Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Mliwis Putih dan Putri Renggowati

Selasa, 21 April 2015

KISUTA.com - Senja Temaram, celoteh ringan putri Renggowati seakan berbaur dengan suara merdu tembang sinom parijata dari Mliwis Putih yang menceritakan duka nestapa Prabu Anglingdharma kehilangan istri kinasihnya Dewi Setyowati.

Renggowati: Aduuuh...sayang sekali, kasih sayang yang begitu tulus antar suami istri kok harus terenggut tragis karena kesalahpahaman ya Mliwis Putih...kenapa Dewi Setyowati demikian keras hatinya...

Mliwis Putih: Ya tuan putri, beliau berpegang pada keyakinan bahwa antar suami istri itu tidak boleh ada rahasia...dan sesungguhnya Prabu Anglingdharma juga sudah berusaha untuk jujur pada sisihannya...

Renggowati: Hmm...kejujuran yang terlambat...Prabu Anglingdarma baru jujur kalau sudah di desak Dewi Setyowati...awal mulanya, sebelum mendengar candaan para cicak..beliau tidak jujur bahwa sudah mendapat warisan aji gineng dari Nagaraja...

Mliwis Putih (manggut-manggut mendengar kejelian Renggowati menganalisa keadaan): Maksud Paduka bagaimana? Apakah akan beda hasilnya jika Prabu Anglingdharma membuka rahasia diwariskannya Aji Gineng lebih dahulu ke Dewi Setyowati?

Renggowati: Tentu saja berbeda...coba pikirkan kalau Dewi Setyowati sudah tahu suaminya paham bahasa binatang...saat berduaan dengan Prabu Anglingdarma, dan melihat pandangan suaminya tertuju di dinding yang ada 3 cicak sambil tersenyum-senyum...tentu beliau tahu, yang sedang ditertawakan oleh sang prabu adalah cicak itu...jika Prabu Anglingdharma mau menceritakan kelucuan apa yang diakibatkan oleh para cicak itu, tentu Dewi Setyowati akan ikut geli dan tertawa...

Mliwis Putih (makin terpesona dengan kecerdasan dan kebijaksanaan Renggowati): Ehm...benar juga ya...

Renggowati: Melihat begitu sedihnya derita nestapa Prabu Anglingdharma..apakah Dewi Setyowati itu cantik sekali...?

(Bergetar suara Mliwis Putih menjawab pertanyaan ini): Ya, beliau cantik sekali, baik budi bahasanya, pandai merawat suami dan sangat lembut pada para abdi...ah...beliau tidak ada duanya...

Renggowati (agak cemburu): Apakah jauh lebih cantik dari aku...

Mliwis Putih: Aaah..paduka juga cantik, dengan kecantikan yang berbeda...Paduka lebih tangkas dan blater..Dewi Setyowati, lebih pendiam...Sang Putri bagaimana di usia semuda ini Paduka bisa tumbuh begitu bijak?

Renggowati: Kanjeng Rama selalu menasehati aku...Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kalanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan...

Mliwis Putih: Wah..maknanya dalam sekali Sang Putri, bagaimana Paduka menyingkabi nasehat itu?

Renggowati: Mliwis Putih...Jikalau engkau telah mengetahui alam pribadimu, alam abadi itu pun menjadi dekat pada dirimu walaupun tanpa menyentuhnya, dan alam abadi itu akan jauh dari dirimu tiada yang membatasinya...jadi penting bagi kita mengenal diri kita sendiri, kemampuan kita..agar lebih semeleh..nrimo dan siap menerima keadaan apapun...

Mliwis Putih: Saya rasa, sebenarnya Prabu Anglingdharma itu cukup punya kesaktian untuk mengendalikan apa yang akan terjadi...tapi kenyataannya? Istri terkasihnya menjadi korban tragis dari sebuah takdir...

Renggowati: Mliwis Putih...Ora ana kasekten sing madhani pepesthen, awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake....Tiada kesaktian yang menyamai kepastian dari Tuhan, karena kepastian dari Tuhan itu tiada yang dapat menggagalkan....aah...aku jadi penasaran pengin tahu bagaimanakah wujud atau rupa Prabu Anglingdarma itu...apakah kamu bisa mewujudkannya Mliwis Putih ? ceritamu membuatku penasaran...

Mliwis Putih yang juga mulai tersentuh rasa kekagumannya pada kecerdasan dan kebijaksanaan sang putri, menjanjikan akan memenuhi keinginan Sang Putri dua purnama mendatang. Hal ini sesuai dengan sihir Widata, bahwa 1 tahun menjelang berakhirnya pengasingan Anglingdharma, sihir Mliwis Putih akan mewujudkan tubuh Anglingdharma saat malam tiba, hingga jambulnya dicabut oleh putri yang bisa mengandung putranya.

Syahdan dua purnama telah tiba. Anglingdharma yang telah berwujud belibis putih bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Setiap malam ia menemui Renggowati dalam wujud manusia. Mereka akhirnya menikah tanpa diketahui orang tua. Dari perkawinan itu Renggowati pun mengandung.

Darmawaseso heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat itu muncul seorang pertapa bernama Resi Yogiswara yang mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Renggowati.

Yogiswara mencurigai Mliwis Putih peliharaan sang putri yang mengenakan kalung serupa kalung Prabu Anglingdharma. Yogiswara kemudian menyerang Mliwis Putih peliharaan Renggowati. Setelah melalui pertarungan seru, Mliwis Putih kembali ke wujud Anglingdharma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim adalah untuk menjemput Anglingdharma yang sudah habis masa hukumannya.

Batik Madrim: Duh Sinuwun, mohon maaf keberanian hamba menyerang Paduka...jauh di dalam hati hamba sadar sedang berhadapan dengan raja gung binatara yang "Diobong ora kobong, disiram ora teles"...kesaktian Paduka sungguh jauh di atas kesaktian hamba.

Anglingdharma: Madrim, saatnya sudah tiba untuk aku pulih menjadi manusia seutuhnya. Dewi Renggowati adalah putri pilihanku pengganti adikmu Dewi Setyowati. Marilah kita kembali ke Malawapati Madrim. Kelak jika putraku lahir laki-laki...dialah yang akan meneruskan menjadi raja di Bojonegoro ini menggantikan eyangnya.

Anglingdharma kemudian membawa Renggowati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan kedua itu lahir seorang putra bernama Anglingkusuma, yang setelah dewasa menggantikan kakeknya menjadi raja di Kerajaan Bojonegoro.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya