Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Karna dan Sang Kakek

Minggu, 26 April 2015

KISUTA.com - Ketika mendengar kabar bahwa Bhisma sekarat, Karna segera lari mendekat. Ia bersimpuh di dekat kaki kesatria tua itu dan berkata: "Sesepuh bangsa Bharata, aku anak Rada yang selalu membuatmu kesal dan marah karena dungu bersujud di depanmu."

Setelah memberikan penghormatan Karna berdiri. Sang kakek terharu melihat tindakan Karna. Ia ulurkan tangannya untuk membelai kepala Karna. Katanya dengan penuh rasa sayang: "Anak muda, engkau bukanlah anak Rada. Engkau adalah anak sulung Dewi Kunti. Narada, yang mengetahui semua rahasia di dunia ini, sendiri mengatakan kepadaku. Putra Batara Surya, aku tidak pernah membencimu. Aku hanya sedih melihatmu yang makin hari semakin mermbenci Pandawa tanpa alasan. Aku tahu serta mengagumi keberanian serta keterbukaan hatimu. Aku juga tahu dalam hal ketangkasan olah senjata, engkau setara dengan Palguna atau Krishna. Sebaiknya kau berdamai dengan Pandawa, apalagi kau adalah saudara sulung mereka. Dengan usainya tugasku dalam perang ini, aku berharap permusuhanmu dengan Pandawa juga selesai. Aku berharap demikian, Karna."

Karna mendengarkan dengan penuh hormat dan menjawab: “Kakek, aku tahu aku anak Dewi Kunti dan bukan anak sais kereta. Tapi, aku sudah makan asam garam Duryudana. Aku harus menepati janjiku padanya dan setia pada jalan hidupku. Sekarang, aku tidak mungkin kembali kepada para Pandawa. Izinkan aku membalas budi kepada Duryudana atas cinta dan kepercayaan yang ia berikan. Aku telah banyak berkata dan bertindak menyakiti hatimu, mohon maafkan aku. Mohon restumu.”

Kesatria besar, yang paham benar apa yang baik dan buruk, merenungkan sebentar kata-kata Karna. Jawabnya: “Lakukan apa yang kau ingin lakukan, karena itu memang benar.”

Bahkan ketika Bhisma berbaring sekarat, perang masih terus berlanjut. Tidak mengindahkan nasihat sesepuh, Kurawa melanjutkan peperangan.

Kehilangan Bhisma, pasukan Kurawa seperti kawanan ternak yang kehilangan penggembalanya. Bahkan ketika Bhisma terbaring sekarat, orang-orang berteriak-teriak: “Wahai Karna, hanya engkaulah yang bisa memimpin dan melindungi kami.”

Bala tentara Kurawa yakin jika Karna setuju untuk memimpin mereka, kemenangan pasti di tangan mereka. Selama Bhisma memimpin pasukan Kurawa, putra Batara Surya itu menyisihkan diri dari peperangan. Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, karena tersinggung dengan kata-kata Bhisma, Karna berkata:

“Selama engkau memimpin bala tentara Kurawa, aku tidak akan angkat senjata. Jika engkau bisa membunuh Pandawa dan membawa kemenangan bagi Kurawa, aku akan ikut senang. Aku akan meninggalkan istana dan dunia ramai untuk bertapa. Tapi jika engkau tewas, aku –yang engkau katakan bukan anak sais kereta—akan memacu keretaku dan bertempur melawan orang-orang yang engkau anggap lebih mumpuni dalam olah senjata daripada aku. Aku akan kalahkan mereka dan membawakan kemenangan untuk Duryudana.”

Demikianlah sumpah Karna, dan dengan sepengetahuan Duryudana menyisihkan diri selama perang sepuluh hari pertama. Sekarang, dengan berjalan kaki ia menghadap Bhisma yang berbaring menantikan ajal. Ia menghaturkan hormat dan berkata:

“Kakek yang kumuliakan, engkau yang telah mengalahkan Parasurama sekarang harus terbaring di medan laga karena panah Srikandi. Jika engkau –yang telah mencapai puncak kehidupan yang benar dan hdupmu merupakan simbol keurnian hidup—harus terbaring di medan laga dengan luka-luka seperti ini, pastilah tidak ada orang di dunia ini yang bisa meraih apa yang patut ia dapatkan karena jasa dan pengabdiannya. Ibarat kapal, engkau adalah tumpangan para pangeran Kurawa dalam melewati badai masalah. Kematianmu pasti akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi para Kurawa. Seperti api dan angin yang membakar hutan, Arjuna dan Krishna pasti akan menghancurleburkan pasukan Kurawa. Aku yakin itu. Kakek yang kumuliakan, pandanglah aku. Berikan restumu untuk memimpin pasukan Kurawa.”

Bhisma memberikan restunya kepada Karna. Katanya: “Engkau ibarat tanah subur, engkau ibarat hujan yang memberi harapan pada benih. Engkau selalu bisa diandalkan dan setia menepati janjimu. Bantulah dan selamatkan Duryudana. Engkau telah mengalahkan bangsa Kamboja untuknya. Engkau taklukkan bangsa Kirata dari pegunungan Himalaya demi Duryudana. Engkau bertempur dan mengalahkan Giriwraja atas nama Duryudana. Dan masih banyak jasa lain yang telah kau berikan pada Duryudana. Pimpinlah bala tentara Kurawa sebagai milikmu yang paling berharga. Semoga engkau berhasil memimpin pasukan Duryudana. Semoga engkau selalu mendapat kemenangan. Bertempurlah melawan musuh-musuhmu.”

Setelah mendapat restu dari kakeknya, ia langsung meloncat ke dalam keretanya dan menuju medan perang. Ketika Karna yang gagah berani memasuki medan laga, Duryudana amat gembira. Kesedihannya karena kehilangan Bhisma sedikit banyak berkurang.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya