Perang Bharatayuda Hari Kedelapan
KISUTA.com - Ketika fajar hari kedelapan merekah, Bhisma mengatur pasukan Kurawa dalam formasi kura-kura. Kata Yudhistira kepada Dristadyumna: "Lihatlah, musuh menggunakan formasi kurmayudha. Kita harus menghadapinya dengan formasi yang bisa menghancurkan formasi itu."
Dristadyumna segera melakukan tugasnya. Pasukan Pandawa diatur dengan formasi trisula atau tombak bermata tiga. Mata tombak yang pertama dipimpin Bima. Satyaki memimpin mata tombak yang ketiga, dan Dharmaputra memimpin mata tombak yang tengah.
Nenek moyang kita telah mengembangkan ilmu perang yang ampuh. Ilmu ini bukan hanya diwariskan dalam bentuk tertulis tapi juga dilestarikan dalam tradisi keluarga-keluarga kesatria. Baju perang dan taktik selalu disesuaikan dengan senjata dan taktik yang digunakan musuh.
Perang Kurusetra terjadi beberapa ribu tahun yang lalu. Ketika membaca perang besar dalam Mahabharata, karena membayangkan praktik dann insiden perang modern di benak, sebaiknya kita tidak menganggap kisah Mahabharata sekadar sebagai mitos yang tidak berkaitan dengan realitas.
Satu setengah abad yang lalu, Laksamana Inggris, Nelson, melakukan pertempuran laut yang sangat hebat dan memenangkan pertempuran yang termasyhur itu. Senjata dan kapal yang digunakan dalam pertempuran itu mungkin tampak aneh dan bahkan menggelikan jika dibandungkan dengan yang digunakan pertempuran laut di zaman modern. Jika satu setengah abad saja sudah menciptakan perbedaan yang sedemikian mencolok, kita harus bersiap menerima hal-hal yang sangat aneh dalam cara dan peristiwa yang digunakan dan terjadi pada suatu periode tertentu, apalagi dalam perang besar Mahabharata.
Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa kita tidak bisa mengharapkan karya sastra memberikan gambaran yang terperinci tentang senjata dan taktik militer, meskipun karya tersebut mengisahkan cerita perang. Persoalan keprajuritan atau militer merupakan monopoli kasta prajurit, yakni golongan kesatria. Kebudayaan dan pelatihan yang mereka alami sepenuhnya milik golongan mereka. Prinsip dan rahasia peperangan serta ilmu dan seni olah senjata diturunkan dari generasi ke generasi melalui tradisi atau pengajaran pribadi. Tidak ada texbook (buku panduan) keprajuritan dan para pujangga atau resi tidak memberikan banyak ruang untuk persoalan tersebut dalam karya-karya mereka.
Jika novel modern mengangkat perawatan dan pengobatan orang sakit dalam beberapa babnya, kita tidak bisa mengharapkan bahwa penggambaran itu akan sedemikian mendetail sehingga bisa memikat para pekerja medis. Seorang pengarang, pun jika ia punya kemampuan itu, tidak akan menyertakan paparan ilmiah yang mendetail dalam karyanya.
Dengan demikian, kita tidak bisa berharap dalam karya-karya epos Wiyasa ini, gambaran rinci formasi kura-kura atau formasi teratai. Kita tidak bisa menjelaskan bagaimana orang bisa melepaskan serangkaian anak panah sementara pada saat yang sama membangun pertahanan diri atau menangkis dan memotong serangan lawan; bagaimana orang masih bisa hidup sementara sekujur badannya terkena anak panah; sejauh mana baju perang bisa melindungi orang dari senjata musuh; bagaimana regu penyelamat menolong orang yang luka atau bagaimana nasib mayat-mayat prajurit yang gugur. Hal-hal semenarik apa pun, akan tetap tersimpan sebagai misteri perang zaman dulu, terlepas dari penggambaran kisah perang yang sangat hidup yang kita bisa nikmati dalam epos Mahabharata.
Hari masih pagi ketika Bima berhasil membunuh delapan putra Destarata. Kabar kematian saudara-saudaranya itu menyayat hati Duryudana. Orang-orang di sekitar Duryudana merasa bahwa hari itu Bima akan menuntaskan dendamnya. Bima pernah bersumpah akan membalas dendan pada waktu Pandawa kalah bermain dadu. Hari itu, Arjuna yang mengalami kedukaan yang mendalam. Putra terkasihnya, Irawan tewas. Putra Arjuna dengan istrinya yang berasal dari kerajaan Naga datang dan bergabung dengan bala tentara Pandawa di Kurusetra. Duryudana mengirimkan sahabatnya, raksasa Alambasa untuk melawan pasukan raksasa yang datang bersama Irawan dari kerajaan Naga. Setelah bertarung sengit, Irawan Tewas. Hati Arjuna hancur ketika mendengar kabar kematian putranya.
Dengan sedih ia berkata kepada Wasudewa: “Memang benar kata Widura, kedua belah pihak yang berperang akan jatuh ke dalam kedukaan yang tak terperi. Untuk apa kita saling bunuh seperti ini? Apakah hanya untuk mendapatkan harta kekayaan? Setelah saling bunuh seperti ini kebahagiaan apakah yang kita peroleh? Madhisudana, sekarang aku mengerti mengapa Yudhistira yang berpandangan jauh ke depan hanya meminta lima desa saja. Duryudana biang keladi semua masalah ini, karena menolak memberikan lima desa. Sekarang, kedua belah pihak harus menanggung semua dosa besar itu. Aku terus bertempur karena orang akan menganggapku pengecut, yang mau mengalah begitu saja pada pihak yang bersalah. Jika melihat para prajurit bergelimpangan di medan perang ini, hatiku diliputi kedukaan dan penyesalan. Betapa jahatnya kita membiarkan kedosaan ini terjadi!”
Melihat Irawan terbunuh, Gatotkaca meraung sekeras-kerasnya. Raungan itu membuat pasukan musuh gemetar ketakutan. Bersama pasukannya, ia menerjang pasukan Kurawa dengan ganas. Serangan itu membuat pasukan Kurawa kacau balau. Melihat itu, Duryudana turun tangan. Ia pimpin pasukannya untuk menyerang putra Bima itu. Pada hari kedelapan itu, Duryudana bertarung amat berani. Ia berhasil membunuh banyak pasukan Gatotkaca. Sekuat tenaga, Gatotkaca melontarkan tombak ke arah Duryudana. Jika tidak dilindungi Raja Wanga dengan gajahnya, Duryudana pasti mati terkena serangan Gatotkaca. Serangan Gatotkaca mengenai gajah Raja Wanga. Gajah itu langsung mati dan Duryudana selamat.
Bhismna cemas melihat Duryudana. Ia segera mengirimkan bala bantuan yang dipimpin Durna. Bala bantuan itu terdiri dari para kesatria kawakan. Pertempuran berlangsung sangat seru. Karena mencemaskan keselamatan Gatotkaca, Yudhistira meminta Bimasena membantu. Pertempuran menjadi semakin sengit.
Hari itu, enam belas saudara Duryudana menemui ajal.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


