajak ngobrol.
Keadaan ini membuat Demang Klungsur ayah Jaka Geduk murka. Sang Demang mengambil keputusan mau menyembelih Mliwis Putih agar anaknya tidak bermalas-malasan.
Jaka Geduk: Aduh Bapa...mbok jangan begitu, apa salah si Mliwis Putih hingga harus di sembelih...
Demang Klungsur: Ini burung jejadian dari setan jin demit perikahyangan, mana ada burung bisa bicara dan membuat kamu malas!
Jaka Geduk: Bapa...ampuni aku, jangan sembelih Mliwis Putihku...aku akan merubah tabiatku...aku ngga mau malas lagi...
Demang Klungsur: Halah bocah gendeng...kalau sudah begini baru kamu minta-minta ampun...
Mliwis Putih: Sudahlah Ki Demang, jangan didik anakmu dengan ancaman-ancaman...apa faedahnya? Kalaupun dia mau melaksanakan itu karena terpaksa, tertekan oleh ancamanmu...apa itu maumu..?
Demang Klungsur: Eee..ini burung lebay..malah menasehati aku..itu anakku..biar aku yang didik dia jangan sok tahu kamu...
Mliwis Putih: Ki Demang, aku hanya mengingatkan...pikirkanlah, semua itu ada sebab ada akibat..kalau kamu ingin anakmu nurut denganmu, jangan gunakan paksaan..sindiran, atau tekanan...yang ada hanya sakit hati yang dipendam si anak...tidak baik, engkau akan merasakan kasih anakmu tak tulus padamu. Sebenarnya itu akibat polahmu sendiri...
Demang Klungsur: Wis..ngga usah kebanyakan ocehan sini aku sembelih kamu...
Jaka Geduk (mulai menangis meraung-raung): Jangan Bapak...jangan Bapak...
Mliwis Putih: Demang Klungsur...rugi kamu kalau membunuhku...bawalah aku ke kraton Bojonegoro...di sana Prabu Dharmo Waseso sedang menghadapi masalah dari warganya. Kalau kamu bisa menyelesaikan masalah itu dengan bantuanku...derajad dan pangkatmu akan naik.
Akhirnya Demang Klungsur urung menyembelih Mliwis Putih, bersama Jaka Geduk dibawanya burung belibis itu ke Kraton Bojonegoro.
Di Keraton Bojonegoro Prabu Darmo Waseso sedang kebingungan. Sepasang suami istri bernama Bremono dan Bremani, menghadap sang Raja mohon keadilan agar sang Raja bisa menyelesaikan masalah mereka. Bremani bingung karena ada 2 Bremono yang sama persis dan keduanya mengaku Bremono asli suami Bremani...
Darmo Waseso: Kok bisa ada kejadian seperti ini...jangan-jangan suamimu memang kembar dan itu kembarannya nini...
Bremani: Tidak sinuwun...saat menikah suami saya itu anak tunggal, masa sekarang tiba-tiba muncul kembarannya? Saya bingung...
Bremono 1: Wis ngga usah bingung...aku ini Bremono asli..ayo mbok wedok kamu pulang sama aku saja, ladenono aku bojomu...
Bremono 2: Enak saja..aku ini Bremono yang asli...jangan ngaku-ngaku kamu..
Bremono 1: Apa gini saja..anggap persangkaan sang prabu benar...ternyata kami ini kembar..udah kamu ladeni saja kami berdua ..lak enak to punya suami dua...satu capek, satunya masih bregas...
Bremani: Uedian iq...omongan ngawur...emang aku ini perempuan apaan...aku sudah punya suami Bremono, kok ditawarkan nglayani laki-laki lain...bang bayik...mit amit...cuma perempuan jalang yang bisa berlaku begitu, dan masih bisa menjalani hidup tanpa punya rasa malu...ah jangan-jangan..kamu Bremono palsunya...
Bremono 1: Halah...wong aku ki nge tes iman mu kok...masih setia ngga kamu sama aku...aku Bremono aslimu nyi..the one and only...
Bremono 2: Gombal...sudah ketahuan itu pokalnya...
Darmo Waseso: Sudah...sudah...makin ngawur saja kalian itu...hmm...siapapun diantara kalian Bremono yang palsu..Ojo Milik Barang Kang Melok, Ojo Mangro Mundak Kendo...jangan tergiur kecantikan semata, jangan mendua hati karena itu akan mengendorkan niat dan semangatmu...sudahlah..menyingkir saja...
Bremono 1: Saya asli sang Prabu...
Bremono 2: Saya lebih asli lagi...
Saat mereka masih bersitegang, masuk hulubalang raja yang mengantarkan kehadiran Demang Klungsu, Jaka Geduk dan Mliwis Putih...
Atas saran Mliwis Putih di hadapan Prabu Dharma Waseso, Demang Klungsur mengajukan syarat supaya disediakan sebuah kendi. Kemudian meminta siapa Bremono yang bisa masuk ke dalam kendi dialah yang asli.
Salah satu diantara Bremono, akhirnya ada yang menyanggupi, siasat Demang Klungsur berhasil, setelah masuk ke dalam kendi, kendi itu langsung ditutup rapat-rapat.
Jaka Geduk membawa kendi itu ke alun-laun, kendi itu lalu dipecah, ternyata dari dalam keluarlah jin gandaruwo yang sangat menyeramkan.
Jaka Geduk yang sudah diberi aji-aji oleh Anglingdarma, segera menangani Genderuwo itu, mereka bertempur hebat sekali, sampai akhirnya kepala Genderuwo itu pecah oleh tamparan Jaka Geduk. Karena jasanya ini Jaka Geduk diangkat sebagai Tamtama di Bojonegoro.
Di hadapan Prabu Darmo Waseso, Demang Klungsur menjelaskan, justru yang tidak bisa masuk itulah yang Bremono asli, tadi itu hanya strategi untuk mengelabuhi Bremono palsu. Nyi Bremani pun akhirnya bisa bertemu kembali dengan sang pujaan hati, Bremono asli.
Putri raja Darmo Waseso yang bernama Dewi Renggowati, terpesona melihat polah tingkah burung Mliwis Putih, dia meminta pada ayahnya agar diijinkan memelihara sang burung. Karena Jaka Geduk sudah menjadi tamtama raja, Demang Klungsur tidak keberatan menyerahkan Mliwis Putih, apalagi oleh sang raja, kedudukannya dinaikkan dari seorang Demang menjadi seorang Mas Ngabehi, dan diijinkan tinggal di kotaraja untuk mendampingi anaknya yang sudah menjadi tamtama.
Burung Mliwis Putih akhirnya menjadi binatang piaraan kesayangan Dewi Renggowati. Sang Putri sangat menyayangi piaraan barunya yang pandai nembang menghibur hati sang Putri.
Dalam tembangnya, Mliwis Putih selalu menyelipkan kisah Anglingdharma dan penderitaan nestapanya kehilangan istri yang dikasihinya, dan hidup terlunta lunta banyak menemui cobaan hidup.
Mendengarkan kisah Anglingdharma melalui tutur tembang Mliwis Putih, diam diam mulailah tumbuh rasa cinta di hati Renggowati pada Anglingdharma.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


