Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Sanghyang Rudra

Senin, 27 April 2015

KISUTA.com - Kahyangan Ondar Andir Bawana berduka...angin serasa berhenti berbisik, tanaman layu, dahan meranggas...Hyang Tunggal merasa kuwung, istri tercintanya Dewi Rekatawati moksa, hilang di kasedan jati, dan hanya bisa muncul dalam sukma tanpa wadag.

Sejak melahirkan telur, dan kedua putranya menjadi rusak wujudnya menjadi Semar dan Togog, sepertinya Dewi Rekatawati menyimpan duka di sanubarinya...hingga duka itu menelannya, menghapuskan badan wadagnya.

Dengan pertimbangan bahwa Kahyangan Ondar Andir Bawana harus kembali disemarakkan kehadiran para Dewa, maka Sanghyang Wenang menjodohkan Hyang Tunggal dengan Dewi Dremani putri Sanghyang Darmajaka kakak Sanghyang Wenang.

Dari pernikahan kedua ini Sanghyang Tunggal, memiliki 3 anak: Bathara/Sanghyang Rudra, Bathari Darmastuti dan Bathari Dewanjali. Sejak tumbuh sebagai remaja hingga dewasa Sanghyang Rudra berwatak keras, mau menang sendiri dan angkara murka. Rasa iri dengki nya pada Hyang Manikmaya yang mewarisi Kahyangan Jonggring Salaka, membuatnya mengumbar angkara murka seakan menantang keluarga besarnya. Karena sifat dan perwatakannya itulah Sanghyang Rudra sering turun ke Arcapada, menjelma sebagai raksasa dan melakukan perkawinan gandarwa dengan para raseksi yang kemudian melahirkan para raksasa sakti karena mendapat ilmu kesaktian darinya.

Apa yang terjadi dengan saudara tirinya ini membuat Hyang Tejamaya yang sekarang beralih rupa sebagai Togog, menjadi masgul hatinya. Pada suatu senja diajaknya Hyang Ismaya Semar berembug.

Togog: Rudra semakin menjadi-jadi...kita tidak bisa tinggal diam.

Semar: Iya...tapi kita harus "angon mangsa"...menunggu waktu yang tepat untuk bertindak...bagaimanapun juga Rudra itu saudara tiri kita...dia juga anak Rama Hyang Tunggal.

Togog: Justru karena itu, kita punya tanggung jawab. Anak itu "Durung pecus keselak besus". Belum matang ilmunya, sudah banyak maunya...sangat berbahaya kalau diumbar...dan kita juga berdosa kalau tidak mencegah meluasnya angkara murkanya. Karena dia saudara kita.

Semar: Jadi, apa yang akan kakang lakukan...?

Togog: Kalau bisa diajak ngomong baik-baik ya kita sadarkan...kalau tidak bisa, apa boleh buat kita mewakili rama menumpas angkara murka.

Dengan Tekad bulat Togog dan Semar menemui Sanghyang Rudra, mencoba menasehati, untuk mencegahnya mengumbar angkara murka, berpesta maksiat, meninggalkan keturunan dalam wujud yaksa, denawa, raksasa liar yang tidak dididik patrap dan tata krama. Sanghyang Rudra tidak mau mendengarkan nasehat kakak-kakak tirinya, akhirnya terjadilah perang tanding Sanghyang Rudra dengan Sanghyang Tejamaya, wajah lain dari Togog ketika berubah wujud menjadi dewa saat memerangi angkara murka.

Samudra bergolak, Angin menderu, Gunung meletus, guntur ber sahut sahutan, demikian hebatnya pertarungan antara kedua dewa itu, setelah berlangsung 7 hari 7 malam, akhirnya Sanghyang Tejamaya, berhasil memiting leher Sanghyang Rudra.

Tejamaya: Rudra, menyerahlah...bersumpahlah akan kau hentikan lakumu yang mrosal,..berhentilah mengumbar maksiat seperti hewan yang tidak bisa menahan nafsunya...bertobatlah, sesali apa yang sudh engkau lakukan...Ingat, engkau saudaraku putra Sanghyang Tunggal tidak sepatutnya punya kelakuan kotor dan hina seperti itu...

Rudra: Hua..hahahaha...apa pedulimu..ini hidupku, jalani saja hidupmu..aku nikmat menjalani hidupku seperti ini...karena nafsuku memang besar, apa salahnya aku umbar...yang lain juga melakukan...urus saja urusanmu sendiri...

Tejamaya: Hhmm...lakumu seperti yaksa ...Kendel ngringkel, dhadag ora godhag...suaramu menggelar seakan keberanianmu sundul langit, tapi ketahuilah..sesungguhnya engkau seorang pengecut, yang melakukan angkara murka dan maksiat pada titah yang lebih rendah drajatnya darimu....kamu sudah diracuni iri dengki yang membuatmu berbuat untuk menaikkan harga diri dengan cara yang salah...baiklah, karena kamu sudah tidak bisa dieman..lebih baik engkau perlaya di tanganku...

Sanghyang Tejamaya meneruskan cekikannya ke leher Sanghyang Rudra...tiba-tiba musnahlah tubuh Sanghyang Rudra, berubah menjadi buih-buih yang berterbangan ke langit...sayup-sayup terdengar suara seperti kutukan...

"Kakang Tejamaya, kakang Ismaya...jangan kalian merasa telah melenyapkan aku. Wadag ku mungkin lenyap, tapi sukmaku akan hidup sepanjang zaman. Buih-buih sukmaku akan beranak pinak...aku akan masuk menitis ke janin setiap wanita yang dibuahi dari permainan nafsu semata...anak jadah, yang tidak diakui bapaknya...anak istri yang melayani suami orang lain...anak wanita yang menjual kehormatannya demi sekeping uang...aku akan menitis pada setiap jalma yang kehilangan jati dirinya, hilang kamanungsannya karena angkara murka...setiap orang yang diamuk kedengkian...manusia-manusia palsu yang pandai bersandiwara menutupi kebusukannya...orang yang ringan berdusta, bermain tipu muslihat, karena kepengecutannya menutupi kemampuannya yang tidak seberapa...hwahahaha...kalau engkau mau mencegah beranak pinaknya keturunanku...rawatlah para jalma sawantah itu sebagai momonganmu...tapi ingatlah sampai zaman ini kiamat...aku tidak akan berhenti menebarkan kebencian, maksiat dan keonaran...kalian akan berkejaran dengan aku...sebagaimana kebajikan akan selalu berperang dengan angkara murka!!!"

Tejamaya kaget melihat akibat perbuatannya. Dia menyesal telah mengakibatkan Rudra menjelma menjadi buih-buih angkara murka, maksiat dan kejahatan. Di hadapan Sanghyang Tunggal, dia sampaikan penyesalannya dan agar dendam kesumat Rudra tidak menimpa keturunannya Tejamaya alias Togog bersumpah wadat tidak beristri...dia meninggalkan Kahyangan Sataluri mengajak serta Bilung Sarawita anak pujannya turun ke Arcapada, untuk menjadi pamong para Raksasa, denawa, yaksa yang menjadi titisan Rudra, guna mencegah kehancuran dunia sebelum kiamat.

Sepeninggal Tejamaya, Hyang Tunggal meminta Sanghyang Ismaya menikahi Dewi Kanestren putri Sanghyang Wening, saudara kembar Sanghyang Wenang...jadi Dewi Kanestren ini masih Bu Lik, atau bibi dari Sanghyang Ismaya..perjodohan ini dimaksudkan agar Ismaya tidak melakukan sumpah wadat seperti Tejamaya karena suatu kejadian.

Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti.

Pada saat Sanghyang Ismaya, memutuskan turun ke bumi untuk mengasuh para ksatria, Dewi Kanestren memutuskan mendampingi suaminya dan melepaskan seluruh atribut bidadarinya...Selanjutnya kalau Sanghyang Ismaya, memakai nama Ki Lurah Semar Badranaya tinggal di Karang Tumaritis, maka Bathari Kanestren berubah menjadi Simbok Lurah Sutiragen.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya