Sang Hyang Wenang
KISUTA.com - Fajar menyiratkan keindahan alami di Pulau Dewa. Pohon-pohon yang bertunas hijau muda tampak segar dan subur dengan buah-buh mulai masak bergelantungan menggugah selera. Penduduk pulau dewa, yang kebanyakan terdiri atas bangsa Jin, hidup tenteram dan damai, mereka sangat mencintai dan meghormati kepemimpinan Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang adalah merupakan putra Sanghyang Nurrasa, putra Sanghyang Nurcahya, putra Nabi Sis, putra Nabi Adam...jadi kalau secara silsilah Sang Hyang Wenang bisa dikatakan sebagai cicit Nabi Adam.
Lama-kelamaan rasa kasih dan hormat bangsa Jin menjadi berlebihan, dan mereka mulai memuja Sang Hyang Wenang layaknya Tuhan. Hal ini didengar oleh Nabi Sulaiman pemimpin Bani Israil. Para pengikut Nabi Sulaiman mendesak supaya Sang Hyang Wenang diberi hukuman. Nabi Sulaiman pun mengirim panglimanya yang bernama Jin Sakar untuk menyerang Pulau Dewa.
Jin Sakar segera menemui Sangh Hyang Wenang untuk memenuhi perintah Nabi Sulaiman.
Jin Sakar: Wenang...apakah sudah sedemikian tingginya derajatmu, hingga kau biarkan kawulamu memujamu layaknya menyembah Tuhan yang Maha Agung...
Sang Hyang Wenang: Aah...Jin Sakar, jangan salah mengerti..mereka hanya menunjukkan rasa hormat dan darma bakti...tak lebih dari itu...tidak ada salahnya memiliki panutan agar mereka memiliki arah...dan sebagai pemimpin, adalah suatu penghargaan jika aku bisa menjadi panutan mereka. Itu justru membuatku lebih hati-hati dalam bersikap dan bertindak...
Jin Sakar: Hemm...apakah kamu mau pamer bahwa di Pulau Dewa ini kamu tak ada duanya?
Sang Hyang Wenang: Ooo Jin Sakar, jangan salah mengerti...Pamer cemer, gemendung glundung...aku tidak akan pamer karena itu bisa mengurangi harga diri, aku juga tidak ingin menjadi congkak dan tinggi hati, karena itu bisa tergelincir.
Jin Sakar: Kalau begitu, mengapa kau biarkan rakyatmu memujamu?
Sang Hyang Wenang: Biarkan semuanya mengalir dalam hari-hari yang berjalan...kalau rakyatku masih bisa mempercayai aku dan memuja aku, berarti tindakan dan kepemimpinanku masih bisa mereka terima..semakin beragam jumlah rakyat di bawahku, sepertinya tidak masalah kalau ada jenjang kepemimpinan dan ketaatan pada para pemimpinnya...
Jin Sakar: Apakah ada niatan di hatimu untuk menjadikan dirimu seperti Tuhan yang disembah-sembah?
Sang Hyang Wenang: Aduuuh...jangan tuduh aku seperti itu...jauh dari persangkaanmu kisanak.
Jin Sakar tidak percaya pada penjelasan Sang Hyang Wenang terjadilah perang tanding yang hebat di antara mereka. Jin Sakar adalah panglima jin yang sakti, namun kali ini lawannya adalah Sang Hyang Wenang sendiri...3 hari 3 malam mereka bertanding, guruh, guntur, angin topan menderu mengiringi peperangan mereka. Akhirnya Jin Sakar berhasil dikalahkan Sang Hyang Wenang. Jin Sakar dikirim balik untuk mencuri rahasia kesaktian Nabi Sulaiman, yaitu Cincin Maklukatgaib pemberian Tuhan. Setelah berhasil mencuri cincin tersebut, Jin Sakar kembali ke Pulau Dewa, namun Cincin Maklukatgaib jatuh tercebur ke dasar laut.
Nabi Sulaiman jatuh sakit setelah kehilangan cincinnya. Berkat doanya yang tekun, ia pun memperoleh kesembuhan. Pulau Dewa tempat Sang Hyang Wenang dipasangi tumbal sehingga meledak dan hancur menjadi pulau-pulau kecil. Sang Hyang Wenang sendiri bahkan sampai mengungsi ke dasar laut.
Di dasar laut, Sang Hyang Wenang dibantu oleh sukma almarhum ayahandanya Sang Hyang Nurasa manuksma yang akhirnya menjadi satu jiwa dengan anaknya. Namun sebelumnya, Sang Hyang Nurasa mewariskan pusaka kerajaan berupa Kitab Pustaka Darya, Kayu Rewan, Lata Mausadi, Cupu Manik Astagina dan Cupu Retnadumilah. Selain itu, Sang Hyang Wenang juga diberi kuasa atas Tirta Kamandanu, yaitu air suci untuk meredakan kekacauan alam di dunia seperti misalnya: badai, gempa bumi, gunung meletus dan sebagainya.
Seiring dengan berjalannya waktu, Nabi Sulaiman wafat karena usia tua. Sang Hyang Wenang, kembali ke darat, beliau membangun kahyangan di pecahan pulau dewa. Kahyangan itu diberi nama Kahyangan Ardi Tunggal. Di kahyangan itu beliau hidup tenteram dan damai. Ia menikah dengan Dewi Saoti, putri Prabu Hari raja negara Keling. Dari perkawinan tersebut ia dianugerahi tiga putra, yaitu; Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Ening dan Dewi Suyati. Pada saatnya, Sang Hyang Wenang mewariskan Kahyangan itu pada putranya Hyang Tunggal.
Sang Hyang Wenang: Ngger anakku Hyang Tunggal...ingatlah, saat mengemudikan kepemimpinanmu...Natas, nitis, netes...Eling Sangkan Paraning Dumadi, Ngger...manusia berasal dari Allah, dan pada saatnya nanti akan kembali kepada-Nya. Maka dari itu, setiap orang harus selalu mengingatnya. Caranya, antara lain, dengan menghindari perbuatan buruk dengan berpegang pada petunjuk lengkap yang diturunkan lewat para nabi. Semua itu dilakukan lantaran setiap orang juga harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya kepada Sang Maha Kuasa.
Hyang Tunggal: Sendika dawuh Rama...semoga ananda tidak mengecewakan kanjeng Rama.
Sang Hyang Wenang: selain itu anakku...sebelum aku moksa, manunggal dengan jiwamu...jangan berhenti menyebarkan ajaran luhur ... Darbe Kawruh Ora Ditangkarake, Bareng Mati Tanpa Tilas.... ilmu itu sesungguhnya milik Allah, dan manusia hanya sekadar nggaduh (dipinjami) untuk digunakan sebaik-baiknya bagi kemaslahatan umat manusia. Oleh karena itu, orang yang berilmu, seyogianya membagi ilmu pengetahuannya kepada orang lain, jangan disimpan untuk diri sendiri. Dengan mengamalkan ilmu, manfaatnya akan membantu banyak orang.
Sebaliknya, jika ilmu itu digenggam sendiri, sama halnya tidak mempunyai tanggung jawab kepada Allah atas pinjaman yang diberikan kepadanya. Apabila kelak dirinya meninggal, orang tidak akan menghargainya karena yang bersangkutan juga tidak pernah memberikan kebaikan (jasa) kepada masyarakat luas.
Seusai memberikan wejangan kepada putranya...Sang Hyang Wenang moksa...Walaupun semuanya sudah diwariskan kepada anaknya, Sang Hyang Wenang yang berupa Roh dan Jiwa tidak mati, ia hidup sepanjang masa. Dalam pewayangan rupa Sang Hyang Wenang digambarkan dalam wujud manusia kerdil tidak sempurna. Dan di situlah maknanya bahwa dalam ketidaksempurnaan tersebut, ada kesempurnaan yang hidup di dalamnya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


