Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Bhisma Gugur

Jumat, 24 April 2015

KISUTA.com - Pada hari kesepuluh, dengan menempatkan Srikandi di depan, Arjuna menyerang Bhisma. Ketika anak panah Srikandi menembus dadanya, amarah memancar dari mata Bhisma. Selama beberapa saat amarah kesatria tua itu membakar matanya. Matanya yang nyalang seakan-akan mau melumat Srikandi. Tetapi kakek tua itu berusaha menahan diri. Ia telah bersumpah untuk tidak melawan Srikandi, yang terlahir sebagai perempuan dan menyerang perempuan merupakan tindakan yang tidak pantas untuk kaum kesatria.

Namun demikian, ia tahu ajalnya sudah dekat. Ia berusaha menenangkan diri. Srikandi terus menyerangnya, tanpa mempedulikan gejolak batin yang dialami sang musuh. Arjuna juga menguatkan hati untuk terus menyerang kakeknya. Dari belakang Srikandi, ia membidikkan panah ke arah bagian-nagian tubuh yang lemah. Meskipun demikian, kesatria tua itu tetap bisa berdiri dengan tegak.

Bhisma justru tersenyum ketika panah-panah terus menghujani tubuhnya. Ia menoleh kepada Dursasana. Katanya: "Ini pasti panah-panah Arjuna! Bukan Srikandi. Panah-panah ini membakar tubuhku seperti anak-anak kepiting yang menjepit tubuh unduknya." Setelah berkata demikian, ia memperhatikan panah-panah murid kesayangannya. Kemudian ia mengambil tombak dan melemparkannya ke arah Arjuna. Serangan itu ditangkis dengan tiga panah Arjuna.

Kemudian, Bhisma memutuskan untuk segera mengakhiri pertempuran. Ia turun dari kereta dengan membawa pedang dan perisai. Hampir sekujur tubuh Bhisma tertembus panah Arjuna. Seperti pohon tumbang, Bhisma jatuh roboh ke tanah. Ketika ia roboh, dewa-dewa menyaksikan dari langit. Mereka menundukkan kepala, mengatupkan kedua telapak tangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Bhisma. Kemudian, tersebar bau harum dan hujan turun membasahi seluruh medan Kurusetra.

Demikianlah, Bhisma yang mulia dan terpuji, putra Gangga, gugur. Bhisma yang terlahir di dunia untuk menyucikan diri dari dosa-dosa masa lalunya telah melaksanakan kewajibannya dengan baik. Pahlawan tanpa cela yang tanpa diminta mengingkari diri sendiri untuk kebahagiaan ayahnya, ahli panah tak terkalahkan yang menundukkan keangkuhan Rama, pejuang yang tidak pernah mementiongkan kepentingan diri demi kebenaran menuntaskan kewajibannya kepada Duryudana. Ia terbaring sekarat dengan darah mengucur menyucikan padang Kurusetra. Ketika Bhisma jatuh, semangat perang pasukan Kurawa turun drastis.

Badan Bhisma tidak menyentuh tanah, karena panah-panah yang menembus sekujur badannya. Tubuhnya memancarkan cahaya yang jauh lebih terang daripada badannya sementara ia terbaring ditopang panah-panah yang menembusi badan. Kedua belah pihak menghentikan pertempuran. Semua orang berlari mendekati Bhisma. Mereka mengelilingi pahlawan besar itu. Para raja berdiri dengan kepala menunduk di sekeliling Bhisma, seperti para dewa di sekeliling Batara Brahma.

Kata Bhisma: "Kepalaku terkulai, tidak beralas."

Para raja yang berada di sekitar segera berlari dan membawakan bantal. Tapi kesatria tua itu menolak dengan tersenyum dan menoleh kepada Arjuna. Katanya: "Cucuku, Partha, berikan aku bantal yang pantas untuk seorang kesatria."

Ketika Arjuna, yang panah-panahnya menembus sekujur tubuh kakeknya, mendengar permintaan itu, ia segera mengambil tiga anak panah dari kantong panah. Ia tancapkan ketiganya di tanah sehingga menopang kepala Bhisma.

Kata Bhisma kepada para raja yang mengelilinginya: "Tuan-tuan sekalian, apa yang dilakukan Arjuna sungguh tepat. Aku senang dengan bantal ini. Sekarang, aku harus berbaring sampai matahari terbenam. Setelah itu, barulah aku meninggalkan jasad ini. Sepeninggalku, mungkin di antara kalian ada yang akan menyusulku. Sampai bertemu kembali."

Kemudian, Bhisma menoleh kepada Arjuna dan berkata: "Aku haus sekali. Berilah aku minum."

Arjuna segera merentangkan busur dan mengarahkannya di dekat kepala Bhisma. Ia bidikkan panahnya dalam-dalam ke tanah di sisi kanan Bhisma. Ketika panah itu dicabut, dari lubang menyembur air jernih, tepat mengenai bibir kesatria yang sekarat itu. Kata sang Begawan, Gangga sendiri hadir dan memberikan minum sepuas-puasnya pada putra terkasihnya. Kesatria itu minum sepuas-puasnya.

Kemudian kepada Duryudana, ia berucap: "Duryudana semoga engkau bisa memetik pelajaran dari semua yang telah terjadi. Apakah engkau melihat bagaimana Arjuna memberiku air minum yang jernih untuk memuaskan dahagaku? Siapa lagi yang bisa berbuat seperti itu? Segeralah berdamai dengannya. Semoga kematianku menandai berakhirnya perang ini. Dengarkan aku, Cucuku, berdamailah dengan Pandawa."

Tetapi hati Duryudana telah membatu. Bahkan, saat sekarat sekalipun, orang yang sakit tidak akan suka minum obat. Semua menolak rasa pahitnya.

Semua raja kembali ke perkemahan mereka.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya