Batara Guru dan Dewi Uma
KISUTA.com - Hyang Tunggal di Kahyangan Ondar Andir Bawana gelisah. Sejak beberapa hari ini suasana di Kahyangan Ondar Andir Bawana tembus sampai ke Jonggring Saloka. Terasa miris. Cuaca seperti di bolak balik, angin menderu, petir dan guntur menyalak tanpa terduga. Hyang Tunggal waskita, sepertinya ada titah manusia di Arcapada yang sedang gentur semedi mengharapkan pertolongan Dewa. Akhirnya Hyang Tunggal memutuskan mencari siapa umat yang sedang bersemedi itu. Dan bertekad meluluskan permintaan umat tersebut untuk meredakan suasana di Kahyangan.
Alkisah seorang saudagar bernama Umaran, sedang bercengkerama dengan istrinya Dewi Nurweni, anak raja Jin dari kerajaan Gandarwa. Dewi Nurwedi sedang hamil tua. Akhirnya tibalah saat jabang bayi itu lahir dari rahim ibunya, ia bukan berupa bayi biasa, melainkan berujud segumpal cahaya merah yang segera melesat ke angkasa. Cahaya itu melayang ke sana kemari. Sang Ayah segera mengejar dan mencoba menangkapnya, tetapi selalu gagal. Akhirnya Umaran hanya bisa mengikutinya tanpa berhasil menangkapnya.
Setelah dikejar ke sana ke mari cahaya itu hinggap di puncak Gunung Tengguru. Di tempat itu saudagar Umaran lalu bersamadi, mohon pada Hyang Tunggal agar anaknya yang berujud cahaya itu dapat diujudkan menjadi bayi biasa. Namun, karena waktu itu ia tidak tahu, apakah anaknya yang berujud cahaya itu seorang lelaki atau perempuan, Umaran hanya memohon pengubahan ujud menjadi manusia, tidak peduli apakah lelaki atau perempuan. Do’anya terkabul. Cahaya ajaib itu menjelma menjadi bayi, tetapi memiliki kelainan. Bayi itu berkelamin ganda Setelah berujud bayi. Saudagar Umaran membawanya ke Kerajaan Merut dan diberi nama Umayi — yang artinya anak ibu. Umayi atau Dewi Uma, tumbuh sebagai gadis cantik tomboy yang lincah, gesit dan sakti mandraguna. Kesukaan ayahandanya bersemedi ternyata menurun pada Uma, sehingga kesaktian Uma saat rermaja sudah menyamai para dewa, akhirnya tumbuhlah kemegahan dirinya yang bercita-cita menjadi penguasa dunia.
Hyang Tunggal weruh sakdurunge winarah, waskita dengan ambisi Uma, dipanggilnya Hyang Girinata untuk mengatasi masalah ini.
Sanghyang Tunggal : Ngger Girinata...sepertinya sudah saatnya engkau memiliki sisihan, karena kakakmu Ismaya juga sudah menemukan jodohnya.
Sanghyang Girinata: Kanjeng Rama, lalu siapakah yang layak mendampingi hamba. Sedangkan tugas menjadi penguasa 3 dunia sedemikian beratnya..Mayapada, jagadnya para dewata, Madyapada jagadnya badan alus, dan Arcapada jagadnya badan wadag..tempat manusia dan satru wana berkembang biak....Jadi siapakah gadis yang layak mendampingi hamba Rama.
Sanghyang Tunggal: Hhmm..anakku di kerajaan Merut, sedang bertumbuh seorang remaja putri yang sakti mandraguna bernama Umayi, atau dipanggil sebagai Dewi Uma...sejak lahir, Uma sudah menunjukkan banyak kegaiban. Karena kesaktiannya, gadis ini sekarang sedang mengarah ingin menjadi penguasa dunia...taklukkanlah anakku. Kalau dia bisa engkau taklukkan, wanita seperti inilah yang layak mendampingimu.
Sanghyang Girinata segera berangkat menunaikan arahan ayahnya. Sementara itu, Dewi Uma merasakan kehadiran Hyang Girinata atau Batara Guru. Untuk menguji kesaktian Batara Guru, gadis itu mengubah ujudnya menjadi seekor ikan turbah dan terjun ke dasar samudra. Pada awalnya Batara Guru bingung karena tidak dapat segera menemukan gadis yang dicarinya. Namun setelah menggunakan kesaktiannya. ia tahu bahwa Dewi Uma sengaja mempermainkan dirinya dengan mengubah ujudnya menjadi ikan di dalam samudra.
Batara Guru segera memburu ikan jelmaan Dewi Uma itu di lautan. Waktu nyaris tertangkap, ikan itu menjelma kembali menjadi gadis cantik yang melesat terbang ke angkasa. Batara Guru menyusulnya. Terjadi kejar-mengejar di angkasa. Namun, setiap kali hendak tertangkap Dewi Uma selalu saja dapat meloloskan diri karena kulit tubuhnya yang halus itu amat licin bagaikan belut. Dengan begitu, usaha Batara Guru meringkus gadis cantik yang lincah dan sakti itu selalu gagal.
Karena kesal dan penasaran. Batara Guru lalu mohon pada ayahnya. Sang Hyang Tunggal, agar ia diberi tambahan sepasang tangan supaya dapat menangkap Dewi Uma. Permohonannya terkabul. Seketika itu juga tumbuh dua tangan baru di bahu Batara Guru, sehingga sejak itu dewa itu bertangan empat. Setelah bertangan empat, barulah Dewi Uma dapat ditangkap.
Sebagai hukuman, karena merasa kesal Batara Guru mencabut semua kesaktian yang dimiliki Dewi Uma. Batara Guru lalu meruwat gadis itu sehingga alat kelamin prianya hilang, dan hanya tersisa alat kelamin wanitanya saja.
Sanghyang Girinata: Umayi, sekarang engkau tidak beda dengan wanita sempurna pada umumnya. Untuk memenuhi harapanmu menjadi penguasa dunia, maukah engkau mendampingi aku sebagai permaisuri Jonggring Saloka.
Uma: Pukulun, semua kesaktian hamba sudah paduka lolosi, tetapi tidak masalah karena cacat hambapun sudah paduka ruwat. Hamba bersedia mendampingi paduka, namun penuhilah dua permintaan hamba sebagai permaisuri pendamping paduka.
Sanghyang Girinata: Apa permintaanmu itu Uma?
Uma: Ijinkan hamba memenuhi harapan wanita setia yang disakiti hatinya oleh suaminya, ketika mereka bersemedi menyebut nama hamba untuk mendampingi doanya pada Hyang Widi Wasa...
Sanghyang Girinata: Hhmm, permintaanmu tidak berlebihan, tapi bisa berbahaya jika tidak ada batasannya Uma...
Uma: Kalau paduka luluskan, apakah batasannya?
Sanghyang Girinata: Semedi wanita yang bisa engkau bantu hanyalah semedi Istri yang Setia...dengan syarat...Dia didzolimi oleh suaminya, karena akhlak dan moral si suami itu sendiri yang memang bermasalah sehingga menyebabkan kesakitan pada jiwa dan raga si istri...istri yang bersuamikan laki-laki yang:
1. Micekake wong melek = Orang yang tidak malu atas perbuatannya yang tidak baik, dia anggap semua orang itu buta, tidak tahu akan perbuatannya yang tercela, dia lupa bahwa tinggal tunggu waktunya semua terkuak.
2. Ilang jarake, kari jaile = Orang yang sudah kehilangan sifat baik, yang ada hanya mengembangkan iri dan dengki.
3. Anjabung alus = Orang yang pandai merangkai kata-kata memutar balikkan keadaan serupa menipu dengan cara halus.
4. Keplok ora tombok = Orang yang suka mengkritisi dan mencela orang lain tetapi tidak punya niatan untuk membantu, apalagi mencari jalan keluar dari masalah.
5. Merak kecancang = Bergaya anggun bak burung merak, hanya memperhatikan penampilan, citra dirinya sampai lupa berbuat yang sesuai dengan tanggung jawab dan kewajibannya.
Uma: Cukup dengan panca kalikasan ala itu saja pukulun..jangan banyak-banyak batasannya....(Dewi Uma merajuk manja)
Sanghyang Girinata: Baiklah...sudah aku penuhi permintaanmu yang pertama, lalu..apa permintaanmu yang kedua.
Uma: Hamba adalah permaisuri Sanghyang Girinata penguasa tiga alam semesta...hamba mohon, setiapkali paduka menyentuh hamba, layangkanlah doa khusuk, agar anak yang akan lahir dari hubungan hamba dan paduka, memiliki kekuatannya masing-masing untuk membantu paduka dan hamba, mengendalikan alam semesta.
Sanghyang Girinata menyanggupi permintaan itu, yang dirasakannya sebagai salah satu bukti kecerdasan dan keanggunan Uma sebagai calon permaisuri Raja Dewa. Akhirnya Dewi Uma pun menjadi pendamping Hyang Girinata.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


